Hari Jazz dan Perayaan Musik Perjuangan Kaum Minoritas

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 30/04/2019 19:05 WIB
Hari Jazz dan Perayaan Musik Perjuangan Kaum Minoritas Ilustrasi musik jazz. (Jens Thekkeveettil)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selasa (30/4) ini, dunia musik memeringati Hari Jazz Internasional.

Musik jazz
 sejatinya bukanlah musik kaum berada, anggapan yang masih beredar sampai saat ini. Dipandang sebagai musik klasik AS, jazz diperkenalkan oleh komunitas Afrika-Amerika di akhir abad 19, komunitas yang sama yang juga mempopulerkan musik blues yang kerap disebut sebagai 'ibunya' segala musik.

Situs UNESCO mencantumkan bahwa kata 'jazz' sendiri baru masuk kamus pada 1912. Namun musik tersebut telah diperdengarkan jauh sebelumnya, alunan tebal dan khas, yang menjadi istimewa karena tidak ada ketetapan pola yang mutlak harus diikuti. Musisi jazz bisa mengubah nada-nada yang dimainkannya sesuka hati, atau disebut improvisasi.

Nama Charles 'Buddy' Bolden (1877-1931) adalah yang pertama kali dikenal. Sayangnya, pria yang memainkan cornet, salah satu instrumen tiup yang terbuat dari kuningan itu, tidak pernah merekam lagu di studio. Tidak ada jejak musik apapun darinya, namun New Orleans, kota asal genre ini, lantas melahirkan banyak musisi lain yang mengembangkan gaya baru jazz, termasuk penyanyi Louis Armstrong.


Pada tahun 1920, puluhan juta rekaman jazz terjual, seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri radio dengan pendengar yang meminta lebih banyak musik tersebut diputar. Jazz bukan lagi monopoli orang Afrika-Amerika semata, mereka yang berbeda warna kulit pun mulai menikmatinya, dan hal itu menjadi masalah.


Saat itu, mereka yang menganggap diri pakar dalam musik berpendapat bahwa jazz berantakan dan tak profesional, kebisingan yang dibuat oleh elemen masyarakat kelas bawah. Rasisme di AS masih sangat tinggi dan kondisinya serba-sulit untuk orang Afrika-Amerika, yang dianggap tak berpendidikan.

Karena tempat-tempat yang mau menerima orang Afrika-Amerika terbatas jumlahnya, kala itu musik jazz pun hanya bisa diperdengarkan di lokasi tertentu, seperti kelab malam atau rumah pelacuran. Mereka yang tak menyukai musik jazz lantas menyebut musik ini sebagai The Devil Music, atau Musik Iblis. Mereka beranggapan, jazz dimainkan untuk memikat para gadis kulit putih. Atau jazz membuat pendengarnya mabuk dan melakukan hal-hal buruk seperti bebas menari dengan pria Afrika Amerika.

Sementara di skena jazz itu sendiri, para pelakunya pun kerap terlibat utang-piutang dengan mafia. Musisi jazz yang kebanyakan datang dari kondisi ekonomi lemah, terjebak dalam popularitas dan narkoba. Kondisi yang buruk.

Pada 1927, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Radio atau Radio Act, di mana di dalamnya tercantum pelarangan memperdengarkan musik jazz di tempat umum. Di akhir 1920-an, setidaknya ada 60 komunitas di seluruh Amerika yang mengikuti kesepakatan tersebut.

Musik Jazz, Bentuk Perjuangan Kaum MinoritasDi masa 'tumbuh-kembang', musik jazz pernah disebut sebagai Musik Iblis. (morgueFile/ostephy)

Musik jazz dipandang subversif, usaha pemberontakan kaum Afrika-Amerika. Gaya improvisasi musisinya dinilai sebagai ketidakpatuhan. Namun hal ini justru membuat pelaku dan pencintanya semakin bersemangat. Pada akhirnya, jazz menjadi simbol perjuangan kaum Afrika-Amerika.

