MUSIC AT NEWSROOM

Rangkak Perlahan Dipha Barus Jadi DJ

Tim | CNN Indonesia
Kamis, 26 Sep 2019 14:09 WIB
Aksi Dipha Barus dan Monica Karina di redaksi CNNIndonesia.com untuk Music at Newsroom dapat disaksikan secara live streaming pada Jumat (27/9) pukul 15.00 WIB. Dipha Barus bakal tampil di Music at Newsroom CNNIndonesia.com yang bisa disaksikan secara streaming pada Jumat (27/9). (Foto: CNN Indonesia/Daniela Dinda)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saat berusia 6 tahun, Dipha Kresna Aditya Barus belajar alat musik piano karena paksaan orang tua. Bukan agar bisa menjadi musisi andal, tapi agar bisa pintar dalam pelajaran matematika. Pun Dipha juga les pelajaran matematika.

"Bokap gue semacam percaya mitos gitu, kalau bisa main piano dan matematika, matematika lo akan bagus. Ya akhirnya gue suka matematika, malah gue enggak buka pelajaran yang hafalan," kata Dipha saat berkunjung ke kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Seiring pertambahan umur, pada usia 10 tahun Dipha mempelajari alat musik bass. Bahkan saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia masuk sekolah musik Farabi. Alih-alih lebih giat, ia malah sering bolos.

Keadaan itu membuat pria berdarah Karo ini berpikir dan bertanya. Apakah hidupnya harus dekat dengan musik? Dan apakah ia cocok mendalami berbagai edukasi musik? Dipha sampai di titik di mana ia ingin mempelajari musik lebih rinci.

Saat itulah Dipha menyelami musik lebih dalam.

Ia bersama sepupunya, David Tarigan, kerap blusukan ke Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. Di sepanjang jalan itu terdapat toko yang menjual barang antik, termasuk piringan hitam dari berbagai musisi, lokal maupun internasional.

"Kami bareng ke sana sepulang sekolah, tapi dia udah gede sih. Kalau abis beli piringan hitam kami bongkar bareng. Ya gara-gara sering nongkrong di Jalan Surabaya jadi tahu macem-macem musik," kata Dipha.

Belum berhenti sampai di sana, penggalian Dipha tentang musik semakin dalam ketika ia beranjak dewasa. Tepatnya saat menjalani kuliah jurusan desain grafis di Limkokwing University, Malaysia, pada 2004. Ia mempelajari produksi musik dan musik elektronik secara autodidak, salah satunya lewat YouTube.

Saat itu Dipha tertarik dengan genre musik drum and bass, cabang dari genre electronic dance music atau EDM. Aphex Twin adalah salah satu musisi yang ia 'sembah'. Perlahan ia mengenali subgenre EDM, seperti house dan techno.

"Gue main techno lama juga, dari 2004 sampai 2010. Waktu kuliah di Malaysia dari 2004 sampai 2008, gue sempat semi-residen (resident DJ) di salah satu klub. Jadi main musik sambil kuliah," kata Dipha mengingat masa lalunya.
Rangkak Perlahan Dipha Barus Menjadi DJDipha Barus dalam kunjungannya di kantor CNNIndonesia.com. (Foto: CNN Indonesia/Daniela Dinda)
Lulus kuliah, ia sempat bekerja di Malaysia sebagai desain grafis, sesuai jurusan kuliahnya. Tetapi profesi itu tidak bertahan lama, ia harus pulang ke Indonesia lantaran sang ayah sakit hingga meninggal. Dipha berduka.

Terlebih, saat itu di Indonesia belum banyak klub yang menerima musik techno yang ia mainkan. Kala itu musik techno sangat tersegmentasi. Akhirnya Dipha main di acara-acara komunitas yang waktu itu terbilang kecil, belum sebesar sekarang.

Demi menyambung hidup, Dipha bekerja sebagai customer service di salah satu toko buku yang terletak di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Di sana, jabatannya terus naik hingga bisa memperluas jaringan, salah satunya bertemu dengan orang-orang yang memiliki bisnis restoran.

