Usai will.i.am, Dua Musisi Klaim Jadi Korban Rasisme Qantas

CNN Indonesia | Rabu, 20/11/2019 10:05 WIB
Usai will.i.am, Dua Musisi Klaim Jadi Korban Rasisme Qantas Belum surut kasus rapper will.i.am, dua musisi kulit hitam lainnya juga mengaku menjadi korban rasisme pramugari maskapai Australia, Qantas. (AFP Photo/Peter Parks)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belum surut sorotan atas kasus personel Black Eyed Peaswill.i.am, dua musisi kulit hitam lainnya juga mengaku menjadi korban rasisme pramugari maskapai Australia, Qantas.

Melalui jejaring sosial Twitter, Erick Smith, yang biasa menjadi pemain bass untuk Janet Jackson, mengeluh diperlakukan tak adil dalam penerbangan dari Brisbane ke Sydney pada akhir pekan lalu.

Smith mengatakan bahwa ia sebenarnya sudah merasa terintimidasi sejak sebelum memasuki pesawat, di mana ia satu penerbangan dengan will.i.am.


Ia melihat semua musisi kulit putih dengan leluasa menaruh alat musik mereka di kompartemen atas tempat duduk.

"Duduk di dekat pintu keberangkatan, semua gitar milik (musisi kulit) PUTIH masuk ke dalam pesawat, tapi kalian meminta saya untuk memeriksa terlebih dulu (alat musik) saya," tulis Smith melalui akun Twitter pribadinya, @Pikfunk.


Smith menolak permintaan para awak kabin tersebut. Ia kemudian diminta untuk menandatangani pernyataan yang menyatakan bahwa kru Qantas tak bertanggung jawab jika terjadi kerusakan pada alat musiknya.

Menurutnya, kejadian ini janggal karena Smith sudah sering naik pesawat sambil membawa alat musiknya dan tidak pernah dihalangi saat ingin menaruh instrumen tersebut di kompartemen atas tempat duduk.

"Alat musik saya sama sekali tidak memakan tempat di kompartemen. Alat musik saya kecil dan muat di dalam kabin. Saya sudah sering terbang," tulis Smith.

Tak hanya Smith, musisi yang setia memainkan gitar dalam panggung-panggung 50 Cent's, Travis Ferguson, juga mengalami hal serupa. Ia tak diizinkan meletakkan gitar di dalam pesawat, sementara musisi kulit putih lainnya diperbolehkan.

Kisah Smith dan Ferguson menjadi sorotan setelah will.i.am menggaungkan tanda pagar #RacistFlightAttendant sejak akhir pekan lalu.

Melalui serangkaian kicauan di Twitter, personel Black Eyed Peas itu mengeluh karena pramugari Qantas bersikap berlebihan ketika ia tak mendengarkan keselamatan penerbangan.

Menurut musisi bernama asli William Adams tersebut, ia langsung menuruti perintah untuk meletakkan laptopnya ketika pramugari memintanya.

Namun, pramugari tersebut "amat kasar" dan membawa permasalahan itu ke tingkat selanjutnya dengan memanggil polisi.

"Saya tak ingin menyebutnya rasis. Namun, dia dengan jelas menumpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada orang kulit berwarna," kata will.i.am.
Usai will.i.am, Dua Musisi Klaim Jadi Korban Rasisme QantasKisah Smith dan Ferguson menjadi sorotan setelah will.i.am menggaungkan tanda pagar #RacistFlightAttendant sejak akhir pekan lalu. (Kimberly White/Getty Images for Breakthrough Prize/AFP)
Saat pesawat mendarat di Sydney, will.i.am sudah ditunggu lima petugas kepolisian yang meminta keterangan dari musisi itu.

"Terima kasih, Tuhan, penumpang lainnya bersaksi bahwa dia [pramugari] kehilangan kendali. Pihak kepolisian mengizinkan saya pergi," tulis will.i.am.

Meski demikian, Qantas membantah pernyataan will.i.am. Menurut mereka, insiden tersebut terjadi bukan karena rasisme.

"Ada kesalahpahaman di atas penerbangan, yang tampaknya telah diperburuk oleh will.i.am menggunakan headphone peredam kebisingan dan tidak bisa mendengar instruksi dari kru," kata pernyataan Qantas, dikutip dari AFP.

[Gambas:Video CNN]
Pernyataan itu berlanjut, "Kami akan menindaklanjuti dengan will.i.am dan berharap dirinya baik-baik saja hingga sisa tur."

Pada awal pekan ini, Qantas kemudian menyatakan bahwa mereka akan mendukung para kru jika ingin menggugat will.i.am atas tuduhan pencemaran nama baik.

"Jika anggota kru ingin membawa masalah ini lebih lanjut, kami pasti akan bersedia memberikan dukungan hukum bagi mereka," kata juru bicara Qantas. (has/has)