Sinopsis 'Tetralogi Pulau Buru' Karya Pramoedya Ananta Toer

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 15/08/2019 18:25 WIB
Sinopsis 'Tetralogi Pulau Buru' Karya Pramoedya Ananta Toer 'Tetralogi Pulau Buru' adalah salah satu karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer dengan Bumi Manusia menjadi buku pembuka.(Foto: CNN Indonesia/Suriyanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pramoedya Ananta Toer membuat roman sejarah yang dikenal sebagai Tetralogi Pulau Buru. Tetralogi ini memiliki empat serial: Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).

Tetralogi Pulau Buru diambil dari latar belakang terbentuknya negara Indonesia pada abad ke-20 yang menceritakan bagaimana sejarah Nusantara di masa lampau.

Pram, sapaan akrab Pramoedya Ananta Toer, merupakan seorang sastrawan terbaik Indonesia. Karya-karyanya sudah dikenal hingga mendunia. Semua karyanya tidak terlepas dari sejarah Indonesia yang dibentuk menjadi sebuah rangkaian tulisan.




Bumi Manusia

Mengulas 'Tetralogi Pulau Buru' Karya PramoedyaNaskah Pram yang ditulis di atas kertas semen masih disimpan rapi oleh Oei Hiem Hwie di Perpustakaan Medayu Agung, Surabaya. Oei Hiem Hwie, kawan Pramoedya Ananta Toer semasa dibuang di Pulau Buru. (Foto: CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)

Jilid pertama dari Tetralogi Pulau Buru adalah Bumi Manusia. Buku yang berlatar awal abad ke-19 dan abad ke-20 ini menceritakan seorang pemuda Jawa keturunan ningrat bernama Minke.

Minke bukanlah nama yang sebenarnya tapi berasal dari kata monkey (monyet) yang digunakan untuk panggilan si tokoh utama yang diberikan oleh gurunya. Tokoh Minke merupakan anak seorang bupati yang bersekolah di Hogere Burger School (H.B.S) Surabaya. Konon Surabaya memiliki anggapan bahwa kegiatan menulis menjadi suatu hal yang penting.

Minke dikenal sebagai putra pribumi yang cerdas dan pandai menulis, yang kemudian karyanya dipublikasikan di koran. Bumi Manusia menggambarkan karakter Minke sebagai pemuda yang revolusioner kerap menantang ketidakadilan terhadap bangsanya. Bumi Manusia juga menjadi roman pertama yang akan difilmkan di layar lebar Indonesia yang disutradarai Hanung Bramantyo.

Pram dalam tetralogi pertamanya, menggambarkan betapa terpuruknya kondisi pribumi dalam hegemoni kolonial. Penindasan semena-mena, pergundikan, dan munculnya strata sosial menempatkan pribumi di kelas paling rendah. Kondisi seperti itu membuat Minke melakukan perlawanan dengan membuat tulisan-tulisan di surat kabar.

Pertemuan Minke dengan sang mertua, Nyai Ontosoroh, juga menjadi katalisator jiwa perlawanan yang dimiliki Minke. Sejak awal, Nyai menanamkan kesadaran bahwa keadilan harus ditegakkan.

Nyai Ontosoroh merupakan seorang nyai simpanan Herman Mellema. Robert Mellema dan Annelies Mellema adalah dua anak hasil perkawinannya yang tidak pernah dianggap sah di mata hukum pengadilan kolonial Belanda.

Pada akhirnya, Minke dinikahkan dengan Annelies. Keduanya harus menjalani kisah pahit karena hukum memisahkan hubungan mereka. Annelies pergi ke rumah istri sah Herman Mellema yang digunakan sebagai tempat pengasingan. Sampai akhirnya, Annelies jatuh sakit karena jauh dari suaminya, sedangkan Minke dan keluarga Boerderij Buitenzorg mencari cara untuk menjawab masalah yang ada.
Sinopsis 'Tetralogi Pulau Buru' Karya Pramoedya Ananta ToerPotret Pramoedya Ananta Toer semasa muda. Salah satu karya sastrawan Indonesia ini adalah Tetralogi Pulau Buru yang diawali oleh buku Bumi Manusia. (Dok. Pribadi Pramoedya Ananta Toer)


Anak Semua Bangsa
Kelanjutan dari jilid pertama Bumi Manusia ini bercerita pertemuan Minke dengan seorang priyayi yang juga bersekolah di HBS Surabaya. Minke bertemu dengan Trunodongso, seorang petani yang menolak tanahnya disewakan secara paksa kepada perusahaan gula milik kolonial. Kejadian ini semakin meyakinkan dan menyadarkan rasa nasionalisme Minke.

Selain itu, pada Anak Semua Bangsa, Minke dihadapkan dengan kenyataan bahwa Annelies meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya. Hal ini membuat Minke dan keluarga semakin terpukul.

