ULASAN TEATER

Merindu Annelies di Panggung Bunga Penutup Abad

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 17/11/2018 16:50 WIB
Annelies yang 'tak muncul' (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Annelies yang 'tak muncul'

Sayang, perkembangan yang sama tak ditunjukkan oleh Chelsea Islan. Ia masih gagal menggali karakter Annelies dan tetap dengan gaya yang terlalu kekanak-kanakan. 

Setiap kali ia memanggil 'Mama' dengan suara dan nada memanja, semakin terasa kekanakannya. Tak jarang terdengar suara bisikan penonton yang menertawakan atau menghela nafas karena tingkahnya yang seolah membuat jengah. Itulah yang membuat, sosok Annelies ciptaan Pram yang tak hanya cantik dan lemah lembut namun meyimpan kekuatan, tak kunjung muncul di panggung.

Terlepas dari akting para pemain, pertunjukan yang judulnya mengutip salah satu frase dalam tulisan Pram, Bunga Penutup Abad itu tak memiliki perubahan berarti. Set, musik, serta tata lampu dan cahaya masih sama. Sederhana.


Satu yang begitu mengganggu yakni saat perpindahan set. Hilir mudik kru pergantian set memecahkan fokus penonton saat menyimak kisah. Belum lagi prosesnya yang cukup lambat dan begitu kentara. Satu properti diletakkan satu orang. Betapa banyaknya kru yang hilir mudik cukup menghancurkan suasana yang telah dibangun oleh para pemain dan terlihat kurang efektif untuk pementasan besar.

Fatalnya, tindakan kru mencederai suasana terasa nyata kala adegan yang justru sangat krusial yakni saat Annelies hendak pergi ke Belanda. Dalam adegan itu, Annelies keluar dari kamarnya dengan menggunakan baju pengantin dan hendak memberikan salam perpisahannya kepada sang ibu dan suami.

Kala itu, Ann memang terlihat tak menutup rapat pintu yang ada di dalam set. Tiba-tiba, datanglah seorang kru yang menutup pintu tersebut dari belakang panggung. Sungguh sebuah kelancangan yang mengganggu konsentrasi penonton. 

Padahal perihal tertutup atau tidaknya pintu bukan sebuah kesalahan fatal yang dapat mengganggu jalannya cerita. Kru seakan lupa bahwa teater membutuhkan momen magis tanpa adanya kemunculan pemecah dinding keempat di atas panggung.

Selain Marsha Timothy yang menjadi pembeda, Bunga Penutup Abad juga baru merilis soundtrack pementasannya di pentas ini. Dipimpin Ricky Lionardi, musik tercipta sangat persis dengan gambaran kisah lakon yang bernuansa miris, gamang, namun tetap hangat.

Sayangnya, lagu-lagu ini kurang maksimal disatukan dengan elemen-elemen lainnya. Banyak adegan yang dibiarkan senyap akan iringan musik sehingga adegan yang rata-rata berisi narasi jadi cukup membosankan. Bahkan dalam beberapa kali pergantian set yang memakan waktu lebih dari 20 detik, musik tetap dibiarkan senyap hingga yang terdengar hanyalah dorongan roda dan suara langkah kaki kru. (dna/stu)
2 dari 2