Kaleidoskop 2018

10 Album Lokal Terbaik versi CNNIndonesia.com

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 16:42 WIB
10 Album Lokal Terbaik versi CNNIndonesia.com Seringai tetap menyuarakan kemarahan di album terbaru. (Dok. Seringai)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dari ranah dalam negeri, Indonesia selalu punya karya dari musisi-musisi kreatif yang tak dapat dipandang sebelah mata. Semakin beragam, semakin unik dan menarik.

Berikut ini adalah 10 album terbaik Indonesia pilihan CNNIndonesia.com.

1. Kunto Aji - Mantra Mantra


Kunto Aji mengangkat isu kesehatan mental dalam album keduanya yang terinspirasi dari pengalaman pribadi. Secara tidak langsung ia menjelaskan bahwa kesehatan mental bukan berarti orang yang depresi ingin bunuh diri, Pun masalah keluarga dan percintaan bisa bermuara pada kesehatan mental.

Dibantu Petra Sihombing, Aji memasukkan Solfeggio Frequencies, beberapa gelombang frekuensi yang memengaruhi perasaan manusia pada dua lagu. Dalam Rehat ia memasukkan frekuensi 396Hz yang bisa mengeluarkan pikiran negatif, sementara pada lagu Rancang Rencana ia memasukkan frekuensi 741 Hz yang bisa menimbulkan solusi.

Selain itu, musik Kunto terasa berkembang ketimbang album pertama yang bertajuk Generation Y. Meski masih terasa pop, pada album Mantra Mantra ini terasa sedikit sentuhan RnB pada beberapa lagu.

[Gambas:Youtube]

2. Laze - Waktu Bicara

Havie Prakasya alias Laze ingin bercerita tentang orang yang gegar budaya ketika datang ke Jakarta lewat album perdana bertajuk Waktu Bicara. Tema itu sebenarnya sangat sederhana, tapi berhasil disampaikan dengan baik lewat 15 lagu. Didukung dengan penyusunan lagu yang apik hingga menguatkan tema.

Setiap lagu menyajikan kisah dengan sudut pandang yang berbeda terhadap Jakarta. Introgasi sebagai pembuka bercerita tentang hal yang dirasakan pendatang baru, sementara Mengerti bercerita tentang pekerja keras yang menjelaskan bagaimana kehidupannya.

Waktu Bicara menjadi album paket lengkap dengan beat yang didengar pada mayoritas lagu dan pastinya lirik yang bermakna serta berima. Seperti penggalan lirik lagu Mengerti berikut:

Bukan pelukis, tapi hari kuwarnai
Tak perlu barcode kalau ingin dihargai
Memang hartaku tiada berlebih
Tapi ibu bilang usaha tanpa letih

3. Seringai - Seperti Api

Seperti Api seperti menjadi tempat penampungan berbagai luapan emosi Seringai. Mereka mengusung tema berbeda lewat 12 lagu meski ada beberapa lagu yang dapat dikatakan satu tema, seperti lagu Selamanya dan Adrenalin Merusuh yang sama-sama bercerita tentang renjana.

Kemudian Disinformasi menyoroti berita kebohongan yang marak terjadi, Enamlima tentang tragedi kelam masa lali Indonesia dan Omong Kosong yang ditujukan membungkam segala 'ketololan' di sekitar kita. Masih ada Sekarang atau Nanti yang bercerita tentang kebecian yang berujung perpecahan.

Bila mendengarkan lagu satu persatu dalam Seperti Api terasa bahwa Seringai konsisten sebagai band yang mengkritisi sesuatu dengan cara marah-marah. Namun, mereka juga tidak lupa untuk selalu berpesta dan menertawakan berbagai hal.


4. NonaRia - NonaRia

Album perdana NonaRia yang bertajuk penamaan diri sendiri adalah album yang jujur dan sederhana namun bermakna. Lewat delapan lagu mereka seakan memotret kegiatan sehari-hari yang dekat dengan mereka, dan tentunya dekat juga dengan orang lain.

Semua lagu dalam album tersebut mengandung lirik yang mudah dimengeti dan enak didengar. Mulai dari Antri  Yuk yang bercerita tentang antre, Sayur Labu tentang memasak sampai lagu Maling  Jemuran tentang pencurian jemuran. Lirik-lirik tersebut dibalut dengan suara biola, snare, piano, dan akordeon yang padu hingga terasa nuansa jazz swing dan ragtime era 1950-an.

