ULASAN KONSER

Konser 'Karaoke' Blue di The 90s Festival

tsa & CNN Indonesia, CNN Indonesia | Minggu, 11/11/2018 10:20 WIB
Konser 'Karaoke' Blue di The 90s Festival Grup vokal asal Inggris, Blue, menjadi bintang yang paling dinantikan dalam konser nostalgia era 1990an semalam. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Grup vokal asal Inggris, Blue, menjadi bintang yang paling dinantikan dalam konser nostalgia era 1990an bertajuk 90's Festival yang digelar di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, pada Sabtu (11/11).

Meski tak dipungkiri saya juga seorang penggemar Blue, penampilan mereka cukup membuat dahi saya mengernyit dan beberapa kali membuat saya menguap.

Bagi saya, saat ini teknik bernyanyi mereka lebih mirip dengan kebiasaan orang pada umumnya saat berkaraoke.


Bagai penyanyi rumahan yang sedang iseng, produksi vokal Antony Costa, Duncan James, Lee Ryan dan Simon Webbe malam tadi tidak konsisten dan nampak belum dipersiapkan dengan serius.

Nada sumbang mewarnai sebagain besar nyanyian mereka malam tadi, terutama suara Lee Ryan yang terdengar serak dan beberapa kali pecah di nada tinggi.

Memang tak stabil, namun Lee Ryan berhasil memperdengarkan suara apik yang tebal dan nyaring ketika menutup lagu Breathe Easy.

Antony Costa juga terdengar bergerumul dengan nyanyiannya sendiri. Meski beberapa kali sumbang, secara umum ia masih bisa membuktikan kemampuan vokalnya. Interaksinya dengan penonton menmbah nilai plus.

"Senang sekali bisa kembali ke Jakarta. Ini pertama kali saya ke asia tenggara lagi (setelah sekian lama) dan saya langsung pilih Indonesia untuk kunjungan pertama," tutur Costa diikuti teriakan manja penonton.

Simon Webbe juga sedang tak segemilang biasanya. Alunan rap-nya terpotong karena kehabisan napas.

Duncan James tertolong dengan pesona panggung dan ketampanannya yang membuat para penggemar wanita berteriak, meski vokalnya semalam juga payah.

Keberadaan empat vokalis seharusnya cukup membuat sebuah lagu terdengar ramai oleh berbagai elemen suara dan segala teknik vokal, namun yang saya saksikan hari ini cenderung empat individu di panggung yang sama, ketimbang sebuah grup vokal.

Pahit, namun bagi saya pahlawan dari penampilan Blue malam ini adalah musik playback-nya yang membawa para penonton bernostalgia.

Di sisi lain, kualitas suara dari speaker dan mikrofon memang terdengar terlalu terpendam.

Tak jarang hanya dentuman musik yang terdengar di telinga penonton, padahal layar kamera menangkap mereka tengah bernyanyi.

Suara mikrofon yang terpendam itu sempat membuat Duncan James gemes lalu menyerah.

Kala menyanyikan U Make Me Wanna, nada rendahnya nyaris tak terdengar oleh penonton.

"Nyanyikan (lagu ini) untuk saya," ucap James mencoba mengakali persoalan teknisnya pada penonton.

Masalah teknis maupun performa Blue membuat acara semalam terasa membosankan bagi sebagian orang yang memilih pulang atau pindah menonton panggung musik lain di tengah nyanyian mereka.

Di sisi lain, pemilihan lagu Blue cukup membuat kesan naik roller coaster, naik turun. Pertunjukan yang ditunggu-tunggu itu dibuka dengan lagu megahit mereka All Rise.

Meskipun penonton dengan senang hati menikmati, saya merasa janggal karena Blue langsung menyanyikan lagu andalannya di awal.

Kemudian gairah penonton sempat turun karena ada beberapa lagu yang sepertinya tak diketahui. Terlihat bibir para penonton kaku dan tidak menggumam sepotong lirik.

Hit lainnya Sorry Seems To Be The Hardest Word ditempatkan di tengah membuat suasana kembali riuh.

Tak butuh waktu lama, penonton kembali diam dan mulai asik ngobrol sendiri seakan tak ada yang manggung.

One Love dipilih sebagai penutup yang kembali mendorong semangat penonton sebelum berpisah dengan sang idola.

(ard)