Seberkas Cahaya Terang Nike Ardilla

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 19/03/2019 13:12 WIB
Seberkas Cahaya Terang Nike Ardilla Kehadiran Nike Ardilla yang singkat dengan capaian dan karakternya bagai seberkas sinar terang yang menyinari keluarga, sahabat, penggemar, dan musik Indonesia. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tepat tanggal ini, 19 Maret pada 1995, sosok penyanyi legendaris nan fenomenal, Nike Ardilla meninggal dunia. Hingga 24 tahun kemudian, pelantun Seberkas Sinar itu masih menjadi kenangan manis bagi penggemar dan masyarakat Indonesia.

Bukan berlebihan menyebut sosok Nike Ardilla sebagai sosok fenomenal dan legendaris. Terlahir dengan nama asli Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi pada 27 Desember 1975, mojang asal Bandung ini dikenal baik karena vokalnya dan karakternya yang membekas manis di lubuk hati.

Dia meninggal di usia yang tergolong muda, 19 tahun, saat telah malang melintang di industri hiburan dan mencapai puncak kesuksesan.


Generasi yang lahir setelah dekade '90-an mungkin akan kesulitan mengenal sosok Nike Ardilla yang dianggap sebagian generasi lebih awal, tak akan tergantikan. Nike tak tergantikan, bukan hanya karena bakatnya, tapi juga karakternya.


Sebelum memantapkan diri menjadi penyanyi, Nike kecil yang dipanggil Neneng dan Amoy di keluarganya ini dikisahkan sang kakak, Raden Alan Yudi, sempat ingin menjadi peragawati. Kala itu, Nike masih tinggal di kawasan Kebon Sirih dekat Stasiun Bandung.

Nike pun disebut Alan sempat menjadi peragawati dalam dua kali kesempatan. Tapi kemudian ia tak ingin melanjutkan cita-cita itu. "Mungkin kurang nyaman kali ya," kata Alan saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, di Bandung, beberapa waktu lalu.

Nike punya banyak panggilan. Ia dipanggil Neneng karena nama itu adalah sebutan anak perempuan dalam bahasa Sunda. Sedangkan Amoy karena Nike memiliki kulit paling putih dalam keluarga. Dua kakaknya, laki-laki, berkulit sawo matang.

Namun Nike juga punya nama lain saat berkegiatan di luar rumah, yaitu Keke. Nama ini muncul di era 1990-an, dan populer kala Nike meninggal.

Nike Ardilla sering memenangkan penghargaan saat masih anak-anak.Nike Ardilla sering memenangkan penghargaan saat masih anak-anak. (Dok. Istimewa)

Alan mengingat Nike sebagai sosok yang ceria dan percaya diri. Sejak usia lima tahun, bakat bermusik Nike sudah muncul dan akhirnya didaftarkan ke Himpunan Artis Penyanyi dan Musisi Indonesia (HAPMI) untuk berlatih tarik suara di usia tujuh tahun.

Melly Goeslaw, musisi yang juga menjadi teman Nike di tempat latihan tersebut, turut mengatakan hal serupa. Ia menyebut Nike sebagai sosok yang percaya diri dan centil, serta pantas menjadi penyanyi.

"Mamanya Nike mirip aku karena kribo, sementara mama aku mirip Nike karena indo. Jadi kami suka tukar-tukaran ibu kalau naik becak. Sahabat bangetlah," kata Melly mengenang persahabatan ia dan Nike.

Seiring bertambahnya usia, Nike ikut berbagai festival musik dan fokus mengembangkan bakatnya. Hingga akhirnya, ia berhasil merekam album pertama kali pada 1988, di usia 13 tahun yaitu Hanya Satu Nama, namun batal rilis.

Nike Ardilla disebut Melly Goeslaw centil dan percaya diri.Nike Ardilla disebut Melly Goeslaw centil dan percaya diri. (Dok. Istimewa)

Satu tahun kemudian, Nike merekam Seberkas Sinar dan rilis pada 1989. Berkat Seberkas Sinar, nama Nike pun mulai terkenal dan terus menanjak hingga dikenang sebagai salah satu musisi sukses di era awal dekade '90-an.