5. Dewa Budjana - Mahandini

Mahandini yang diartikan Dewa Budjana sebagai kendaraan agung berisikan tujuh lagu yang segar, empat lagu instrumental dan tiga lagu berlirik. Dua dari tiga lagu berlirik ditulis oleh mantan gitaris Red Hot Chili Peppers John Frusciante.

Bekerja sama dengan Jordan Rudess (kibor), Marco Minneman (drum), Mohini Dey (bas), John dan Soimah nampak menjadi salah satu sebab album ini lebih berwarna ketimbang karya-karya sebelumnya. Pada lagu Crowded terasa rock, sementara pada lagu Hyang Giri terasa etnis lantaran Soimah menyanyi dengan gaya sinden dan terdapat suara gamelan.


6. Mocca - Lima

Untuk kali pertama Mocca merilis album dengan lagu berbahasa Indonesia. Keputusan Mocca menggunakan bahasa Idonesia cukup mengejutkan, juga menjadi pertaruhan karena belum tentu bisa memuaskan Swinging Friends. Beruntung gitaris Riko Prayitno yang bertugas menulis lirik berhasil melakukan pekerjaan dengan baik. Nyawa Mocca, lagu dengan gaya lirik bertutur, masih terasa pada delapan lagu dalam Lima.

Tema lagu masih sama dengan karya-karya Mocca sebelumnya, yaitu cinta dan persahabatan. Lagu terbaik dalam Lima adalah Teman  Sejati yang bercerita tentang persahabatan.

7. Candra Darusman - Detik Waktu: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman (Various Artist)

Album ini merupakan album kompilasi berisi 14 lagu yang melibatkan 10 penata musik, 18 penyanyi, 2 band dan satu grup vokal. Mereka semua menyanyikan lagu-lagu hit Candra selama karier bermusik, seperti Kau (Glenn Fredly), Kekagumanku (Afgan) dan Indahnya Sepi (Mondo Gascaro dan White Shoes & The Couples Company).

Semua lagu dinyanyikan dengan aransemen yang baru sehingga terasa lebih segar dan nyaman didengarkan. Candra yang memiliki karya itu membebaskan semua musisi yang terlibat untuk bereskplorasi, ia hanya memberi sedikit arahan.

8. Senyawa - Sujud

Senyawa masih konsisten menyuguhkan musik eksperimental dalam album sembilan bertajuk Sujud. Bunyi-bunyian unik terasa masih padat pada tujuh lagu album ini, tentunya berasal dari alat musik yang dibuat Wukir Suryadi. Suara alat musik bersatu dengan suara khas vokalis Rully Shabara.

Sejak awal membuat album, Senyawa sudah menyiapkan konsep yang matang. Kata Sujud mereka artikan sebagai tanah memliliki hubungan dengan album sebelumnya yang bertajuk Acaraki (2014), Menjadi (2015) dan Bronshoj (Puncak). Acaraki yang berarti meracik jamu menjadi formula yang tepat sehingga membawa mereka ke puncak, sesampainya di puncak Senyawa sujud.


9. Rahasia Intelijen - Angkara

Mengusung genre metal, Rahasia Intelijen merilis album perdana bertajuk Angkara. Album tersebut berisikan tujuh lagu yang bernapaskan kritik sosial. Lagu Hakares misalnya yang bercerita tentang koruptor dan Penjaga Pintu Langit bercerita tentang tindak kekerasan dengan mengatasnamakan agama.

Semua lagu dibalut dengan distorsi gitar yang padat, padu dengan drum dan bas. Dengan begitu Angkata dapat dikatakan sebagai salah satu album metal yang segar.

10. The Panturas - Mabuk Laut

Band asal Jatinangor yang mengusung genre rock selencar kotemporer ini memperkenalkan diri lewat album Mabuk Laut. Nyawa rock selancar, suara gitar yang terdengar becek karena reverb, terdapat dalam delapan lagu di album tersebut. Mayoritas lagu dalam Mabuk Laut mengangkat tema lingkungan Indonesia. Tepatnya sisi kelam lingkungan Indonesia, seperti Fish Bomb, Gurita Kota dan Fisherman's Slut. (adp/rea)