Music at Newsroom

Dialog Dini Hari soal Musik, Lingkungan dan Reklamasi Bali

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Rabu, 21/02/2018 06:57 WIB
Dialog Dini Hari soal Musik, Lingkungan dan Reklamasi Bali Dialog Dini Hari banyak bicara soal isu lingkungan dalam album musiknya. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bukan hanya aktivis lingkungan, musisi di Pulau Bali juga ikut beraksi menolak reklamasi Teluk Benoa. Band Dialog Dini Hari termasuk salah satu musisi yang menolak reklamasi.

"Bicara reklamasi itu kan masalah lingkungan, kalau ada masalah politik di belakang itu kami enggak tahu dan enggak mau tahu. Yang jelas kalau bicara nurani, kami menolak hal-hal yang merusak lingkungan," kata vokalis Dadang Pranoto kepada CNNIndonesia.com.

Rencana reklamasi Teluk Benoa sudah bergulir sejak pemerintah mencabut Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2014 yang mengubah status Teluk Benoa dari kawasan konservasi menjadi kawasan pemanfaatan. Sudah lebih dari empat tahun penolakan disuarakan sebagian besar masyarakat adat Bali.



Dialog Dini Hari sendiri bukan band yang mendadak peduli lingkungan karena ramai isu reklamasi. Mereka sudah lama memikirkan isu itu. Pada album perdana bertajuk Beranda Taman Hati, mereka membuat lagu dengan tema lingkungan, salah satunya Bumiku Buruk Rupa.

Secara garis besar, lagu itu menceritakan kondisi Bumi yang semakin buruk karena ulah manusia. Mulai dari manusia yang tak menjaga Bumi sampai sumber daya alam yang menipis.

Bagi Dialog Dini Hari, lingkungan merupakan tanggung jawab semua orang yang tinggal di Bumi. Bukan hanya aktivis atau pecinta alam yang bisa bicara soal itu, tetapi juga musisi.


"Jadi, lagu dengan tema lingkungan itu sebenarnya hal sederhana, semua orang dimana-mana berbicara lingkungan. Tapi kami punya band sebagai media menyampaikan soal lingkungan," kata Dadang.

Dadang melanjutkan, "Bagi kami, masalah lingkungan saat ini masalah semua orang. Lagu Bumiku Buruk Rupa, wajar karena lingkungan yang kita tempati kadang bagus kadang tidak, banyak hal-hal yang enggak benar."

Berbagai aksi, baik di Bali dan Jakarta, dilakukan masyarakat, aktivis maupun musisi agar reklamasi yang akan digarap PT. Tirta Wahana Bali Internasional dihentikan. Namun sampai sekarang belum ada kejelasan dari rencana reklamasi itu.


Alih-alih, sempat beredar isu bahwa penyelenggara acara yang mengundang musisi penolak reklamasi sulit mendapat izin keramaian dari kepolisian. Dadang tidak 'termakan' oleh isu itu. Ia mengatakan, beberapa musisi di Bali tetap tegas menolak reklamasi dan bersedia melakukan cara lain bila memang tak bisa lagi bersuara lewat musiknya.

"Yang lebih terkendala biasanya penyelenggara acara, karena mereka ditekan supaya tidak berbicara hal-hal yang berkaitan dengan reklamasi. Kami cuek saja," kata Dadang.

Reklamasi Teluk Benoa direncanakan akan menjadi kawasan resor wisata mewah bertaraf internasional. Ini dilakukan dengan cara mengeruk pasir Teluk Benoa dan membangun 12 pulau baru dengan total lahan seluas lebih 800 hektar. Dikhawatirkan, itu merusak alam.

Dialog Dini Hari akan mengobrol bersama CNNIndonesia.com soal musik dan isu lainnya dalam Music at Newsroom, Rabu (21/2) pukul 14.00 hingga 15.00 WIB. (rsa)