'Shoplifters' Masuk Daftar Film Berbahasa Asing Terlaris

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 18/01/2019 13:48 WIB
'Shoplifters' Masuk Daftar Film Berbahasa Asing Terlaris 'Shoplifters' mencapai penghasilan US$2 juta per Kamis (17/1). (dok. Aoi Pro, Inc/GAGA Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Shoplifters menjadi salah satu film berbahasa asing rilisan 2018 yang berpenghasilan tertinggi. Diberitakan Variety, drama asal Jepang itu melebihi penghasilan US$2 juta per Kamis (17/1) kemarin. Itu merupakan pencapaian yang tak terduga.

Ia menjadi film non-anime pertama dari Jepang yang mencapai US$2 juta sejak 1985.

Pencapaian Fantastic Woman juga dilaporkan sama, namun film itu pernah tayang terbatas pada 2017.

Film yang tayang di Netflix, Roma juga disebut-sebut kuat di pasaran meski rilisnya terbatas hanya untuk pelanggan layanana streaming itu. Namun hingga saat ini Netflix belum menunjukkan secara transparan penghasilannya untuk film itu.


Shoplifters sendiri merupakan garapan Hirokazu Kore-eda. Film itu menceritakan keluarga pengutil yang mengadopsi seorang anak perempuan yang berasal dari keluarga berantakan.

Film itu sempat tayang di Cannes Film Festival tahun lalu dan masuk nominasi Golden Globe Awards 2019, meski harus kalah oleh Roma. Shoplifters juga digadang-gadang masuk nominasi Oscar yang akan diumumkan 22 Januari mendatang.


"Kami tahu dari penayangan di festival bahwa penonton sangat menyukainya, jadi kami percaya bahwa jika kami membuatnya tersedia orang-orang akan mencarinya," ujar Neal Block, kepala distributor di Magnolia yang mendistribusikan Shoplifters.

Shoplifters memang akhirnya tayang secara internasional. Mengutip Variety, ia diputar di lima bioskop di New York, Los Angeles dan San Francisco pada November lalu. Perlahan namun pasti, ia diputar di lebih banyak bioskop di Amerika.

Saat ini Shoplifters dimainkan di 100 bioskop dan masih akan bertambah. Menurut Block, film itu bisa sampai ditayangkan di 150 bioskop. Ini pencapaian langka dan luar biasa.

[Gambas:Youtube]

"Semakin tahun sepertinya semakin sulit membuat orang menonton film seperti ini," ujarnya. (rsa)