Vokalis The 1975 Dukung Kebebasan Perempuan Iran Buka Jilbab

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 13/11/2019 16:41 WIB
Vokalis The 1975 Dukung Kebebasan Perempuan Iran Buka Jilbab Matthew Healy, vokalis The 1975 yang kerap bersuara lantang soal kondisi sosial politik dunia. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Vokalis The 1975 Matthew Healy menyuarakan dukungan secara terbuka terhadap seorang wanita Iran berusia 24 tahun, Yasaman Aryani yang tengah terancam hukuman penjara selama 16 tahun. Saat ini, Yasaman masih ditahan di penjara Evin yang dikabarkan kejam.

Yasaman Aryani ditangkap dan dituduh telah 'menghasut dan memfasilitasi tindakan korupsi dan prostitusi', setelah sebuah video yang menampilkan dirinya dan ibunya membuka kerudung di kereta khusus wanita di Iran.

Di akun Instagram pribadi, Healy menunjukkan dukungan dengan mengunggah gambar Yasaman. Ia menuliskan keterangan panjang, menceritakan peristiwa yang menimpa Yasaman secara mendetail.



"Saat itu adalah Hari Wanita Internasional 2019 ketika Yasaman dan ibunya melepas penutup rambut dan berjalan di kereta khusus wanita di Tehran, membagikan bunga," kata Healy.

"Yasaman berbicara soal harapannya di masa depan, di mana semua wanita akan memiliki kebebasan untuk memilih apa yang dikenakan, 'saya tanpa hijab dan Anda dengan hijab'. Setelah video ini jadi viral, Yasaman ditahan dan dituduh 'menghasut dan memfasilitasi tindakan korupsi dan prostitusi' dengan mengkampanyekan 'buka kerudung',"

The 1975 dalam penampilan di We The Fest 2016 di Jakarta. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
"Setelah pihak berwajib menahan Yasaman di sel isolasi dan mengancam menangkap keluarganya jika ia tidak 'bertobat', mereka menuntut hukuman 16 tahun penjara. Ia harus menjalani 10 tahun,"

"Hukuman kejam Yasaman adalah bagian dari tindakan yang meluas kepada wanita yang berkampanye menentang hukum berjilbab yang diskriminatif di Iran. Pemerintah Iran tidak boleh merenggut tahun-tahun terbaik Yasaman, hanya karena dia [Yasaman] percaya wanita seharusnya punya hak untuk memilih apa yang dikenakan."

[Gambas:Instagram]

Melansir NME, Healy kemudian menambahkan, "Masyarakat mana pun yang tidak menempatkan perempuan di garis depan agenda tak hanya memalukan, mereka juga abai terhadap fakta bahwa fungsi sosial dan ekonomi tergantung pada kekuatan wanita."

"Semua ide, negara, dan lembaga yang tidak memberdayakan perempuan dan tak menjamin mereka memiliki peran setara dalam masyarakat harus ditantang secara aktif," ujarnya.

Politik bukan hal asing buat Healy. Posisinya sebagai vokalis The 1975 kerap ia gunakan untuk menyuarakan pemikiran dan pendapat soal sosial politik.

Baru-baru ini di Hangout Music Festival di Alabama, Healy secara blak-blakan menantang keputusan kontroversial pemerintah setempat yang menetapkan aborsi adalah ilegal.

"Alasan saya merasa sangat marah adalah karena saya tak percaya [larangan itu] tentang melestarikan kehidupan, saya percaya ini semua tentang mengontrol wanita," katanya dari atas panggung.

Healy menegaskan, hal terpenting saat ini adalah kemerdekaan wanita atas organ reproduksi mereka sendiri. Ia tak lupa menyelipkan kritik pada pihak yang meloloskan larangan aborsi tersebut dengan mengatakan mereka 'bukan prajurit Tuhan, tapi misogonis bodoh'.

Di album terbaru mendatang, The 1975 secara spesifik menyoroti soal perubahan iklim. Mereka menggandeng aktivis Greta Thunberg yang menyampaikan monolog tentang krisis iklim dan ekologi saat ini.

Monolog berjudul 'The 1975' itu akan jadi pembuka album 'Notes on a Conditional Form', yang dijadwalkan rilis pada 2020. (daf/rea)