ULASAN KONSER

Gelimang Distorsi di JogjaROCKarta

Agung Rahmadsyah, CNN Indonesia | Minggu, 28/10/2018 12:08 WIB
Gelimang Distorsi di JogjaROCKarta Konser Megadeth di JogjaROCKarta, Sabtu (27/10). (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Ada yang suka (musik) korea di sini? Minggat!," ujar salah seorang MC JogjaROCKarta, saat menanti Godbless naik panggung, Sabtu (27/10) malam.

Ucapan sang pembawa acara sontak disambut gelak tawa para penonton karena mereka sadar kalau itu hanya guyon belaka demi menanti salah satu kehadiran band rock legendaris Indonesia.

Tidak berselang lama, band rock yang digawangi Ahmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bas), Abadi Soesman (kibor), dan Fajar Satritama (dram) langsung memanaskan panggung dengan tembang lawas milik mereka 'Musisi'.


Sebagai band yang telah 'meluluhlantakkan' panggung sejak medio 1970-an, tak heran jika para penonton menyambut legenda hidup musik keras Indonesia ini dengan antusias.

Sekitar 50 persen peserta karaoke masal saat Godbless memainkan nomor-nomor andalannya, seperti 'Menjilat Matahari', 'Semut Hitam', 'Kehidupan', dan 'Rumah Kita', berusia di atas 50 tahun.

Hal ini bisa dimaklumi, mengingat saat lagu-lagu tersebut diperkenalkan ke khalayak barangkali usia mereka baru 20 tahunan.

Gelimang Distorsi di JogjaROCKartaGodbless di konser Megadeth di Yogyakarta, Sabtu (27/10). (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah).


Berbeda dengan suasana satu jam sebelum Godbless naik panggung, area Indonesian stage dipadati ratusan pemuda. Puluhan di antaranya meluapkan energi di circle pit saat Seringai menyalak.

Para serigala (sebutan untuk fans Seringai) saling bertubrukan untuk merayakan pesta distorsi, saat lagu-lagu seperti 'Program Party Seringai', 'Tragedi', 'Dilarang di Bandung', dan 'Selamanya' digeber oleh Arian (vokal), Ricky (gitar), Sammy (bas), dan Khemod (dram).

Tak hanya Godbless dan Seringai, acara yang 'mengakuisisi' Stadion Kridosono, Yogyakarta, ini juga diisi oleh band-band rock tanah air seperti Blackout, Elpamas, Koil, Sangkakala, ILP, dan Edane.

Tentu saja satu band yang paling ditunggu oleh ribuan jamaah metal hari itu adalah Megadeth, salah satu spesies trash metal purba bentukan Dave Mustaine.

Gelimang Distorsi di JogjaROCKartaSeringai di konser Megadeth di Yogyakarta, Sabtu (27/10). (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah).


Mengamini 'Sabda' Mustaine


Sekitar pukul 20.00, para penonton terlihat bergeser ke area International stage. Saat itu Godbless baru saja menyelesaikan lagu keempatnya, masih banyak repertoar yang belum ditampilkan.

Namun rombongan manusia berbaju hitam itu, lebih memilih untuk menunggu sekitar dua jam lebih awal demi mendapatkan tempat ideal untuk menjadi saksi 'kemurkaan' Megadeth.

"Megadeth, Megadeth, Megadeth," paduan suara dadakan malam itu berteriak meminta kuartet yang berawakkan Dave Mustaine (vokal/gitar), David Ellefson (bas), Kiko Loureiro (gitar), dan Dirk Verbeuren (dram) segera naik panggung.

Namun celakanya, bukan dedengkot metal asal Amerika Serikat yang muncul melainkan sebuah video berdurasi satu menit berisikan sosok presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam layar raksasa di atas panggung.

Dalam video tersebut Jokowi menyatakan keinginannya untuk hadir, namun tidak bisa karena ada halangan. Ia menyebutkan beberapa lagu Megadeth yang ia sukai seperti 'Sweating Bullets, 'Ashes in Your Mouth', dan 'Wake up Dead'.

Bagi saya suasana ini agak menyebalkan, mengingat hingga April 2019 adalah masa kampanye pemilu.

Entah apa niat sebenarnya, saya terlalu malas berspekulasi. Karena motivasi saya datang ke Kridosono hari itu, hanya ingin menikmati terjangan tornado musik keras. Saya rasa sekitar 5.000 orang yang hadir di sana juga memiliki motivasi yang sama.

Megadeth akhirnya naik panggung sekitar pukul 22.00 Wib, band yang sudah aktif sejak tahun 1983 ini menggemparkan jamaah metal dengan lagu 'Hanggar 18'.

Penonton pun langsung menggelinjang kegirangan saat salah satu tembang andalan ini dijadikan lagu pembuka.

Usai menyelesaikan lagu pertama, Dave Mustaine Cs langsung melanjutkan estafet dengan lagu 'The Threat Is Real', 'In My Darkest Hour', dan 'The Doctor Is Calling'.

Kuartet yang sebelumnya sudah menyambangi Indonesia sebanyak tiga kali (2002, 2007, dan 2017) ini, masih terlihat prima dan 'angkuh'.

Meskipun personelnya sudah tidak lagi muda, namun penampilan Megadeth masih terasa padat dan menghibur. Tata suara dan cahaya benar-benar diatur mengikuti kebutuhan lagu, bahkan animasi di layar raksasa pun juga terasa seirama.


Usai lagu keempat berkumandang, saya yang tadinya hanya berjarak lima meter dari panggung, memutuskan menjauh demi merasakan sensasi tata suara berkekuatan puluhan ribu watt.

Ketika lagu-lagu 'Tornado of Soul', 'Symphonie of Destruction', 'Conquer or Die', dan 'A Tout Le Monde' dimainkan hasilnya justru lebih menggelegar dan membahana.

Ternyata rasanya lebih menyenangkan mendengar hantaman musik keras dari kejauhan, karena bisa merasakan detil suaranya.

Tidak berselang lama, ikon yang akrab dengan Megadeth yakni Vic Rattlehead pun muncul. Tentunya kehadiran Vic di tengah panggung disambut kehebohan oleh para penonton.

Akhirnya paduan suara massal pun makin tak terkendali saat lagu 'Holy Wars... The Punishment Due' dilantunkan.

Layaknya nabi, sabda Mustaine dalam bagian pertama lagu tersebut dilantunkan bersama oleh ribuan jamaah metal yang hadir malam itu.

"Brother will kill brother, spilling blood across the land. Killing for religion, something I don't understand. Fools like me who cross the sea, and come to foreign lands. Ask the sheep for their beliefs; 'Do you kill on God's command?'." (fea)


BACA JUGA