Obituari

Stan Lee, 'Pahlawan' Para Pahlawan Super Marvel

CNN Indonesia | Selasa, 13/11/2018 11:00 WIB
Stan Lee, 'Pahlawan' Para Pahlawan Super Marvel Sekilas cerita kehidupan Stan Lee, kreator semesta Marvel, yang meninggal Senin (12/11) waktu setempat. (Foto: REUTERS/Issei Kato)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak hanya perfilman yang berduka atas kepergian Stan Lee, namun dunia seni secara keseluruhan turut kehilangan pria kelahiran 1922 itu.

Stan Lee adalah orang di balik Marvel Comics, lelaki yang turut membidani kelahiran Spider-Man, Hulk, Doctor Strange, Fantastic Four, Daredevil, Black Panther, X-Men, Ant-Man, Iron Man, sampai Thor.

Lee mendedikasikan hidupnya dalam bisnis perkomikan selama lebih dari 7 dekade. Di usia 17 tahun, ia bergabung dengan Timely Publications yang dimiliki saudaranya Martin Goodman, menulis skrip komik tentang pahlawan super dan cerita misteri. Hanya butuh dua tahun baginya sampai duduk di kursi editor-in-chief.


Hidup Lee tak selalu berjalan mulus. Faktanya, dia justru mengalami banyak jatuh-bangun. Datang dari keluarga imigran asal Romania, ia tumbuh dalam kemiskinan era Depresi Besar sebelum menemukan jalan hidup di perkomikan.



Bahagia bisa mengerjakan hal yang disukai, ketertarikan publik pada komik menurun setelah Perang Dunia II. Lee tidak menyerah saat itu, ia tetap menggoreskan penanya.

Dilansir dari The Guardian, pada 1974, Lee menuliskan detail keinginannya untuk diwujudkan oleh artis Jack Kirby, "Ini akan jadi tim seperti kerajaan komik yang belum pernah diketahui siapapun.. Mereka (para tokoh komik) juga bisa salah dan penuh semangat dan yang terpenting, di balik kostum berwarna-warni mereka, mereka masih punya kelemahan."

Kelak, Kirby sendiri membantah cerita ini. Lee dan Kirby terlibat dalam polemik hukum selama bertahun-tahun sampai pada 2014 keluarga Kirby mendapat ganti rugi puluhan juta dollar dan namanya ditulis sebagai co-creator dalam kredit.

Lee sendiri membantah dugaan yang menyebutkan dirinya mencurangi rekan-rekannya seperti Kirby dan Steve Ditko.



Saat berusia 39 tahun, Lee mulai putus asa. Ia berpikir untuk berhenti berkecimpung dalam dunia komik, namun istrinya Joan Boocock Lee menyarankan ia menulis satu cerita terakhir.

Lee menuruti perkataan sang istri, dan lahirlah Fantastic Four. Ini komik yang mengubah segalanya, karena sebelum FF, sudah ada ratusan tokoh seperti Iron Man, Thor, Hulk, Spider-Man, Doctor Strange dan Silver Surfer.

Dengan begitu banyak cerita dan tokoh yang berbeda-beda, Lee kemudian mulai 'memperkenalkan' satu karakter di kisah karakter lain, menciptakan semesta fiksi sendiri, memberi kesempatan untuk pembaca mengeksplorasi lebih dalam. Artinya, seseorang harus membaca serangkaian komik agak memahami keseluruhan jalan cerita.

Setelah menghabiskan 30 tahun di belakang meja sambil menulis skrip setiap hari, Lee mengambil peran baru sebagai penerbit di Marvel Comics (dulunya bernama Timely Publications) pada 1972. Di sini, ia melanjutkan langkah revolusionernya.



Ia memasukkan karakter Marvel ke dalam komik surat kabar, menerbitkan sejumlah serial berbentuk buku yang memamerkan karakter Marvel di awal-awal kelahiran, serta berkolaborasi dengan Kirby untuk terakhir kalinya pada 1978, memproduksi novel grafik yang memuat karakter Silver Surfer.

Dengan langkah-langkah tersebut, serta menjadi 'wajah' perusahaan Marvel Comics, Lee mengokohkan posisi sebagai seorang kakek hebat dalam industri komik.

Kemunculan Lee sebagai cameo dalam berbagai film Marvel juga selalu dinanti penggemar, menjadi semacam permainan tersendiri. Terakhir, ia terlihat dalam film 'Black Panther' (2018) di kasino, mengucapkan satu kalimat dialog sambil mengenakan setelan resmi dan kacamata.

Pada 1994, ia dilantik masuk industri buku komik Will Eisnet Award Hall of Fame, sementara Jack Kirby dilantik setahun sesudahnya. Di 2008, Lee menerima National Medal of Arts, penghargaan tertinggi dari pemerintah Amerika dalam bidang seni. (rea)