Review Film: Jumanji The Next Level

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Jumat, 06/12/2019 19:02 WIB
Review Film: Jumanji The Next Level Jumanji The Next Level terbilang patut jadi rekomendasi bagi penonton yang ingin mendapatkan hiburan dan tertawa lepas. (Dok. Sony Pictures Entertainment via YouTube)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seri film terbaru Jumanji bisa dikatakan sebagai produksi ulang film yang berhasil. Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) tidak merusak Jumanji (1995), pun begitu dengan film Jumanji: The Next Level yang rilis 4 Desember lalu.

Kali ini, Jumanji: The Next Level bercerita tentang Spencer (Alex Wolff) yang ingin kembali ke gim video Jumanji setelah hubungannya dengan Martha (Morgan Turner) tidak jelas.

Pada Jumanji: Welcome to the Jungle, Spencer mendapat avatar Smolder Bravestone (Dwayne Johnson) yang merupakan karakter paling kuat. Ia ingin mendapat avatar itu lagi.


Namun sayang, konsol gim Jumanji rusak meski sudah diperbaiki oleh Spencer. Hasilnya, ia tak bisa memilih avatar sesuai keinginannya itu.

Hal serupa terjadi dengan Martha, Fridge (Ser'Darius Blain) dan Bethany (Madison Iseman), yang memutuskan kembali ke Jumanji untuk menolong Spencer.

Sesuai dengan judul film ini, gim Jumanji jadi lebih sulit dibandingkan sebelumnya akibat kerusakan konsol. Terlebih, kakek Spencer yang bernama Eddie (Danny DeVito) dan temannya Milo (Danny Glover), ikut masuk ke gim dan sulit diajak kerja sama untuk menyelesaikan Jumanji.

Naskah yang kembali digarap oleh Jeff Pinker dan Scott Rosenberg serta dibantu oleh sutradara Jake Kasdan ini terbilang bagus, tak tertebak, dan terasa tak ada yang dipaksakan.

Review Film: Jumanji The Next LevelSesuai dengan judul film ini, gim Jumanji jadi lebih sulit dibandingkan sebelumnya akibat kerusakan konsol. (Dok. Sony Pictures Entertainment via YouTube)

Mereka masih menggunakan formula yang sama dari Jumanji: Welcome to the Jungle, yaitu menampilkan adegan menegangkan dan mencampurkan dengan unsur komedi.

Hal itu muncul seperti ketika para avatar mesti menyeberangi tebing lewat jembatan kayu dan tambang yang mudah berayun. Tantangan semakin bertambah ketika mereka harus melewati jembatan rapuh itu sembari dikejar Mandril, sejenis monyet yang ganas.

Di tengah ketegangan, avatar Bravestone yang dipakai oleh Eddie melakukan hal bodoh hingga membahayakan pemain lain.


Namun alih-alih minta maaf, ia malah merasa sebagai orang yang paling berperan menyelamatkan teman-temannya. Kekonyolan sederhana yang mengena.

Ditulis oleh penulis yang sama dan menggunakan pola yang serupa, Jumanji: The Next Level masih memiliki keterkaitan dengan sebelumnya, Welcome to the Jungle. Hal ini membuat penonton ada baiknya menonton film rilisan 2017 itu terlebih dahulu sebelum menyaksikan The Next Level.

Jumanji The Next Level semakin menarik karena berisi dialog yang rapi, padat, tidak bertele-tele. Selain itu, ada pula berbagai dialog jenaka pengundang tawa.

Meski begitu, ada pula dialog komedi yang gagal mengundang tawa karena penggunaannya yang terlalu sering dan cenderung membuat penonton bosan.

Hal yang patut jadi perhatian Columbia Pictures selaku studio film ini adalah masalah efek visual yang kurang halus di bagian awal. Untuk sekelas studio seperti Columbia, mestinya tak ada masalah terkait efek visual.

Soal akting para aktor, rasanya tak ada yang perlu diragukan, apalagi untuk Johnson (Bravestone), Jack (Sheldon) dan Kevin Hart (Franklin Finbat).

Mereka sanggup memainkan karakter yang berbeda sesuai dengan tokoh pemain yang menggunakan mereka sebagai avatar.

Secara umum, Jumanji The Next Level terbilang patut jadi rekomendasi bagi penonton yang ingin mendapatkan hiburan dan tertawa lepas tanpa harus berpikir keras sembari melepas penat.

[Gambas:Youtube] (end)