Perjalanan itu ia mulai pada 1995 dengan terlibat dalam serial Lupus, sampai tahun 1999. Kala itu, ia masih memakai nama lama Robertino. Nama itu disandangnya hingga 2011. Adalah anak dan istri yang lantas memberinya nama Abimana Aryasatya.
Setelahnya, hampir setiap tahun Abimana berperan di film layar lebar, mulai dari Catatan (Harian) Si Boy, Republik Twitter, Belenggu, 99 Cahaya di Langit Eropa, Haji Backpacker, 3, sampai Negeri Van Oranje. Ia pun sempat menjadi nomine Piala Citra untuk Aktor Terbaik melalui Belenggu dan Haji Backpacker.
Lihat juga:Review Film: 'Gundala' |
Piala penghargaan pertama kali diraih Abimana pada 2016 sebagai Aktor Terlaris dalam Indonesian Box Office Movie Awards melalui film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Setahun kemudian, ia dinobatkan menjadi Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Indonesian Box Office Movie Awards 2017 melalui film Warkop DKI: Jangkrik Boss! Part 1.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Joko, Abimana memiliki gambaran sosok bertalenta dengan karakter yang kuat, namun rapuh layaknya manusia biasa. Cocok seperti Sancaka yang digoreskan oleh Hasmi. Ketika Joko mencoba 'meminang' Abimana untuk film Gundala, ia justru mendapat penolakan lantaran sang aktor sedang terlibat dalam proyek lain.
Joko tak pantang menyerah. Tak hanya bersikeras menunggu, ia juga berusaha mendekati Abimana melalui orang-orang terdekat.
Abimana menceritakan, ia keheranan ketika tiba-tiba istrinya kerap menyinggung soal Gundala. Atau satu saat, teks Joko masuk ke ponselnya tepat ketika ia menyelesaikan pekerjaan.
"Pas hari pertama gue menyelesaikan pekerjaan, Whatsapp masuk dan itu Joko Anwar. 'Lo baca draft dua deh, ini bagus loh. Gue nulisnya pakai hati'. Kok dia tahu ya hari ini gue sudah break?" kata ayah empat anak itu, setengah bertanya.
Abimana Aryasatya sebagai Sancaka, manusia biasa yang tersambar petir hingga punya kekuatan super. Demi keadilan, Sancaka menjadi pahlawan super bernama Gundala. (screenshot via First Look Film Gundala) |
Setelah memutuskan menerima tawaran peran sebagai Sancaka sekaligus Gundala, Abimana langsung giat berolahraga. Ia harus membentuk badan agar atletis. Bobot tubuhnya turun lima hingga enam kilogram.
Abimana menilai, Gundala adalah karakter pahlawan yang manusiawi. Bisa merasakan sakit, jatuh cinta, juga kebingungan. Abimana mengaku, menjadi Sancaka bukan hal mudah, terlebih kala ia menjalani syuting adegan laga yang kebetulan, muncul di awal, pertengahan hingga akhir film.
"Kadang-kadang gue betulan enggak bisa nafas. Untungnya kalau mulai memakai kostum gue bisa gantian dengan stuntman, jadi bisa istirahat dulu. Setiap tiga jam istirahat," ceritanya.
Namun, hal itu malah mengundang protes dari sang sutradara. Menurut Joko, stuntman kerap menunjukkan bahasa tubuh yang super layaknya pahlawan. Ia ingin menunjukkan sisi humanis Gundala, yang bisa kelelahan. Sekalipun wajah tertutup topeng, sisi itu tampak dari gestur tubuh sang aktor yang tak mungkin berdusta.
Abimana Aryasatya sebagai Gundala harus menjalani proses melelahkan dalam proses pembuatan film yang diarahkan oleh Joko Anwar itu. (dok Screenplay Films) |
Hal lain yang juga diandalkan Abimana kala menjadi Sancaka dan Gundala adalah insting. Meski berat karena kadang harus berpindah lokasi syuting untuk satu adegan, namun dalam prosesnya, ia jadi menikmati peran ini. Banyaknya orang yang terlibat di pembuatan film, mendapat pengalaman pertama karena harus melakukan beberapa hal baru, menambah nilai plus untuk Abimana, yang telah memiliki latar belakang ilmu bela diri perguruan silat Panglipur.
Sancaka dan Gundala diakui memberi banyak pelajaran bagi Abimana. Ia yang dalam kunjungan ke CNNIndonesia.com masih berahasia soal detail film Gundala berkata tentang karakter pahlawan super itu, "Petir itu bukan sekadar petir, nanti dia akan jadi sebuah simbol. Karena dia akan menyambar di salah satu indera Sancaka."
"Salah satu indera itu yang paling penting buat manusia sekarang. Yang sudah mulai jarang dibungkam," lanjut Abimana, menyunggingkan senyum kecil.
[Gambas:Video CNN] (chri/rea)
Abimana Aryasatya sebagai Sancaka, manusia biasa yang tersambar petir hingga punya kekuatan super. Demi keadilan, Sancaka menjadi pahlawan super bernama Gundala. (screenshot via First Look Film Gundala)
Abimana Aryasatya sebagai Gundala harus menjalani proses melelahkan dalam proses pembuatan film yang diarahkan oleh Joko Anwar itu. (dok Screenplay Films)