Analisis

Menimbang Ide Steven Spielberg 'Membantai' Netflix di Oscar

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 06/03/2019 11:32 WIB
Menimbang Ide Steven Spielberg 'Membantai' Netflix di Oscar Steven Spielberg dengan keinginan melarang film streaming ke Oscar seolah merasa bisnis bioskop dan layar lebar terancam dengan kehadiran layanan macam Netflix. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena kemenangan film 'Roma' dalam berbagai ajang penghargaan menuai pujian bagi layanan streaming tempat produksi karya Alfonso Cuaron tersebut, Netflix.

Film tersebut beberapa waktu lalu memenangkan tiga piala Oscar: Best Director, Cinematography, dan Best Foreign Language, yang menjadi sejarah baru bahwa pada 2019 film dari layanan streaming diterima oleh ajang se-prestise Academy Awards.

Tapi euforia capaian film streaming itu tak berlangsung lama. Sineas senior sekaligus salah satu petinggi penyelenggara Oscar, the Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS), Steven Spielberg justru mengobarkan perang baru.


Sineas yang dikenal genius itu justru berniat untuk 'menghabisi' film yang lahir dari layanan streaming macam Netflix untuk tak bisa lagi berlaga di ajang penghargaan sekelas Academy Awards.


Spielberg yang dikenal 'anti' dengan Netflix itu mendukung perubahan peraturan yang mengatur penerimaan film streaming di Oscar dan akan mengajukannya dalam pertemuan the Academy bulan depan.

Sutradara peraih tiga piala Oscar dan belasan nominasi Academy Awards tersebut justru bak menunjukkan perangai kolot serta iri bin dengki melihat film streaming bisa memenangkan Oscar.

'Roma' sendiri sebelumnya dijagokan menang Best Picture yang kemudian jatuh pada 'Green Book' yang diproduksi oleh Participant Media dan DreamWorks Pictures yang didirikan Spielberg.

Terlepas dari fakta 'kekerabatan' tersebut, Spielberg dengan keinginan memberangus film streaming dari Oscar seolah merasa bisnis bioskop dan layar lebar terancam dengan kehadiran layanan macam Netflix.

Steven Spielberg punya ide melarang film streaming masuk Oscar.Steven Spielberg punya ide melarang film streaming masuk Oscar. (REUTERS/Yves Herman)

Netflix sendiri memiliki jangkauan yang lebih luas dari bioskop yang selama ini jadi patokan Academy Awards, yaitu internet. Layanan ini punya 139 juta pelanggan dari 190 negara di dunia.

Dengan jangkauan Netflix tersebut, bukan mustahil penonton berhijrah dari bioskop. Terlebih, jumlah studio atau layar per bioskop terbatas karena menyesuaikan dengan bujet pendirian serta pengelolaannya.

Sementara itu, lewat layanan streaming, penonton memiliki kebebasan absolut memilih tayangan yang akan ditontonnya, kapan pun, di mana pun. Pada akhirnya, bioskop jadi pilihan terakhir bila sebuah film tak ada di layanan streaming.

Jangkauan lebar layanan streaming raksasa macam Netflix itu sejatinya tak diraih dalam semalam. Perusahaan asal Los Gatos, Amerika Serikat, itu didirikan oleh Reed Hastings dan Marc Randolph pada 1998 hanya dalam bentuk rental DVD.


Bermula dari layanan sewa itulah, Hastings memasarkan Netflix ke berbagai forum untuk promosi.

Dalam acara See What's Next: Asia pada November 2018 lalu, Hastings mengatakan Netflix telah memiliki pelanggan setia saat masih berbentuk rental DVD. Pelanggan terus mereka jaga hingga jadi pionir konsumen Netflix saat ini.

Netflx kemudian beralih jadi layanan streaming pada 2007. Mereka terus berkembang hingga membuat serial orisinal pertama bertajuk 'Lilyhammer' pada 2012 dan film orisinal bertajuk 'Beast of No Nation' pada 2015. Jumlah pelanggan pun bertambah.

"Kami bertumbuh dari 57,4 juta pelanggan global di tahun 2014 hingga 139 juta pelanggan di akhir tahun 2018," kata juru bicara Netflix kepada CNNIndonesia.com saat berkorespondensi, baru-baru ini.