Album Seberkas Sinar (1989), tercatat terjual lebih dari 500 ribu kopi, jumlah yang luar biasa untuk album musisi solo terlebih di usia yang sangat muda, 14 tahun. Setelahnya, Nike merilis album setiap tahun.

Album Bintang Kehidupan (1990) tercatat terjual 2 juta kopi, Nyalakan Api (1991) terjual 1,75 juta, Matahariku (1992) terjual 1,5 juta kopi, Biarlah Aku Mengalah (1993) terjual 2 juta kopi, Biarkan Cintamu Berlalu (1994) terjual 1,25 juta kopi, dan Sandiwara Cinta (1995) terjual 2 juta kopi.

Perkembangan Nike, baik secara personal dan profesional, tak luput dari pengamatan Alan. Pria yang lima tahun lebih tua dari Nike ini terkesan dengan adik bungsunya itu.


"Ya kalau dibilang manja, manja Nike wajar, namanya anak bontot dan perempuan. Tapi sebenarnya ia sangat dewasa dan punya rasa tanggung jawab yang besar. Selain itu, jiwa sosial Nike tinggi," kata Alan.

Salah satu hal yang menarik, keluarga baru mengetahui sifat filantropi Nike saat ia sudah tiada. Kala itu, ada sejumlah orang datang dan mengisahkan kebaikan Nike beserta membawa data dan foto.

Semasa hidup, Nike ternyata memiliki dua anak angkat yang berkebutuhan khusus di salah satu panti asuhan. Bukan hanya itu, Nike juga membiayai uang sekolah tiga orang santri di pesantren yang berbeda, yaitu di Pesantren Gontor, Pesantren Suryalaya dan Pesantren Tebuireng.

[Gambas:Youtube]

Alan sendiri mengaku bingung bagaimana Nike bisa mengenal tiga santri tersebut. "Terkadang kalau lagi tampil di mana gitu, Nike suka jalan-jalan selama beberapa jam. Kami enggak tahu dia jalan ke mana, mungkin mengenal banyak orang saat jalan-jalan itu," kata Alan.

Salah satu pihak yang masih mengenang kenangan manis bersama Nike Ardilla adalah Judi Kristianto, produser JK Records yang merekam album Hanya Satu Nama. Bagi Judi yang kini sudah tak lagi muda, Nike adalah salah satu artisnya yang berkesan.

"Saya [sempat] bertemu [Nike] saat sudah jadi bintang besar. [Nike] masih cium tangan kok," kata Judi mengenang sosok Nike.

"Nike itu anaknya sopan, mungkin dari didikan orangtuanya juga baik. Di samping itu, dia juga punya wajah yang cantik dan mampu merengkuh hati kita. Anaknya juga baik, sopan santunnya baik, menghargai orang tua," lanjutnya.

Koleksi kaset Nike Ardilla yang pernah dirilis.Koleksi kaset Nike Ardilla yang pernah dirilis. (CNN Indonesia/M Andika Putra)

Atas segala capaian kesuksesan Nike Ardilla yang direngkuh saat usianya baru 19 tahun, Alan mengaku bangga bukan kepalang. Namun ia menyebut ada satu keinginan Nike yang baru terwujud saat penyanyi itu sudah meninggal, yaitu membangun musala.

"Musala sudah dibangun dekat makam Nike di Ciamis. Itu dibangun tahun 1996 setelah Nike meninggal," kata Alan.

Masih ada banyak berkas kenangan manis dari penggemar, kerabat, ataupun pendengar karya-karya Nike Ardilla. CNNIndonesia.com mencoba menuliskan seberkas di antaranya dalam fokus serial legenda kali ini.

Terlepas dari sosok Nike Ardilla yang tak akan tergantikan baik secara personal dan profesional, kemunculannya yang singkat menjadi kenangan manis sekaligus bukti ada banyak bakat berkilau yang masih terpendam di luar sana. Nike Ardilla persis seperti lagunya sendiri:

Seberkas cahaya terang
Menyinari hidupku
Sesejuk embun-embun di pagi hari
Dambaan insan di dunia ini

[Gambas:Youtube] (adp/end)