Dengan menulis, Minke menyusuri wilayah lain selain tempat ia menetap di Wonokromo. Semakin banyak orang baru yang berkenalan dengan Minke, semakin membentuk karakter dalam penulisan tentang persoalan yang ada.

Seiring kemajuan dunia modern, pribumi ditawarkan kebudayaan Eropa. Sehingga saat itu, pribumi terkesima akan perubahan yang terjadi akibat pengaruh Eropa. Minke mulai berkenalan dengan gerakan antikolonial di berbagai dunia. Minke menilai bahwa sikap pesimistis dan perasaan menerima saat diperbudak oleh bangsa Eropa adalah sebuah jeratan dalam budaya maju yang ditawarkan kepada kaum pribumi.

Melalui tulisan, Minke meyakinkan bahwa ia bisa memberikan gambaran tentang apa yang terjadi pada bangsanya, seperti penindasan, hukum kolonial yang semena-mena, atau para birokrasi pemerintah pribumi yang rela diperbudak demi mendapatkan sebuah pangkat.


Jejak Langkah
Ini adalah buku ketiga dari lanjutan seri Anak Semua Bangsa. Di buku ini diceritakan Minke melawan pemerintah kolonial dengan membentuk organisasi serta membangun pers. Itu digunakannya sebagai alat untuk memobilisasi massa agar terlibat melawan kolonial.

Pada 1901, Minke melanjutkan sekolahnya di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi. Siswa yang sekolah di sini akan dipekerjakan oleh gubermen (pemerintah kolonial Belanda). Semenjak sekolah, Minke tidak pernah berhenti untuk menulis. Tulisannya banyak yang berkaitan dan mengkritik pemerintah dan diterbitkan di koran.

Dengan membawa massa untuk melakukan perlawanan, perlahan organisasi kerakyatan lahir di antaranya Boedi Oetomo, Petani Samin, Serikat Dagang Islam, dan masih banyak organisasi pribumi lainnya. Tokoh-tokoh revolusioner juga kerap hadir dan bermunculan. Sadikoen, Tjipto, Haji Misbach, Marco, Sandiman, Haji Moeloek, Haji Samadi, Princess van Kasiruta (istri ketiga Minke), Siti Soendari, dan beberapa tokoh lain.

Medan Prijaji semakin dikenal masyarakat pribumi sebagai koran penerbit yang memuat persoalan tentang penindasan yang dilakukan oleh gubermen. Namun, Medan Prijaji mendapat sorotan dari gubermen dan mendapat peringatan. Minke, saat itu sebagai pemimpin Medan Prijaji ditangkap dan dibuang ke tempat pengasingan.

Sebelum ditangkap, Minke telah mengantisipasi penangkapannya. Sebelumnya, ia beserta kawan seperjuangannya melakukan pertemuan yang membahas nasib Medan Prijaji dan beberapa organisasi bentukan Minke. Hasilnya, telah disepakati agar Medan Prijaji dan organisasi tetap beroperasi semasa Minke menjalani masa penahanannya. Penangkapan Minke adalah langkah gubermen untuk menbendung kesadaran yang dibangun olehnya, yang terbangun lewat koran dan keikutsertaannya dalam organisasi.

Sebagai penutup jilid ketiga seri ini, Pram menyisipkan pesan, "Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan".
Potret Pramoedya Ananta Toer saat sedang bekerja menciptakan karya sastranya.Foto: Dok. Pribadi Pramoedya Ananta Toer
Potret Pramoedya Ananta Toer saat sedang bekerja menciptakan karya sastranya.

Rumah Kaca
Buku keempat ini menampilkan sosok tokoh Pangemanann, seorang juru arsip asal Manado yang diberikan perintah untuk mengawasi pribumi, khususnya mengawasi Minke pada saat berasa dalam kamp pengasingan.

Pangemanann telah mengetahui tokoh-tokoh yang dapat memengaruhi pribumi dan ingin menenggelamkannya. Penahanan, kegiatan surat-menyurat selalu diawasi olehnya.

Pangemanann yang diperbudak oleh jabatannya itu menimbulkan kegelisahan dan kerisauan saat ia harus menjaga orang yang dapat memengaruhi pribumi lainnya.

Cerita jilid empat ini diakhiri dengan situasi mengecewakan. Minke meninggal usai melihat media dan organisasi yang dibangunnya selama ini direbut oleh gubermen kolonial. Meski begitu, pengaruh Minke masih selalu membekas bagi pribumi.

Tetralogi Pulau Buru ini adalah karya sejarah dari Pramoedya yang menggoreskan tinta mengenai keadaan pribumi Indonesia yang tertindas oleh kaum kolonial. Karyanya dibuat ketika Pram mendekam di Pulau Buru. Konon, ia selalu menceritakan ulang roman sejarah ini kepada teman-temannya yang berada di pulau yang sama sebelum menjadi sebuah buku.

(dei/fef)