Cerita Kelahiran Gundala dan Hasrat Superhero Rasa Lokal

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 31/08/2019 11:49 WIB
Cerita Kelahiran Gundala dan Hasrat Superhero Rasa Lokal Mendiang Hasmi, kreator Gundala, yang tak sempat menyaksikan wujud luar biasa dari karyanya. (dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang tahun 1970, tak banyak karakter pahlawan lokal di dunia perkomikan Indonesia. Gundala Putra Petir merupakan hasil tangan mendiang komikus Harya Suraminata, yang memiliki nama panggung Hasmi. Gundala memegang peran penting di sini, ia adalah salah satu karakter pahlawan super terpopuler.

Namun, tidak banyak yang mengetahui asal muasal Gundala. Kolektor dan pengamat komik Henry Ismono adalah seorang saksi hidup yang bisa mengisahkannya karena sungguh mengenal Hasmi.

Ia menulis sepotong cerita tentang kelahiran Gundala sebagai pengantar komik Gundala Putera Petir edisi remastered rilisan Bumilangit.


Ia menulis, kisah bermula pada 1968. Saat itu Hasmi bersama sahabat sekaligus rekan komikus Wid NS bertemu dengan Mukizi, seorang pria berdarah Jepang dan China pemilik penerbit Kencana Agung.

Alkisah, Mukizi meminta Hasmi dan Wid NS membuat cerita jagoan.

Kedua komikus itu ditawari honor Rp12,5 ribu per jilid. Lebih tinggi Rp5 ribu dari perkiraan Hasmi. Saat itu, Hasmi telah merilis Merayapi Telapak Hitam, dan Hadiah yang Terachir. Mendengar tawaran itu, ia memutuskan mengolah ulang karakter yang pernah ia gambar untuk majalah dinding sekolahnya semasa SMA. Tokoh tersebut kini dikenal sebagai Maza.

Di dalam hati, Hasmi menginginkan ada tokoh baru, karakter yang sanggup berlari amat cepat dan memiliki kekuatan petir. Ide petir ia dapat berdasar ingatan masa kecil ketika sambaran petir pernah memakan korban.

"Saya memilih petir karena fenomena itu memang ada di Indonesia. Saya juga terinspirasi tokoh Ki Ageng Selo yang konon bisa menangkap petir. Saya membayangkan tokoh berkekuatan petir," ujar Hasmi, seperti dituturkan Henry.

Sejak awal, Hasmi telah memiliki konsep kearifan lokal untuk karakter ini, antara lain dengan mengambil latar tempat di Yogyakarta, kota kelahiran sang komikus. Konsep 'rasa lokal' membuatnya berpikir, si karakter tidak boleh berlari secepat cahaya, karena itu tak masuk akal. Karakter itu haruslah humanis.

"Akhirnya saya pilih kecepatan lari Gundala, pokoknya bisa mengejar mobil," ujar Hasmi.

Sancaka, nama Gundala ketika tidak sedang berkostum warna hitam dan merah, adalah sosok manusia biasa. Menurut Henry, kedua warna tersebut menggambarkan pilihan pribadi Hasmi atas partai politik saat itu. Sementara, nama Sancaka sendiri dipilih berdasarkan kegemaran Hasmi kepada pewayangan.
Cita-cita Tak Kesampaian Hasmi, 'Ayah' Gundala Gundala tidak terlahir begitu saja. Hasmi sang kreator telah merancang konsep yang terlihat sepele, namun nyatanya menjadi 'kekuatan' kisah Gundala. (dok. Bumilangit.com)
Istri Hasmi, Plenok, menceritakan hal serupa dalam perbincangan dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu. Pewayangan, katanya, kerap menjadi sumber ide Bapak, demikian Plenok menyebut mendiang, saat membuat komik seperti Gundala.

"Bapak suka cerita pewayangan karena banyak tuntunan seperti percintaan, tutur kata. Jadi bisa diambil untuk pelajaran sehari-hari," tutur Plenok.

