Ismail Marzuki menghasilkan sejumlah lagu yang terinspirasi dari Bandung, yaitu Lenggang Bandung, Saputangan dari Bandung Selatan, Bandung Selatan di Waktu Malam, Ole! Ole! Bandung, dan Halo-Halo Bandung.
Sebagian dari lagu-lagu tersebut dipastikan merupakan karya Ismail Marzuki. Namun lainnya menimbulkan kontroversi, seperti Halo-Halo Bandung yang diragukan asli karya Ismail.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Ninok memberikan catatan pada lagu tersebut lantaran masih menimbulkan perdebatan akan keaslian karya Ismail Marzuki.
Lumban merupakan prajurit Siliwangi yang pergi ke Yogyakarta bersama peletonnya dan menyanyikan lagu ini.
Lumban sendiri disebut menggunakan ketenaran lagu Hallo Bandoeng karangan Willy Derby yang telah terkenal sebelumnya pada 1923.
[Gambas:Youtube]
Namun bila diperhatikan, dua lagu tersebut memiliki perbedaan yang mendasar dari segi melodi. Halo-Halo Bandung memiliki melodi mars yang mengundang semangat, berbeda dengan Hallo Bandoeng yang lebih lembut.
Di sisi lain, sapaan 'Hallo Bandung' sebenarnya sedang tren di periode tersebut karena kerap digunakan sebagai sapaan radio Kootwijk kepada masyarakat Bandung.
Kontroversi ini pernah ditanggapi oleh Eulis Zuraida, istri mendiang Ismail Marzuki, kala masih hidup. Eulis mengatakan lagu Halo-Halo Bandung diciptakan oleh Ismail Marzuki.
Wanita asal Bandung tersebut mengaku bahwa Ismail membuat lagu itu ketika dalam masa pacaran dengannya. Di masa tersebut, bersamaan dengan meletusnya Bandung Lautan Api yang diketahui terjadi pada 24 Maret 1946.
Eulis Zuraida, istri Ismail Marzuki mengaku 'Halo-halo Bandung' adalah ciptaan suaminya saat masih berpacaran dengannya. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
Rachmi Aziah, anak semata wayang Ismail Marzuki tak heran kala CNNIndonesia.com bertanya soal kontroversi ini.
"Kontroversi itu sudah lama saya dengar. Waktu itu ibu masih ada, saya tanya, 'Ibu, ini lagu ada di koran katanya bukan ciptaan Aa [panggilan akrab Ismail Marzuki]'," kata Rachmi.
"Kata ibu, 'Itu ciptaan Aa, suruh ke sini orangnya ngomong ke gue, enak aja. Orang itu [lagu dibuat] Aa sama Uu [ketika] lagi pacaran, setelah itu ada huru-hara Bandung Lautan Api'. Begitu katanya," paparnya.
Rachmi sebelumnya sempat mengaku memiliki partitur lagu Halo-Halo Bandung, namun kemudian ia baru ingat kalau sudah dititipkan ke sebuah lembaga arsip pemerintah yang berlokasi di Salemba, Jakarta Pusat.
Mencari Jejak Ismail Marzuki di Halo-Halo Bandung
CNNIndonesia.com kemudian mencoba menelusuri sejumlah lokasi yang memungkinkan partitur lagu wajib nasional tersebut tersimpan, yaitu Taman Ismail Marzuki dan Perpustakaan Nasional yang sebelumnya pernah berlokasi di Salemba.
Berdasarkan penelusuran di Taman Ismail Marzuki, tidak ditemukan partitur lagu Halo-Halo Bandung dalam koleksi yang ditunjukkan kepada CNNIndonesia.com.
Di sisi lain, pihak TIM juga belum pernah mendata secara pasti koleksi partitur yang sudah diberikan pihak keluarga.
Koleksi partitur Ismail Marzuki yang didata TIM. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
"Partiturnya satu buku. Lagi didigitalisasi. Mudah-mudahan bisa kami lakukan ya, karena kertasnya sudah lama. Teman-teman [TIM] mau bukanya juga tidak berani," kata Imam Hadi Purnomo, Kepala Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, saat ditemui CNNIndonesia.com, Mei 2018.
Imam menjelaskan bahwa berdasarkan catatan TIM, koleksi partitur tiba di pusat kesenian di Jakarta itu pada 2008 bersamaan dengan koleksi Ismail Marzuki lainnya seperti biola, album foto, dan jam meja.
Namun Imam menyebut sejak dari 2008 hingga saat ini, partitur yang telah di-laminating dan diberi nomor itu belum pernah diteliti. "Iya, kami khawatir itu [rusak]. Tapi ini kami mau digitalisasikan," katanya.
Melalui pencarian sistem Perpusnas yang dapat diakses publik, partitur lagu Halo-Halo Bandung karya Ismail Marzuki tidak ditemukan. Pun ketika mencoba meminta bantuan akses lebih lanjut oleh petugas.
Pencarian dengan kombinasi kata kunci "Bandung", "Ismail Marzuki", "partitur" dan "Halo-Halo Bandung" hanya menemukan karya Halo-Halo Bandung dalam bentuk audio berupa kaset dan cakram padat, dan sejumlah artikel lainnya.
Menurut sejumlah petugas Perpusnas yang ikut membantu pencarian, lembaga tersebut tidak menyimpan koleksi partitur dalam bentuk lembaran, melainkan berupa buku atau monograf yang sudah dipublikasi secara resmi.
Namun petugas Perpusnas RI yang enggan disebut namanya itu tidak memungkiri ada sejumlah koleksi yang belum terdata karena proses perapihan masih berlangsung di Salemba.
Masih ada beberapa lembaga lain yang berpeluang memiliki koleksi namun belum ditelusuri, seperti Arsip Nasional Republik Indonesia.
Terlepas dari 'kehilangan' jejak Halo-Halo Bandung dalam upaya pembuktian kontroversi tak terjawab tersebut, sejarawan dan wartawan senior yang pernah bertemu secara langsung oleh Ismail Marzuki, Alwi Shahab punya keyakinannya sendiri soal polemik ini.
"Saya yakin [Halo-Halo Bandung] itu lagunya pak Ismail, sebab cara-cara dia ngomong [penggunaan lirik] seperti gerakan ketika dia masih muda," lanjutnya. (end)
Eulis Zuraida, istri Ismail Marzuki mengaku 'Halo-halo Bandung' adalah ciptaan suaminya saat masih berpacaran dengannya. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Koleksi partitur Ismail Marzuki yang didata TIM. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)