Belenggu Kehidupan Keluarga Pramoedya di Balik 'Bumi Manusia'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 17/08/2019 08:15 WIB
Keluarga Pramoedya Ananta Toer harus menerima beragam ancaman dan teror semasa sang sastrawan jadi tahanan politik dan diasingkan di Pulau Buru. Potret keluarga Pramoedya Ananta Toer. Ketika potret ini dibuat, Pram telah diasingkan di Pulau Buru. (Dok. Pribadi Pramoedya Ananta Toer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tatapan tajam terpancar dari sorot mata Astuti Ananta Toer, putri sulung sastrawan Pramoedya dengan Maemunah Thamrin, kala mengingat hari-hari berat selama sang ayah jauh dari rumah, diasingkan ke Pulau Buru.

Titiek -sapaan Astuti- ingat betul pahit dirinya menjalani hidup bertahan dari berbagai ancaman yang datang nyaris tiap hari saat itu, kala ayahnya jadi tahanan politik Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru, Maluku.

"Kadang kalau kami sedang kumpul, ada omongan yang enggak enak, 'pistol sudah di sini'," ungkapnya sambil menunjuk pelipis dengan jari membentuk simbol pistol.


"Ada yang datang tiba-tiba," lanjutnya.

Belum lagi, tutur Titiek, kedatangan orang-orang berseragam militer yang kerap meminta uang pada sang ibu, Maemunah. Jika tidak, salah satu dari mereka diancam akan dibawa.

"Itu kalau dari jauh sudah melihat ada orang pakai baju hijau datang, anaknya digulung dalam kasur zaman dulu, yang tipis, ada yang di kolong tempat tidur, di lemari, kalau tidak diambil anaknya," katanya.

"Itu yang bapak tidak pernah tahu, seram banget ya, kayak begitu," lanjutnya sambil bergidik.

Teror bukan hanya datang di rumah. Di sekolah, anak-anak Pram juga mendapatkan diskriminasi. Bahkan perlakuan itu datang dari guru yang mestinya menjadi orang tua kedua bagi anak di sekolah.

"Dulu Yudhis [putra bungsu Pram] ditanya, 'Heh kamu anaknya Pramoedya ya?' terus rambutnya dijambak, sambil diputarin di halaman sekolah," kata Titiek.

"Saya juga baru tahu baru-baru ini. Itu disimpan dia sendiri, karena kami tidak mau saling menyakiti," ujarnya. Ketiga mereka tumbuh dewasa, barulah saling membuka pengalaman masing-masing.

Namun bagi Titiek segala teror itu belum seberapa dibanding ketika ia menjenguk ayahnya di Pulau Buru. Di depan matanya sendiri, Titiek melihat ayahnya babak belur.

Titiek ingat bibir ayahnya sobek. Kuping sang sastrawan maestro Indonesia pun berdarah. Namun Pramoedya selalu berkelit ketika Titiek menanyakan penyebab babak belur itu.

Kecurigaan Titiek menjadi menakutkan kala suatu kali ia melihat para tahanan ditendang dengan sepatu tentara yang keras nan tebal.

"Bak buk bak buk, saya jadi kayak orang trauma kalau diajak ke sana. Tidak pernah mau lagi," kata Titiek.
Pramoedya Ananta Toer dan keluarga.Pramoedya Ananta Toer dan keluarga. (Dok. Pribadi Pramoedya Ananta Toer)
Ditodong Senjata

Pandangan Titiek semakin menerawang, tenggelam dalam ingatan yang lebih dalam akan sosok ayahnya.

Ia teringat, dirinya rela mendobrak ketakutan melihat penyiksaan militer hingga ditodong senjata oleh penjaga demi sang ayah, Pramoedya.

Titiek pernah suatu kali mengecek kegiatan Pramoedya yang tengah dipaksa kerja oleh penjaga. Bermodal info dari papan jadwal, Titiek mencari ayahnya yang sudah amat ia rindukan.

Ia memang bertemu ayahnya. Namun hatinya hancur melihat kondisi sang sastrawan kala itu: lunglai tak berdaya.