"Gue inget banget, dulu gue tawarkan ke mereka, 'restoran lo butuh DJ, enggak?'. Dengan percaya diri gue mikir apa saja yang penting bisa jadi uang. Gua jelasin bahwa gue bisa main sesuai dengan segmentasi restoran," kata Dipha.

Bisa dibilang itulah momen titik balik Dipha dalam karier bermusik. Perlahan, ia merangkak dari bawah, main dari restoran satu ke restoran lain sampai dikenal. Ia kerap main di restoran yang dinaungi oleh Ismaya Grup.
Rangkak Perlahan Dipha Barus Menjadi DJPada 2018, Dipha Barus sempat berkolaborasi dengan Raisa. (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Seiring berjalannya waktu, komunitas musik techno semakin besar. Beberapa kali ia main dalam acara komunitas itu, salah satunya adalah Dance Till Monday. Namun harus diakui, bahwa musik techno memiliki pangsa pasar yang kecil di industri musik Indonesia.

Tak jadi masalah bagi Dipha, ia tetap nyaman menjalaninya sampai ia memutuskan bergabung dengan band Agrikulture pada 2010.

Agrikulture yang terbentuk pada 2003 bisa dibilang mengusung genre elektronik rock. Pada 2007, mereka merilis album Dawai Damai, lagu Kompor Meledug milik Benyamin yang diaransemen ulang dan Gosip berhasil menjadi hit.

Ternyata eksperimen Dipha keluar dari zona nyaman tidak cukup sampai di situ. Di waktu luang, ia menyempatkan meracik musik lain yang masuk dalam genre EDM. Pada 2016, ia merilis lagu bertajuk No One Can Stop US bersama penyanyi Kallula.

Dapat dikatakan lagu ini menjadi perkenalan Dipha ke pasar yang lebih luas, dengan rasa pop yang kental meski tergolong EDM. Pendengar yang sebelumnya tidak mengenal Dipha, mulai akrab dengan karyanya. Melambunglah nama Dipha Barus.

[Gambas:Youtube]

Dipha mengakui hal itu. Kebetulan pada masa itu memang industri musik dunia sedang ramai oleh musik EDM yang mengandung lirik dan bisa dinyanyikan, seperti lagu Summer milik Calvin Harris dan Lean On milik Major Lazer & DJ Snake.

"Setelah itu banyak teman-teman gue yang bilang kalau gue bikin lagu komersil, bagi gue musisi itu enggak bisa menentukan suatu lagu komersil atau tidak. Cuma media yang bisa menentukan pasarnya lagu," kata Dipha sembari sedikit tertawa.

Ia terus berkarya dan membuat lagu serupa No One Can Stop Us. Pada 2017 ia merilis All Good bersama Nadin Amiza dan pada 2018 merilis lagu Money Honey (Count Me In) bersama Monica Karina. Dua bulan lalu, ia merilis You Move Me bersama Monica.
Rangkak Perlahan Dipha Barus Menjadi DJMonica Karina dan Dipha Barus dalam Music at Newsroom di CNNIndonesia.com. (Foto: CNN Indonesia/Daniela Dinda)
Di sela-selanya, Dipha juga berkolaborasi dengan musisi lintas genre. Dalam Decide ia berkolaborasi dengan musisi hip hop seperti Ariel Nayaka, Matter Mos dan Ramengvrl. Kemudian lewat lagu Mine ia berkolaborasi dengan musisi pop, Raisa.

Bukan berarti Dipha tak lagi membawakan music techno dan subgenre musik elektronik lain. Ia memainkan musik itu dengan nama Mr Joyful Noise yang cukup sering mendapat tawaran main.

"Mr Joyful Noise lebih kayak musik eksperimental yang sisi dark side saya. Ya saya bisa main drum and bass, techno, segala macem gitu di situ. Waktu itu saya pernah main 6 jam di Zodiac," kata Dipha.

Aksi Dipha Barus dan Monica Karina menggoyang ruang redaksi CNNIndonesia.com untuk Music at Newsroom dapat disaksikan secara live streaming pada Jumat (27/9) pukul 15.00 WIB. (adp/rea)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER