Saksi Sejarah dari Balik Tangki Air

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 20/03/2018 16:10 WIB
Kamera Leica IIIF yang dipakai mendokumentasikan KAA pertama pada 1955, sebelumnya ditemukan di belakang tangki air pemilik James Press Photo. Inen Rusnan, salah satu fotografer di KAA pertama pada 1955, memamerkan kamera lawasnya. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kamera Leica IIIF yang ada di Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) punya sejarah panjang. Usianya hampir setua kemerdekaan Indonesia. Seri itu sudah ada sejak 1950-an.

Sebelum terpajang rapi di Museum KAA, kamera itu ditemukan di belakang tangki air dekat dapur rumah James AS Adiwijaya. Itu merupakan pemilik James Press Photo.

Dari belakang tangki air, kamera itu baru dipindahkan ke museum.


Kamera itu merupakan saksi sejarah. Ia mendokumentasikan salah satu peristiwa penting: Konferensi Asia Afrika I pada 1955. Adalah Inen Rusnan, sosok muda yang saat itu dipercaya menenteng kamera buatan Jerman itu. Inen juga saksi berkumpulnya para kepala negara.


"Silakan masuk," sapa Inen, kini usianya 81 tahun, saat CNNIndonesia.com mengunjungi rumahnya di gang sempit Hegar Sari II, Kecamatan Cipaganti, Kota Bandung.

Kulit Inen sudah keriput kini. Rambutnya sudah memutih. Inen tinggal bersama istrinya, Dede Kurniasiah (71). Meski begitu, memori pria kelahiran Jatinangor, Jawa Barat itu masih kuat. Ia masih bisa cerita soal foto-foto lawas yang dipajang di dinding rumahnya.

Soal dua foto Gedung Merdeka, lokasi penyelenggaraan KAA misalnya. "Kira-kira apa yang membedakan dua foto itu?" tanya Inen sembari menunjuk foto berlatar Gedung Merdeka.

Sekilas, tak ada bedanya. Hanya ada orang-orang yang ramai mendatangi gedung itu. Ternyata, jika diamati lebih dekat, satu foto bertuliskan 'Gedung Dewan Perantjang Nasional' sementara lainnya 'Gedung Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).'


Bukan hanya cerita itu yang ia ingat. Inen juga masih ingat bagaimana ia bisa ditugasi memotret KAA pada ajang pertamanya. Itu ada hubungannya dengan James AS Adiwijaya.

Inen pertama bertemu James pada 1943, saat ia pindah dari Sumedang ke Bandung untuk mendapat pekerjaan. Berasal dari keluarga sangat sederhana, ayah Inen menjadi asisten sopir bagi seorang Belanda bernama Van de Sande Droop. Sosok itu bermurah hati padanya.

Ia dan kakaknya dibantu Can de Sande Droop untuk sekolah. Selepas Van de Sande Droop meninggal, baru Inen bekerja untuk James. Usianya masih 15 tahun saat itu.

Itulah pertama kali ia mengenal fotografi. Ia ditugaskan di kamar gelap. Inen pun belajar mencuci dan mencetak film hitam putih. Dari situ, perlahan ia juga belajar foto. Inen pun sedikit demi sedikit mulai mendapatkan pekerjaan meliput dokumentasi berbagai acara.

[Gambas:Video CNN]

Selain mendokumentasikan acara, foto-foto hasil jepretan Inen juga dikirim kepada James yang membuka usaha fotografi untuk kebutuhan media massa di Bandung. Ketekunan, kejujuran dan kepatuhan Inen pada dunia fotografi membuat James mempercayainya jadi fotografernya.

Inen mendapat kamera pertamanya pada 1953, dari James.

Sejak itu, karya-karya James ada di banyak media massa. Pikiran Rakyat, Sipatahunan, Mangle, Bandung Post, Harian Karya dan media-media memuat hasil jepretannya. Selain itu, Inen juga menjadi sesi dokumentasi untuk Penerangan Angkatan Darat (Pengdam).

Fotonya termasuk momen peletakan batu pertama pembangunan Universitas Padjadjaran oleh Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Inen juga masih menyimpan foto Soekarno ketika mendapatkan gelar doktor dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 13 September 1962.


"Jadi, saya ini memotret untuk dokumentasi acara dan bekerja untuk agensi foto," katanya.

Salah satu acara itu: KAA 1955.

Inen ingat, tidak mudah memotret dokumentasi dengan kamera analog. Ia butuh banyak rol film, tak hanya tiga atau lima. "Di dalam tas ada 20 rol, saya tenteng pakai tas ke mana-mana. Kan tidak seperti zaman sekarang bisa dihapus tanpa rol (digital)," Inen tertawa.

Selain ditemani Leica IIIF, sebuah motor bertenaga 125 cc buatan Cekoslowakia juga setia mendampinginya berkeliling. "Motornya sudah tidak ada. Tapi kalau diingat, memang terasa gagah dengan membawa motor itu," ucap Inen soal motor yang lebih tua dari milik Dilan itu.


Inen masih menyimpan rapi hasilnya bekerja sejak 1950-an. Namun kebakaran yang melahap rumahnya pada 2003 lalu membuat ratusan foto dan film yang menjadi saksi sejarah pada era '50-an dan '60-an ludes terbakar. Hanya puluhan gambar yang bisa diselamatkan.

"Ini foto-foto [di dinding] yang bisa diselamatkan. Selebihnya masih ada beberapa kamera, rol dan foto disimpan di gudang tapi perlu biaya untuk merawatnya," ungkap Inen.

Hingga kini, Inen tak pernah melepas fotografi dari jiwanya. Ia tak menjadikannya ladang komersial. Inen lebih menganggapnya sebagai pekerjaan sukarela yang dilakukan dari hati.

Kalau dulu menenteng kamera analog ke mana-mana, Inen kini ditemani kamera saku digital yang perlahan mulai ia pelajari. "Ya, saya masih terus memotret. Walau terasa berbeda, belum bisa melepas kebiasaan dulu," kata Inen mengakhiri wawancaranya. (hyg/rsa)