Titiek refleks mendekat. "Pi, papi, papi haus ya?" kata Titiek kepada Pram. Titiek tak sadar, senjata penjaga sudah teracung mengerikan kepadanya karena dianggap melanggar aturan.

Tangis Titiek pecah. "Ayahanda, ayahanda ini aku anakmu, papa haus ya?" teriak Titiek berusaha meyakinkan ayahnya yang sudah lemah bekerja keras.

Tangisan Titiek pun membuat tentara menurunkan senjata. Ia dibantu sejumlah orang yang iba untuk bisa mendekati Pram.

"Pak, anaknya tuh pak, bawakan minum," kata orang yang membantu Titiek mendekat ke Pram. Titiek pun memberikan minum kepada ayahnya yang lunglai di usia yang sudah kepala empat.

"Sudah nduk, sudah nduk, Papa sudah hilang hausnya," kata Pram, lemah.

"Ini aku bawa makanan," kata Titiek, masih berusaha menguasai emosi.

"Enggak, Papa enggak lapar," kata Pram.
Jalan yang dahulu kala dibuat oleh Pramoedya Ananta Toer dan para Tapol unit 3 lainnya. Waeapo, Pulau Buru, Ambon, Minggu, 6 Maret 2016. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono.Jalan yang dahulu kala dibuat oleh Pramoedya Ananta Toer dan para Tapol unit 3 lainnya. Waeapo, Pulau Buru, Ambon, Minggu, 6 Maret 2016. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Surat Pelipur Lara

Kini, Titiek tersenyum mengenang momen mengharukan itu, meski tak seutuhnya jelas ingat kapan itu terjadi.

Namun, pengalaman terpisah dari Pram yang dibawa ke Pulau Buru jelas menjadi yang paling berkesan dan penuh kerinduan.

Pram dijemput paksa oleh Angkatan Darat di rumahnya di Rawamangun pada 13 Oktober 1965. Empat tahun setelahnya, 16 Agustus 1969, ia dipindahkan ke Pulau Buru bersama 800 tahanan politik lain hingga 21 Desember 1979.

Selama masa itu, Pram dilarang menulis buku. Ia beserta tahanan lain dituntut untuk melakukan kerja paksa di sana. Sementara keluarganya, hidup dalam ancaman tanpa Pram di sisi mereka. Hanya surat sebagai pelipur lara dan kerinduan.

"Kami itu sekeluarga diwajibkan menulis surat untuk bapak, karena satu-satunya hiburan itu hanya membuat surat," kata Titiek.

"Dan satu-satunya dorongan untuk Pram bertahan hidup di sana adalah keluarga. Itu yang membuatnya kuat,"

Titiek mengaku kerap memberikan perintah kepada adik-adiknya untuk tidak memberikan kabar yang membuat orang tuanya sedih dalam surat itu.

Bahkan, hingga Pram dan Maemunah berpulang, Titiek dan adik-adiknya tak pernah memberitahukan siapa saja yang pernah mengancam dan meneror hidup mereka kepada orang tuanya.

Isi surat yang ditulis anak-anak Pram memang lebih bercerita soal kegiatan sekolah, kehidupan sehari-hari, atau sekadar menanyakan kabar sang ayah.

Namun, dalam surat itu juga terselip doa, kerinduan, serta keinginan yang tak terbendung untuk segera berkumpul. Kisah haru dan lucu pun ikut andil.

Ananda Rita misalnya. Pada 12 September 1973, ia menuliskan, "Papa, Rita sehat, papa mungkin juga. Di sana tanaman subur-subur, tadi Rita lagi di Batu Tulis melihat papa di TV lagi macul. Papa gemuk deh, Rita senang."

Dalam surat itu, ia juga menyampaikan agar ayahnya tidak perlu pusing-pusing memikirkan kondisi rumah sekaligus mencurahkan tingkah adik laki-lakinya, Yudhistira, yang susah makan.

"Yudi jarang makan, habis jajan melulu jadi tidak mau makan," tulis Rita.

Surat menyurat antara Pramoedya Ananta Toer dan keluarga masih berlanjut di halaman berikut...

Belenggu Keluarga Pramoedya

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK