Review Film: Perempuan Tanah Jahanam

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Jumat, 18/10/2019 18:21 WIB
Review Film: Perempuan Tanah Jahanam Perjuangan Joko Anwar menuntaskan 'Perempuan Tanah Jahanam' yang ia sebut sudah mulai ditulis sejak 2009 tidak sia-sia. Berikut reviewnya. (dok. Rapi Films/Base Entertainment)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perjuangan Joko Anwar menuntaskan Perempuan Tanah Jahanam yang ia sebut sudah mulai ditulis sejak 2009 tidak sia-sia. Film ini jauh lebih bagus dibanding karya dia yang tayang tak lama sebelum film ini.

Perempuan Tanah Jahanam bercerita tentang Maya yang diperankan Tara Basro yang ingin menelusuri misteri keluarganya. Ia tahu bahwa di sebuah desa, keluarganya meninggalkan rumah besar yang bisa dibuat jadi modal usaha.

Maya tidak sendiri. Sahabatnya yang bernama Dini yang diperankan Marissa Anita memaksa ikut meski sudah dilarang berkali-kali. Akhirnya keduanya menempuh perjalanan.


Saat itulah situasi demi situasi 'jahanam' dimulai.

Perempuan Tanah Jahanam memiliki naskah cerita yang kuat dan matang. Alur cerita tersusun dengan baik dari awal hingga akhir, sehingga tak ada kesan yang dipaksa muncul.

Bukan hanya dieksekusi dengan baik oleh Joko Anwar selaku sutradara dan penulis, cerita juga dibawakan dengan cemerlang lewat akting para pemain serta pengambilan gambar.

Bila sempat terbersit Perempuan Tanah Jahanam akan sama dengan Pengabdi Setan yang juga digarap oleh Joko Anwar pada 2017, maka anggapan itu akan terbantahkan.

Perempuan Tanah Jahanam menyuguhkan film horor yang berbeda dengan Pengabdi Setan.

Dari segi genre, Perempuan Tanah Jahanam terbilang horor psikologis. Rasa takut dalam film ini terbangun lewat psikologis para tokohnya, Maya dan Dini.
Review Film: Perempuan Tanah JahanamSecara review, Perempuan Tanah Jahanam menyuguhkan film horor yang berbeda dengan Pengabdi Setan. (dok. Base Indonesia/YouTube)

Kelebihan horor psikologis ini mampu membuat penonton merasakan ketakutan yang sama dengan tokoh dalam film, dengan kata lain Joko mampu membawa penonton ikut masuk ke dalam cerita.

Kesuksesan itu mungkin datang karena cerita dan akting yang kuat. Joko Anwar berhasil menjaga unsur ini dalam Perempuan Tanah Jahanam.

Dari awal hingga akhir film, ketegangan datang secara intens meski ada canda yang terselip di dalamnya.

Perbedaan yang dimiliki Perempuan Tanah Jahanam adalah tak banyak menampilkan sosok hantu, dedemit, atau pun jumpscare yang biasa jadi andalan film horor.

Joko Anwar agaknya sengaja tak memberikan penonton "aba-aba" bila penampakan hantu bakal muncul. Kejutan dari Joko untuk para penikmat dan pemburu hantu di layar lebar.

Bila diamati lebih mendalam, keseraman yang terbangun dalam Perempuan Tanah Jahanam lebih ditunjukkan lewat inti cerita, bukan hanya penampakan. Penonton akan merasa lebih ketakutan bila benar-benar memahami cerita secara utuh.

Review Film: Perempuan Tanah JahanamSecara review, aksi Christine Hakim sebagai Nyi Misni di 'Perempuan Tanah Jahanam' tidak perlu diragukan lagi. (dok. Rapi Films/Base Entertainment)

Film berdurasi 106 menit ini semakin menarik karena misteri rumit dibuka secara perlahan. Rasa penasaran penonton seolah dipupuk dari satu adegan ke adegan lainnya.

Penonton diajak terus berpikir dan menduga, mulai dari adegan Maya dan Dini menemukan kuburan anak kecil hingga mereka digantung terbalik.

Karena itu, amat disarankan untuk benar-benar memperhatikan adegan dari awal sampai akhir karena banyak yang saling berkaitan. Bila terlewat, bisa jadi penonton tak memahami cerita secara utuh.

Dari segi akting, kemampuan Christine Hakim sebagai Nyi Misni dan Ario Bayu sebagai Ki Saptadi tidak perlu diragukan lagi.

Namun bila membandingkan Tara dengan Asmara Abigail yang berperan sebagai salah satu warga desa, akting Asmara lebih baik ketimbang Tara.

Meski terbilang bagus, Perempuan Tanah Jahanam juga punya kekurangan. Salah satunya adalah logat medok dan penggunaan bahasa Jawa yang tidak konsisten. Hal ini cukup mengganggu kenyamanan dalam menyaksikan Perempuan Tanah Jahanam.

Film Perempuan Tanah Jahanam sudah tayang di bioskop pada 17 Oktober 2019.

[Gambas:Video CNN] (end)