"Tidak merasakan kesenangan, tidak merasakan embun di pagi hari, tidak merasakan nilai kebebasan, kemudian berlari bersama, ke sekolah bersama yang menyenangkan," kenangnya.
Setelah menyelesaikan bangku SMA, keresahannya semakin menjadi saat melihat tidak ada lagi anak-anak yang main seperti dirinya. Dia pun lantas mengembara, mencari tahu, dan meneliti seluk beluk permainan tradisional yang mulai dilupakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, dari sana saya makin menggelora. Saya seperti 'ini harus disampaikan,' dan makin lama makin menggali tentang permainan tradisional. Sampai saya masuk S2, saya mencari perubahan dan perkembangan permainan tradisional di Indonesia seperti apa, berubahnya di mana, perkembangannya seperti apa," paparnya.
Dari sana, lanjut Zaini, ia menemukan potensi dan nilai-nilai permainan tradisional yang harus disampaikan ke anak-anak. Temuan itu diteruskan sampai ia menempuh pendidikan S-3. Dalam strata ini, ia meneliti tentang transmisi permainan itu berlangsung, transmisi pendidikan melalui permainan, hingga ia pun menyandang titel sebagai 'doktor' permainan tradisional.
"Saya harap dapat memberikan manfaat ke banyak orang, salah satunya dengan membangun komunitas ini karena saya agak pesimistis waktu itu mainan di Indonesia akan ke sekolah-sekolah dengan terbatasnya waktu dengan target yang berbeda di kurikulum-kurikulum sekarang," ujarnya.
Dengan tekad itu, dia pun membuat beberapa komunitas serupa di beberapa wilayah dengan harapan dapat terus tersebar.
"Saya tidak ingin hanya buat satu tapi ibarat lampu menerangi semuanya, saya ingin membuat lilin saja, kecil-kecil tapi bisa menerangi di semua tempat," kata Zaini.
Di samping komunitas, Zaini juga membuat sebuah Museum Permainan Tradisional. Bagi Zaini, tempat itu perwujudan gengsi karena Indonesia punya begitu banyak jumlah permainan tapi tidak ada tempat untuk dapat mengakses informasinya.
Permainan tradisional seperti kelereng sudah jarang ditemukan. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas) |
Zaini lalu mengisahkan kala dirinya di Jepang dan mengisahkan temuannya atas nyaris 2.600 permainan tradisional di Indonesia, peserta seminarnya bertanya jumlah museum permainan tradisional yang dimiliki Indonesia.
"Karena mereka meski tidak punya banyak [permainan tradisional] tapi sudah punya tiga museum permainan tradisional, Singapura ada dua, dan Malaysia punya satu yang besar. Negara lain punya, sedangkan Indonesia tidak," katanya.
Oleh karenanya, ia pun membuat museum permainan tradisional yang khusus dalam ruangan berukuran 4x8 meter.
"Mudah-mudahan mewakili permainan tradisional indonesia yang menampung data 2.600 permainan dengan berbagai foto dan artefak bisa dikumpulkan," harapnya.
Di sisi lain, ia juga membuat buku ensiklopedia yang diharapkan dapat dibagikan secara gratis kepada anak-anak Indonesia. Tujuannya, agar semua keluarga memiliki data dan menjadikan buku itu sebagai panduan untuk bermain dengan cara menyenangkan.
Hingga kini, Zaini mengatakan dirinya masih terus melakukan penelitian tentang permainan tradisional dengan harapan kelak ia dapat menyandang gelar 'profesor' permainan tradisional.
"Saya berharap [bisa] memberi keyakinan kepada anak-anak, semua orang, kalau sesuatu -apapun itu- yang tidak dianggap berharga tapi bisa jadi permainan tradisional, kalau kita menyukainya dan mau mengamalkan untuk semua orang maka akan jadi hal bernilai di Indonesia," harap Zaini Alif. (end)
Permainan tradisional seperti kelereng sudah jarang ditemukan. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
Anak-anak TK kala berkunjung ke Komunitas Hong di Bandung. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Anak-anak TK asyik bermain permainan tradisional di Komunitas Hong. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)