Review Album: Marion Jola, 'Marion'

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 13:45 WIB
Review Album: Marion Jola, 'Marion' Marion Jola tidak menawarkan hal baru meski ia mengisi pasar pop dengan merilis album perdana bertajuk 'Marion'. (Jung Yeon-je / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Solois Marion Jola lebih dulu dikenal sebagai seorang 'selebgram', daripada penyanyi. Ajang pencarian bakat yang menjadi batu loncatan Lala, begitu ia dipanggil, memang mengudarakan namanya. Terlebih setelah video dewasa yang diduga adalah dirinya beredar luas. Maka tak mengherankan jika ia kemudian jadi amat populer di salah satu media sosial yang mengutamakan visual.

Di sanalah keunggulan Lala. Ia bagaikan sebuah paket lengkap, antara penampilan dengan talenta yang dikemas cantik. Pengikutnya di Instagram bertambah pesat, ia sudah tak memerlukan aneka promosi yang menyusahkan dan makan banyak biaya. Lala bisa mempromosikan dirinya sendiri.

Apa yang berikutnya dibutuhkan Lala adalah lagu, karena ia telah mendapatkan momen. Di belakangnya, ada Laleilmanino, trio yang mendominasi kebanyakan lagu pop Indonesia hari ini. Marion, judul album tersebut, tiba dengan menghadirkan orang-orang yang sedang 'ramai' dibicarakan, seperti Rizky Febian dan rapper Tuan Tigabelas.


Di salah satu lagu yang baru-baru ini jadi single, Rayu, Laleilmanino sendiri turun tangan. Lala memulai dengan meluncurkan single demi single, sebelum benar-benar melepas Marion, jelang akhir Juli lalu.

Marion memuat 11 lagu, sebagian berbahasa Inggris, kebanyakan berbahasa Indonesia. Lala membuka perjalanan dengan Damba, lagu bergaya 90-an dengan lebih banyak nuansa elektronik. Sejak awal, Lala menyebut album ini bergaya pop RnB. Tentu, di dalamnya ada beberapa racikan berbeda, tetapi secara garis besar, Marion seolah melengkapi citra Lala selama ini: muda, fun, seksi.

Di atas itu semua, Marion adalah album yang dibuat untuk memenuhi keinginan pasar. Laleilmanino tahu apa yang mereka kerjakan, yang memang bisa mereka lakukan dengan baik. Marion memiliki lagu-lagu yang cocok diputar di kafe-kafe atau pusat-pusat perbelanjaan. Untuk pasar pop alias popularitas, album ini mempunyai segala persyaratan.

[Gambas:Youtube]

Jangan (feat Rayi Putra dari RAN) dan Tak Ingin Pisah Lagi adalah dua contoh mudah. Formula kedua lagu itu nyaris sama meski memiliki tempo berbeda. Tidak banyak kejutan di Marion, harus sedikit berusaha untuk menemukannya, misalnya seperti dalam So In Love.

Di Favorite Sin, Lala terdengar 'berusaha'. Sayangnya, ia justru tidak terdengar orisinal. Pergi Menjauh lebih tepat untuknya, baik secara vokal maupun aransemen musik. Dan karena menu yang serupa dalam Marion, It's Not Over Yet jadi terasa menyegarkan dengan durasi pendek.

[Gambas:Youtube]

Berlanjut ke Dia/Aku, lagu ini terasa nanggung di saat bersamaan. Ia seperti berada di tengah-tengah, tidak tahu harus ke mana, seperti sebuah lagu yang dijejalkan dalam daftar. Marion ditutup dengan Menangis Tanpa Air Mata, balada berisi keluh kesah Lala dalam percintaan. Lagu ini seolah melengkapi regulasi 'album populer' dan tak mengherankan, bila Marion kemudian memenangkan beberapa penghargaan pada 2018 dan 2019.

Pada akhirnya, Marion tidak memiliki warna baru. Semua berjalan dan ditempatkan sesuai porsi masing-masing: tidak ada yang istimewa, di beberapa tempat cenderung membosankan. Lala selalu bicara soal percintaan, yang disampaikan dengan bahasa pop. Sayang sebenarnya, karena ada lebih banyak hal yang bisa menegaskan citra dan karakter Lala.

Melalui Marion, Lala bukan hanya telah 'mengamankan' posisi di pasar populer, ia juga mendudukinya sambil bergaya.

[Gambas:Video CNN] (rea)