Reed Hastings, pendiri Netflix.Reed Hastings, pendiri Netflix. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Nama Netflix pun semakin tenar kala karya berlabel 'orisinal' itu laku di pasaran dan jadi buah bibir, seperti serial Narcos (2015-2017) dan Stranger Things (2016-2017). Meskipun, usai mereguk ketenaran, Netflix mulai mengkomersialkan karya mereka seperti pada Stranger Things musim kedua.

Walau mulai 'kenal uang', Netflix masih menyediakan ruang bagi para sineas idealis, seperti Alfonso Cuaron yang sukses membuat 'Roma'. Film macam ini, yang dipuja-puji di berbagai ajang penghargaan, jauh dari nuansa pop yang jadi nafas bioskop.

Maka wajar adanya, Netflix yang juga membuka diri bagi karya dari dan tentang kelompok minoritas, bak surga bagi para sineas yang menjunjung tinggi integritas di atas isi dompet belaka.

Ada sejumlah alasan rasional Netflix bak surga bagi para sineas idealistis. Salah satunya, mereka tak dikejar target keuntungan sehingga bebas untuk berkarya.


Hal ini berbeda bila berkecimpung di industri perfilman arus utama seperti lewat bioskop. Faktor keuntungan dan peluang diterima oleh publik mutlak dimasukkan saat menggarap film. Bila tak mendulang penonton, film pun akan didepak dari bioskop.

Kebebasan itu yang kemudian dicitrakan nyaris sempurna oleh 'Roma'. Dengan bebas berkarya, toh penghargaan tetap digenggam. 'Roma' pun jadi bukti simbiosis mutualisme antara Netflix dan sineas.

Dengan memenangkan penghargaan, Netflix menuai sorotan dan publisitas serta citra baik yang merupakan soft-marketing, sedangkan sineas mendapatkan pengakuan atas kualitasnya.

"Kami melihat nominasi dan penghargaan ini (Oscar 2019) sebagai bentuk apresiasi dan motivasi bagi kami untuk terus bekerja keras memastikan para sineas memiliki kebebasan berkreasi dalam menyampaikan cerita mereka ke seluruh dunia," kata juru bicara Netflix.

Film 'Roma' garapan Alfonso Cuaron yang ditayangkan Netflix memenangkan banyak penghargaan.Film 'Roma' garapan Alfonso Cuaron yang ditayangkan Netflix memenangkan banyak penghargaan. (dok. Netflix)

Film 'Roma' sendiri sebenarnya tidak hanya tayang di Netflix. Film ini sempat tayang tiga pekan di bioskop, menyesuaikan dengan peraturan Oscar yang mensyaratkan penayangan bioskop setidaknya tujuh hari bagi film yang diajukan.

Begitu pula dengan Triple Frontier dan The Irishman yang akan segera tayang. Sutradara Martin Scorsese yang menggarap The Irishman mengaku ingin merilis filmnya di Netflix agar mendapat penonton seluas-luasnya.

Bila ditimbang-timbang, sah dan adil saja bila film streaming, meski cuma tayang di bioskop selama sepekan, mendapatkan penghargaan di ajang sekelas Oscar. Apalagi bila sejatinya, film itu memenuhi syarat.

Untuk sekelas ajang penghargaan, apalagi seperti Oscar, sebenarnya akan lebih bijak bila memandang film dari kualitas dan estetikanya alih-alih meributkan medium penayangan karya tersebut.


Dengan drama perseteruan ini, sebutan "kecil jadi kawan, besar jadi lawan" tampaknya cocok untuk menggambarkan Netflix dan layanan streaming lainnya.

Saat masih cilik dan tak berdaya, Netflix adalah sahabat bagi bioskop dan ajang penghargaan membantu penonton mengakses film. Namun kala Netflix sudah besar dan berdaya, ia diperlakukan bak musuh yang mesti dibantai.

Ironisnya, sang algojo yang ingin membantai Netflix adalah sosok sineas kawakan yang selama ini dihormati karena kegeniusannya menggarap film. Steven Spielberg tak sungkan menunjukkan sikap kolot dan menolak beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Padahal, perkembangan dan perubahan zaman adalah keniscayaan, termasuk dalam dunia perfilman dan ajang penghargaan.

[Gambas:Video CNN]

(adp/end)