Music at Newsroom

Reality Club Berkarya Dalam Keterbatasan

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 19/09/2018 14:00 WIB
Reality Club Berkarya Dalam Keterbatasan Reality Club terbentuk secara 'natural', bermula dari bermusik karena hobi, hingga kini mereka jadi nomine AMI Awards 2018. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Medio 2016, tiga anak muda asal Jakarta berkumpul untuk membuat band, mereka adalah Fathia Izzati (vokal), Era Patigo (drum) dan Mayo (bas).

Formasi itu dirasa kurang lengkap sehingga Fathia mengajak kakaknya, Faiz Novascotia Saripudin (gitar/ vokal) dan pacarnya, Iqbal Anggakusumah (gitar). Sejak itu mereka sepakat membentuk band bernama Reality Club.

Sayang, Mayo keluar setelah enam bulan terbentuk karena kesibukan pribadi. Selain tergabung dalam band lain, Mayo juga berprofesi sebagai pengacara.


"Dan saat itu Mayo mau menikah juga. Kami sama-sama mengerti saja," kata Cia, sapaan karib Fathia, saat berkunjung ke kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Cia menjelaskan kepergian Mayo tidak mengganggu proses kreatif dan jadwal penampilan Reality Club. Mereka tetap membuat musik dan menulis lirik dengan tujuan menghibur pecinta musik. Sampai akhirnya, mereka mengajak Nugi Wicaksono untuk menggantikan Mayo.

Perlahan tapi pasti Reality Club merilis lima single pada waktu yang berbeda-beda. Lima single itu adalah The Things I Don't Know, Fatal Attraction, Is It the Answer?, Okay dan Elastic Heart.

Dari lima single tersebut, mereka menawarkan lagu dengan tema yang sederhana dan nyaman untuk didengarkan. Band-band seperti The Strokes, Last Dinosaurs dan Arctic Monkey adalah inspirasi mereka dalam bermusik.

Namun secara tidak sengaja, mereka mengusung genre indie pop. "Mungkin karena ngalir juga sih, kami enggak benar-benar menentukan genre," kata Cia.

Reality Club. Reality Club, dari kiri ke kanan: Nugi, Era, Fathia, Iqbal. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Beruntung karya itu berbuah manis, nama Reality Club semakin meroket. Mereka sudah merasakan tampil di sejumlah festival musik di berbagai kota di Indonesia. Fan Reality Club pun bertambah dan memberikan respons positif.

Atas dasar itu, Reality Club percaya diri untuk membuat album. Padahal, kata Cia, awalnya Reality Club belum terpikirkan untuk membuat album. Album perdana bertajuk Never Get Better mereka rilis pada akhir 2017 lalu.

Album Never Get Better banyak mendapat respons positif dari pecinta musik. Layanan musik streaming Spotify mencatat pendengar bulanan Reality Club sebanyak 93 ribuan hingga kini.

Bulan lalu, Reality Club menorehkan prestasi dengan masuk dua nominasi Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2018. Reality Club masuk nominasi Pendatang Baru Terbaik Terbaik dan Karya Produksi Alternatif Terbaik lewat lagu Is It The Answer?.


Mereka tak pernah menyangka bisa masuk dua nominasi AMI Awards. Era mengingat semua lagu itu dibuat dengan keterbatasan. Kala itu mereka tidak memiliki uang sehingga tak mampu rekaman di studio. Akhirnya, kamar Faiz disulap menjadi studio rekaman.

"Akhirnya kami beli soundcard dengan harga sekitar Rp2,5 juta dan rekaman rekaman di kamar Faiz. Semua alat musik rekam di sana, kecuali drum," kata Era.

Penampilan Reality Club bisa disaksikan dalam CNNIndonesia.com Music At Newsroom pada Rabu (26/9) pukul 14:00 hingga 15:00 WIB. (adp/end)


BACA JUGA