Lucas Tumiso, 'Penyelundup' Karya 'Bumi Manusia' Pramoedya

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 16:14 WIB
Lucas Tumiso, 'Penyelundup' Karya 'Bumi Manusia' Pramoedya Lukas Tumiso berdoa di salah makam satu sahabatnya sesama Tapol dari unit 3, Waeapo, Pulau Buru, Ambon. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pramoedya Ananta Toer atau yang dikenal dengan panggilan Pram adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang dikenal sebagai penulis Tetralogi Pulau Buru. Tetralogi yang juga masyhur di luar negeri itu memiliki empat serial yakni: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Karya-karya itu Pram tulis ketika ia berada di pengasingan Pulau Buru, Maluku sebagai tahanan politik atau tapol.

Selama 10 tahun lamanya, Pram harus mendekam di pulau seluas 847.320 hektar itu dengan 12 ribu orang lainnya karena dituding sebagai simpatisan dan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) tanpa melalui proses pengadilan.


Saat Pram menulis karya-karyanya ia kerap dibantu oleh beberapa kerabat dekat. Salah satunya ialah Lukas Tumiso. Pram memang diizinkan menulis bahkan difasilitasi mesin tik dan kertas selama di pengasingan. Tapi naskahnya tidak boleh keluar dari pulau Buru.


Adalah Tumiso yang berhasil menyelundupkan naskah yang ditulis oleh Pram dan membawanya keluar dari Pulau Buru. Saat itu Pram merasa pesimis atas karyanya yang telah ditulis bisa keluar dari Pulau yang ketat dengan penjagaannya tersebut.

Menurut Tumiso, Pram mengetik naskah tak hanya rangkap satu, tapi sebanyak enam rangkap. Tujuannya untuk meminta bantuan orang-orang yang dipercayanya itu untuk mengoreksi naskahnya. 

"Pak Pram mengetik dan ditunjukkan untuk dikoreksi kalau ada yang salah," ujar Tumiso saat diwawancarai oleh CNNIndonesia.com pada 2015 silam.

Rekan-rekam Pram yang kerap memberi masukan atas naskah tersebut di antaranya Suprapto sebagai pakar hukum dan Oey Hay Djoen sebagai seniman.

Pramoedya Anantar Toer. (Dok. Istimewa)

Tumiso sangat yakin bahwa naskah yang ditulis oleh Pram adalah karya kelas dunia yang layak dibaca orang banyak. Maka dari itu, Tumiso bersikeras untuk menyelundupkan dan membawa kumpulan naskah yang sudah berbentuk buku keluar dari Pulau Buru.

Komandan Pulau Buru saat itu menjaga ketat naskah yang ditulis oleh sastrawan asal Blora itu agar jangan sampai keluar.

Saat Tumiso dibebaskan pada Desember 1979, ia menggabungkan naskah-naskah tersebut dengan pakaiannya yang akan dibawa pulang. Namun, bersama Pram dan Oey Hay Djoen, ia harus dibawa ke Magelang, Jawa Tengah untuk kembali dipenjara.

Ketika akan dijebloskan ke penjara, Tumiso harus melewati tahap penggeledahan terlebih dahulu oleh petugas. Ia sadar naskah yang dibawanya akan menjadi masalah jika ditemukan. Maka, saat itu Tumiso berpura-pura jatuh dan mengaku sakit sehingga ia tidak jadi digeledah.


Dari Magelang, hal yang serupa terjadi ketika akan dijebloskan ke penjara di Semarang. Cara yang sama ia lakukan yakni berpura-pura sakit agar terbebas dari penggeledahan. Walau sempat dicurigai, Tumiso berhasil membawa keluar naskah Pram dengan selamat.

Tumiso dibebaskan di Surabaya, daerah asalnya melalui Komando Daerah Militer setempat. Tak lama di Surabaya, Tumiso segera ke Jakarta pada awal 1980 untuk menyerahkan naskah Pram tersebut kepada penerbit Hasta Mitra, yang juga didirikan oleh Pram bersama Hasjim Rachman dan Joesoef Isak.

Akhirnya, naskah Pram dicetak dan dipublikasikan hingga dapat dibaca oleh khalayak. Sejak itu, karya-karya Pram diminati dari berbagai kalangan dari usia muda hingga usia tua. 


Bumi Manusia, yang menceritakan kehidupan Minke, pemuda pribumi Jawa saat zaman Hindia Belanda itu kini telah diadaptasi ke film layar lebar. Bumi Manusia bercerita soal kisah cintanya dengan putri campuran Belanda-Jawa, Annelies, buah pasangan Herman Mellema (Belanda) dan Sanikem alias Nyai Ontosoroh (Jawa). 

Minke juga mengkritik soal kondisi pribumi yang saat itu tetap akan menjadi masyarakat kelas kedua meski terdidik atau bahkan pernah mengenyam pendidikan di Barat.

Selain empat edisi Tetralogi Pulau Buru yang dikenal, Pram juga menulis karya buku lainnya yang berjudul Mangir, Arus Balik, dan Arok Dedes. Pram saat itu menghembuskan nafas terakhirnya pada 30 April 2006. Selama 81 tahun, Pram memberikan karya-karya terbaik khususnya untuk Indonesia dan menjadi sastrawan terbaik bangsa.

[Gambas:Video CNN] (DAL)