Iwan Fals dan Pembaca Diam-diam 'Bumi Manusia' saat Orde Baru

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 20:06 WIB
Iwan Fals dan Pembaca Diam-diam 'Bumi Manusia' saat Orde Baru Iwan Fals mengakui bahwa karya Pramoedya Ananta Toer membawa pengaruh kepadanya (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sastrawan Pramoedya Ananta Toer tak mati kreativitas meski dikurung selama sepuluh tahun di Pulau Buru oleh pemerintah Orde Baru.

Di sana, sastrawan yang dituduh komunis ini menghasilkan empat buku Tetralogi Buru, dibuka dengan Bumi Manusia. Semula, ia mengisahkannya melalui lisan kepada kawan di penjara sampai ditulis di atas kertas semen bekas tentara.

Baru ketika bebas pada 1979, Pram merangkai kembali karya itu dan menerbitkannya melalui Hasta Mitra setahun setelahnya. Namun halangan kembali datang, buku-buku itu dilarang edar.


Tapi penggemar Pram selalu ada cara menikmati karya sang maestro, termasuk membacanya diam-diam di bawah ancaman pengekangan dari pemerintah. Salah satu yang diam-diam membaca itu adalah Iwan Fals.

"Saya baca Tetralogi Buru semuanya, waktu itu bacanya masih sembunyi-sembunyi karena masih dilarang. Hanya karena baca bukunya Pak Pram saja, ketahuan, kita dipenjara waktu itu," kata Iwan Fals, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Meski terbilang mencekam, Iwan mengakui bahwa karya Pram itu membawa pengaruh kepadanya. Ia menyebut rasa nasionalismenya tergugah berkat karya Pram yang kemudian dituang ke berbagai lagu.

"Tulisan Pak Pram sangat kuat. Tulisan Pram juga membuat saya semangat menulis lagu," kata Iwan.

Iwan tidak sendirian. Aktor Donny Damara yang ikut terlibat dalam film Bumi Manusia juga membaca karya Pram ini dalam senyap saat pertama kali kenal pada 1986, kala dirinya masih kuliah.

"Dulu bukunya Pak Pram ada yang bentuk stensilan, ada yang bentuk buku. Bukunya tidak setebal sekarang. Bukunya tipis banget dulu, karena beda kertas juga kan," kata Donny saat ditemui CNNIndonesia.com dalam kesempatan terpisah, beberapa waktu lalu di Jakarta.
Iwan Fals mengakui bahwa karya Pramoedya Ananta Toer membawa pengaruh kepadanya. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Donny bersyukur lingkungan kampusnya kala itu tak melarang secara ketat. Bahkan ada momen mahasiswa dengan dosennya membaca karya Pram bersama-sama.

Namun tetap saja, pelarangan Bumi Manusia dan karya Pramoedya Ananta Toer lainnya membuat buku ini sulit didapat. Bahkan Donny mengaku hanya membaca versi fotokopian.

"Waktu kita baca itu gila banget, pada zaman era Soeharto itu semua dilarang. Dan sangat bangga bisa baca dia [Pramoedya] dan pemikiran-pemikirannya. Enggak bisa juga dibilang dia orang kiri," kata Donny.

Berburu di Bawah Ancaman

Pengalaman senada juga dialami oleh Tiny Frida, mantan jurnalis asal Surabaya yang sempat berburu mendapatkan buku Pramoedya. Pada 1980, ia sempat membeli Bumi Manusia di toko buku. Namun tak lama kemudian, buku itu dilarang edar.
Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. (CNN Indonesia/Suriyanto)
Toko Buku Sari Agung di Surabaya adalah lokasi Tiny mendapatkan Bumi Manusia pertama kali. Tak sulit waktu itu ia dan kawan-kawannya menemukan Bumi Manusia. Banyak buku itu masih bertengger di rak dengan harga yang awam, Rp2 ribu perak.

"Waktu pertama beli masih bebas, baru setelah sekian lama dilarang. Jadi begitu enggak boleh, untungnya sudah punya," kenangnya kepada CNNIndonesia.com, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Sosok Pram yang notabenenya adalah tahanan politik pemerintah, disebut berpaham komunisme, namun begitu bebas dari pengasingan malah bisa merilis dua buku sekaligus, disebut Tiny menimbulkan kegemparan publik saat itu.

Akan tetapi, Tiny memahami alasan lain karya Pram juga dicari oleh orang-orang. Meskipun diam-diam dari mulut ke mulut karena takut penjara bila ketahuan aparat.

Karya Pram, disebut Tiny, membuka pikiran sebagian besar pembacanya. Segala penuturannya menjadi inspirasi dan suguhan segar di tengah arus bacaan roman yang ramai di awal dekade '80-an itu.

Dulu, 'saingan' Bumi Manusia adalah Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar serta Badai Pasti Berlalu karya Marga T.

Tiny mengaku setelah buku itu dilarang edar, ia menyimpan rapat-rapat tak pernah dibawa keluar rumah. "Ya memang pelarangannya tidak sampai ada sweeping, hanya sekadar ditarik dari toko-toko buku, tidak boleh diperjualbelikan," katanya.

"Dan karyanya itu kan Tetralogi Buru, jadi yang sulit adalah ketika mencari sekuel-sekuelnya," lanjutnya yang kemudian mengaku untuk mendapatkan sekuel Bumi Manusia, orang harus merogoh kocek dalam-dalam, dan tidak di toko buku.

Untuk buku Rumah Kaca, Tiny mendapatkannya dengan harga Rp40 ribu, 20 kali lipat dari harga yang ia dapat ketika membeli buku Bumi Manusia.

"Saya dapat yang asli, tapi memang cetakannya tidak sebagus cetakan-cetakan buku yang lain," ungkapnya. (agn/end)