Memopulerkan Karya Pram, Teater, Pameran sampai Film

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Rabu, 23/05/2018 18:52 WIB
Memopulerkan Karya Pram, Teater, Pameran sampai Film Karya-karya Pramoedya Ananta Toer tetap populer meski penulisnya telah wafat 12 tahun lalu. (Dok. Pribadi Pramoedya Ananta Toer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sastrawan Pramoedya Ananta Toer memang telah wafat sejak 12 tahun silam. Namun karya-karyanya masih terus dilestarikan hingga kini dengan pendekatan yang lebih modern.

Itu seakan mengamini kata-kata Minke, karakter yang diciptakan Pram dalam buku Bumi Manusia, "Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh di kemudian hari."

Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah karya tulis pria kelahiran Blora itu telah diadaptasi ke dalam pentas seni pertunjukan, mulai dari monolog hingga teater.



Salah satu yang gaungnya terdengar cukup besar adalah teater 'Bunga Penutup Abad,' yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia. Pementasan itu diperankan aktor dan aktris kenamaan Indonesia. Reza Rahadian sebagai Minke, Lukman Sardi sebagai Jean Marais, Chelsea Islan sebagai Annelies, Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh, dan Sabia Arifin sebagai May.

Kesuksesan pementasan yang digelar di Jakarta dan Bandung pada 2016-2017 itu kemudian mendorong Happy Salma yang juga menjadi produser untuk membuat pameran bertajuk 'Namaku Pram: Catatan dan Arsip.' Katanya, itu untuk melihat lebih dekat sosok Pram.

Pameran yang berlangsung sejak pertengahan April hingga 3 Juni 2018 itu menampilkan barang-barang keseharian dan kegiatan Pram yang sangat suka mencatat serta mengarsipkan segala sesuatu. Pameran itu didukung penuh oleh keluarga sang penulis sendiri.

Pramoedya Ananta Toer setelah kembali dari Pulau Buru.Pramoedya Ananta Toer setelah kembali dari Pulau Buru. (Dok. Pribadi Pramoedya Ananta Toer)
"Karya-karya Pram telah memberikan pengaruh besar dalam cara saya memandang dan menjalani hidup. Pameran ini salah satu bentuk rasa terima kasih saya untuk Pram yang secara tidak langsung menjadi guru hidup saya," katanya saat pembukaan pameran di Jakarta, April lalu.

Kini, novel Bumi Manusia akan dialihwahanakan menjadi film layar lebar. Rencana itu sebenarnya sudah digadang-gadang cukup lama. Sejak awal 2017 Hanung Bramantyo telah didapuk sebagai sutradara, dibantu Salman Aristo yang menjadi penulis naskahnya.

Oktober silam, Salman sempat berbagi soal perkembangan film Bumi Manusia. Saat itu dia mengatakan sedang dalam tahap praproduksi dan naskahnya sudah masuk draft ketiga. Namun untuk menyelesaikannya, menurut Salman, perlu proses panjang.

Reza Rahadian menjadi Minke dan Lukman Sardi sebagai Jean Marais saat main teater 'Bunga Penutup Abad.'Reza Rahadian menjadi Minke dan Lukman Sardi sebagai Jean Marais saat main teater 'Bunga Penutup Abad.' (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
"Ini mungkin salah satu draft satu terlama yang pernah saya kerjakan. Hanung juga beberapa kali bilang, 'Gue butuh waktu lagi nih,'" katanya.

Salah satu yang membutuhkan waktu lama adalah penentuan sudut pandang. Tak jarang, Salman mengakui, ia dan Hanung berselisih untuk sampai ke titik pemahaman yang sama.

Terbaru, film tersebut diketahui akan mulai masuk ke tahap produksi. Pihak rumah produksi Falcon Pictures akan mengenalkan set syuting film yang berlokasi di Desa Gamplong, Sleman, Yogyakarta serta para pemain yang terlibat, pada Kamis (24/5) besok.


Lokasinya itu sempat digunakan Hanung untuk produksi film Once Upon a Time yang baru selesai proses syuting, baru-baru ini. Namun publisis Falcon menyatakan bahwa akan ada set baru yang dibangun khusus untuk Bumi Manusia dan syuting dimulai Juli mendatang.

Hingga saat ini, para pemainnya masih dirahasiakan. Nama aktris Sha Ine Febrianti sempat disebut publisis terlibat. Diduga ia akan memerankan karakter Nyai Ontosoroh.

Ine sendiri diketahui telah mondar-mandir di panggung seni pertunjukan. Dia juga pernah menandai peran dalam sejumlah film seperti Beth, I Am Hope, dan Nay, film yang membuatnya diganjar nominasi piala citra Aktris Terbaik pada 2015.


Bumi Manusia merupakan buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pram yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada 1980. Buku ini ditulisnya ketika masih diasingkan di Pulau Buru bersama ribuan tahanan politik lainnya karena dicap sebagai Komunis.

Bumi Manusia bercerita tentang Minke, salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa. Namun Minke, selain anak pesohor, juga pribumi yang pandai. Ia sangat piawai menulis.

Melihat kondisi di sekitarnya, Minke tergerak untuk memperjuangkan nasib pribumi melalui tulisan, yang menurutnya membuat suaranya tidak akan padam ditelan angin.

Tetralogi Buru dari Pramoedya Ananta Toer.Tetralogi Buru dari Pramoedya Ananta Toer. (CNN Indonesia/Suriyanto)
Selain tokoh Minke, buku ini juga menggambarkan seorang 'nyai' bernama Nyai Ontosoroh.

Pada saat itu, nyai dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan. Status seorang nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Nyai Ontosoroh sadar betul akan kondisi itu dan berusaha keras belajar, agar dapat diakui sebagai seorang manusia.

Melalui buku itu, secara hidup Pram juga menggambarkan kondisi masa kolonialisme Belanda pada saat itu. Ia memasukkan secuil demi secuil detail ke dalam tulisannya sehingga mirip dengan kondisi aslinya dan bisa dijadikan salah satu referensi sejarah meskipun fiktif.


Sebab di masa itu, fakta tak bisa eksis. Dan seperti yang dikatakan Seno Gumira Ajidarma, "ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bersuara." Pram melakukan itu dalam bukunya.

Memopulerkan kembali karya-karya Pram diharapkan tidak hanya mengagumi buaian katanya secara sastra, melainkan juga mengenal sosoknya dan konteks di balik tulisan-tulisannya. (rsa)