Syuting Sekuel 'Crazy Rich Asians' Bakal Berlokasi di China

CNN Indonesia | Selasa, 30/10/2018 21:05 WIB
Syuting Sekuel 'Crazy Rich Asians' Bakal Berlokasi di China Adegan dalam film 'Crazy Rich Asians'. (Dok. Warner Bros Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden SK Global dan produser film John Penotti mengatakan sekuel film Crazy Rich Asians akan syuting di Shanghai, China. Pernyataan itu ia sampaikan di Chinese American Film Festival yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat.

Pemilihan lokasi syuting di China bukan tanpa alasan.

China dipilih karena dalam novel China Rich Girlfriend (2015)--sekuel novel Crazy Rich Asians (2013), diceritakan berlatar tempat di China dua tahun setelah kisah Crazy Rich Asians berlalu.


Film Crazy Rich Asians sendiri diadaptasi dari novel berjudul sama karya Kevin Kwan yang merupakan bagian dari trilogi novelnya.

Dua judul novel setelah itu adalah China Rich Girlfriend dan Rich People Problems (2017).

Meski demikian Penotti belum bisa memastikan sekuel film Crazy Rich Asians akan membuat cerita ulang dari novel China Rich Girlfriend.

Pasalnya film tersebut diproduksi oleh sejumlah rumah produksi; SK Global, Warner Bros., Starlight Culture, Color Force, Ivanhoe Pictures dan Electric Somewhere.

"Tentu kami coba membuat film pertama sebagai hasil produksi bersama China-Amerika Serikat. Tapi (sebagai perusahaan, kami) belum pernah melakukan ini sebelumnya," kata Penotti.

Hingga pekan ini ada keterangan lebih rinci mengenai jadwal syuting sekuel Crazy Rich Asians.

Beberapa waktu lalu sempat dikabarkan sekuel tersebut belum memiliki sutradara.

Sutradara Jon M Chu yang menyutradarai Crazy Rich Asians sempat digadang untuk menyutradarai sekuel.

Ia mengaku bahwa kabar belum resmi meski itu membuat senang dirinya.

"Saya mau mengerjakan dua film berikutnya. Kami sudah sering membicarakan hal ini. Namun kami harus masih berunding soal ini," kata Chu.

Walau direncanakan bakal rilis di China, namun film Crazy Rich Asians sebenarnya "dirilis terlambat" di Negeri Panda, tepatnya pada 30 November 2018.

Hal tersebut dikarenakan pemerintah China melakukan sensor ketat terhadap film ini.

Adele Lim, sang penulis naskah, menyatakan bahwa pihaknya tak bisa berbuat banyak mengenai keterlambatan rilis tersebut.

"Kami hanya mencoba menggambarkan sebuah tradisi di layar lebar. Kami tahu kami tak bisa menyenangkan semua orang, baik Asia atau China," kata Adele seperti yang dikutip dari Variety pada Selasa (30/10).

(adp/ard)