Baru-baru ini, Netflix merilis film dokumenter bertajuk 'Grass is Greener'. Di dalamnya, dijelaskan bahwa di era sulit itu, banyak musisi jazz yang menyanyikan lagu tentang ganja. Saat itu, pemerintah Amerika masih menolak mentah kehadiran tanaman tersebut dan hal ini memperburuk nilai sosial musik jazz.

Apalagi, waktu itu banyak lagu yang terang-terangan berbicara tentang ganja, yang disebut sebagai 'reefer'. Salah satunya, lagu 'Marijuana' dari Julie Lee dan 'When I Get Low, I Get High' yang dinyanyikan oleh Ella Fitzgerald.

Wanita dalam Musik Jazz

Di momen bersamaan, para wanita AS mulai menuntut hal-hal yang lebih tinggi dan lebih besar daripada hanya menjadi istri yang berdiam di rumah melalui gerakan bernama Women's Liberation Movement. Wanita Afrika-Amerika punya lebih banyak alasan untuk menyuarakan hati lewat musik jazz.

Musik Jazz, Bentuk Perjuangan Kaum MinoritasCandy Dulfer, seorang musisi wanita peniup saxophone yang pernah hadir di panggung Java Jazz Festival, Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Nama Rosetta Reitz menjadi penting di sini. Wanita kelahiran tahun 1924 itu adalah seorang feminis yang mempelajari, mencintai dan mengoleksi musik jazz. Ia mendirikan label rekaman yang memproduksi 18 album jazz dan blues yang dinyanyikan oleh hanya para wanita. Ia dikenal karena merekam ulang album-album bersejarah, meneliti latar belakang para musisi dan menulis catatan tentang mereka.

Peran wanita tak hanya di belakang layar. Mereka juga hadir di depan, sebagai penyanyi, penulis lagu, atau membuat aransemen lagu. Lambat-laun, mereka semakin percaya diri untuk memainkan alat musik seperti trumpet, saxophone, drum, atau bass.

Datang dari kaum minoritas, posisi wanita dalam musik jazz menjadi semakin minor. Melba Liston yang memainkan instrumen trombone selama lima dekade, mempunyai cerita hidup kelam. Ia didiskriminasi, dipukuli dan dilecehkan secara seksual. Namun Liston juga mendirikan jazz band yang semua personelnya wanita, menelurkan album legendaris 'Melba Liston & Her Bones' dan menjabat sebagai Direktur Studi Musik Populer di sekolah musik Jamaica Institute of Music.

Ada pula Lil Hardin Armstrong, seorang musisi jazz yang amat dihormati. Seorang komposer, pianis dan pemimpin band yang mempunyai peran penting untuk Louis Armstrong, serta meninggalkan jejak mengesankan di King Oliver's Creole Jazz Band, band legendaris di ranah jazz. Sejajar dengan kedua nama di atas, masih banyak wanita-wanita lain yang turut membentuk jazz sampai hari ini, misalnya pianis dan komposer Toshiko Akiyoshi yang belajar jazz secara otodidak di kedai-kedai jazz di Jepang.


Hari ini, Akiyoshi dikenal sebagai legenda Toshiko Akiyoshi Jazz Orchestra dan telah 14 kali menjadi nomine Grammy Award.

Di Indonesia sendiri, musik jazz pernah dianggap sebagai musik kaum elit. Tidak terjangkau seperti halnya musik pop. Pendapat yang lucu, karena siapa bisa menentukan apa yang harus didengar seseorang? Keberadaan platform musik seperti YouTube dan Spotify pun mengubah status 'mahal' jazz.

Hampir 100 tahun sejak populernya, musik jazz terus dimainkan dan diperdengarkan tanpa henti, orang dari berbagai kalangan mendengarkannya dan menari mengikuti irama, apapun ras dan warna kulit mereka. Seperti biasa, musik selalu memiliki caranya sendiri untuk menyentuh kehidupan seseorang. (rea)