Avril Lavigne, 'Punk Princess' yang Didewasakan Kehidupan

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 23/09/2018 15:43 WIB
Avril Lavigne, 'Punk Princess' yang Didewasakan Kehidupan Vakum selama lima tahun, Avril Lavigne merilis lagu baru. 'Head Above Water' menuturkan ketakutannya menghadapi kematian. (Neilson Barnard/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Avril Lavigne merilis single terbaru setelah lima tahun vakum. Ternyata, penyanyi 33 tahun itu sedang berjuang melawan sakit Lyme.

Penyakit Lyme disebabkan oleh bakteri dan ditularkan dari perantara kutu, meski di beberapa lokasi juga disebarkan oleh tikus, serta menyerang manusia dan hewan. Kutu bernama Ixodes scapularis ini umumnya menghisap darah korbannya.

Di awal kemunculan di tahun 2000-an, ketika musik dan gaya emo mulai merambah Indonesia, Lavigne tampil bergaya punk princess.


Video musik Sk8er Boi meledak, demikian pula dasi kecil di atas tank top, sepatu slip on bermotif kotak-kotak, eyeliner tebal dan highlight merah muda di rambut.


Debut album Let Go dirilis pada 2002. Complicated, I'm With You, serta Losing Grip berturut-turut menyusul keberhasilan Sk8er Boi.

Lavigne memenuhi mimpi para remaja, cantik, memberontak namun pilu juga saat dikecewakan kekasih.

Dua tahun kemudian, Under My Skin yang lebih gelap dan berat dilepas.

Don't Tell Me sebagai single pertama masih mengusung konsep punk princess yang sama: tank top merah muda, kaos kaki bermotif tengkorak, kostum warna hitam-hitam, serta Lavigne yang sedang resah dan kesal pada dunia.

Under My Skin memiliki beberapa hit single lain, yaitu My Happy Ending, Nobody's Home dan He Wasn't. Pada 2007, Lavigne menambah diskografi dengan The Best Damn Thing.

Keceriaan Girlfriend mengingatkan orang pada Sk8er Boi, sampai When You're Gone dilepas dan jadi lagu pengiring wajib bagi yang sedang patah hati.

Di saat bersamaan, hubungan Lavigne dengan Deryck Whibley semakin serius.

Whibley, vokalis band pop punk SUM 41 menikahi seorang punk princess, seperti sebuah dongeng. Pernikahan itu berakhir pada 2009.


Ketika Goodbye Lullaby dirilis di 2011, gaya Lavigne sudah berubah.

Wish You Were Here menyampaikan kerinduan dengan lebih dewasa dan kalem. Sang punk princess ini sedang dimabuk cinta dengan Chad Kroeger dari Nickelback.

Perjalanan cinta yang tidak bertahan lama, karena pada 2015, Lavigne mengumumkan perpisahan mereka.

Album self-titled menjadi yang kelima untuk Lavigne.

Di sini ada Rock n Roll, Let Me Go berkolaborasi dengan Kroeger, dan Hello Kitty yang visualnya serba-pink.

Di tahun yang sama dengan perpisahannya dari Kroeger, Lavigne mengaku dia didiagnosa menderita penyakit Lyme. Perjuangan hidup dan mati inilah yang diceritakannya dalam Head Above Water.

Dalam unggahannya di Instagram, Lavigne mengungkapkan, bermusik membantunya bersemangat sembuh. 

"Aku menulis dan merekam album ini, bagiku ini adalah momen kemenangan. Pencapaian besar. Aku sangat bangga dan berterima kasih kepada siapapun yang mau bersabar dan tetap mencintaiku dalam prosesnya," katanya, dilansir dari situs resmi Lavigne.

(rea/rea)