Hasmi disebutnya selalu gemar membaca dan mengoleksi komik buatan luar negeri seperti Captain Nemo, karakter fiksi karya Jules Verne pada 1828-1905. Begitu sukanya, Hasmi bahkan kerap menirukan cara berjalan Captain Nemo.

"Jadi sampai sekarang di komunitas tertentu Bapak bukan dipanggil Pak Hasmi, tapi Mas Nemo karena memang sejarahnya senang sekali [pada karakter Nemo] sampai digambar, diikutin," ucap Plenok bersemangat.

Sang istri mengingat meja di ruang tamu menjadi salah satu saksi bisu naik turun perjalanan komik Hasmi, terutama kala mengalami kebuntuan ide.
Cita-cita Tak Kesampaian Hasmi, 'Ayah' Gundala Salah satu sketsa karya tangan Hasmi. (dok. Pribadi)

"Pas cari ide, Bapak suka mondar mandir, kalau kata orang Jawa itu ngalor ngidul, tangannya di belakang. Pas sudah ketemu [ide], Bapak berhenti terus nyari kertas apa saja. Bapak juga suka duduk di sofa, kaki kanan diangkat ke kaki satunya terus tangannya pegang dagu. Kalau dapat ide, kertas tanggalan [kalender] disobek," kenangnya sambil tersenyum.

Ketika Hasmi sedang menggoreskan alat gambarnya di atas kertas, sudah menjadi tugas Plenok untuk turut memperhatikan ke mana kertas tersebut kemudian dibawa suaminya. Sebab, nantinya Hasmi bakal lupa tentang keberadaan kertas ide itu.

Setumpuk kertas kini tinggal jadi kenangan Plenok tentang suaminya. Hasmi meninggal dunia pada November 2016, tak lama setelah menjalani operasi usus.

"Karya-karya Bapak, alat gambar, alat tulis serta pewarna itu ada tempatnya sendiri di rumah, yang khusus punya Bapak," kata Plenok.

Sekalipun selalu terlihat sibuk dalam dunianya sendiri, Plenok menyebut Hasmi tak pernah segan turun tangan di urusan rumah tangga. Mencuci piring dan menjaga anak, misalnya. Di luar itu, kegiatan lain yang digemari Hasmi adalah menonton film.

Satu film bisa ditonton sampai berulang kali untuk melihat alur cerita serta teknik pengemasan, itulah salah satu cara 'belajar' Hasmi untuk mendapat inspirasi. Tak jarang ia mengajak keluarganya untuk nonton bersama.

Sebagai istri, Plenok mengaku kerap dimintai pendapat tiap Hasmi diajak terlibat dalam proyek seni, seperti film. Maka ketika Gundala Putra Petir akan diangkat ke layar lebar, Plenok pun mengetahuinya sejak awal. Menurutnya, 'perpindahan' Gundala dari komik ke bioskop memakan waktu cukup lama.

Telah dikomunikasikan bersama sejak 2010, proses produksi ternyata tidak berjalan sesuai rencana sampai Hasmi meninggal dunia. Namun, kata Plenok, setelah Joko Anwar ditetapkan sebagai sutradara, pihak Bumilangit kerap berdiskusi dengan Hasmi.

"Sekarang yang buat Pak Joko Anwar setelah Bapak sudah tidak ada. Tapi Bumilangit sudah ngobrol dan diskusi banyak sama Bapak. Finalnya sudah di pihak Bumilangit, legacy maupun screenplay yang memberi keputusan mereka," kata Plenok.

Senada pada Bumilangit, Plenok mengungkapkan, dirinya berharap ada banyak adegan laga dalam film Gundala. "Karena kayaknya keren seperti Avengers. Realisasinya memang banyak action. Sebatas itu. Saya percaya betul dengan Bumilangit dan pihak yang mengangkat Gundala," tuturnya.

[Gambas:Video CNN] (chri/rea)