Analisis

Menyibak Sebab 'Kucumbu' Jadi Film Terbaik FFI 2019

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 18:37 WIB
Menyibak Sebab 'Kucumbu' Jadi Film Terbaik FFI 2019 Pengamat film Hikmat Darmawan menilai Kucumbu Tubuh Indahku bukan hanya memiliki kualitas film yang baik, melainkan juga relevansi sosial dan budaya. (dok. Fourcolours Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kucumbu Tubuh Indahku kembali mendapat sorotan positif. Film yang disutradarai Garin Nugroho ini keluar sebagai peraih penghargaan Piala Citra terbanyak dalam Festival Film Indonesia 2019.

Total film ini meraih delapan Piala Citra, yaitu Cerita Panjang Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Pengarah Artistik Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penata Musik Terbaik dan Penata Busana Terbaik.

Sebelum ajang penghargaan tertinggi perfilman Indonesia itu digelar, Kucumbu Tubuh Indahku digadang-gadang akan meraih banyak penghargaan. Banyak kritikus menilai film ini memiliki kualitas yang baik dari berbagai aspek. Film paket lengkap.


Secara garis besar film ini Kucumbu Tubuh Indahku bercerita tentang penari tradisional lengger bernama Juno (Muhammad Khan). Karakter itu terinspirasi dari penari bernama Rianto, mantan penari lengger yang menjajak level kaliber internasional dan menetap di Tokyo.

Hidup Juno sama sekali tidak mudah, sejak kecil ia mengalami berbagai kejadian yang sangat mengguncang hati dan pikirannya. Belum lagi ia harus nomaden untuk bertahap hidup. Ia kerap dianggap sumber kesialan karena identitasnya sebagai pria gay.

Atas cerita tersebut, Kucumbu Tubuh Indahku mencoba mengangkat tari tradisional lengger di Indonesia yang sangat jarang dan hampir punah. Lalu ceritanya memadukan dengan pengalaman pribadi seorang bernama Juno yang kuat dan mampu bertahan dalam berbagai keadaan.

Menyibak Sebab 'Kucumbu' Jadi Film Terbaik FFI 2019Kucumbu Tubuh Indahku mencoba mengangkat tari tradisional lengger di Indonesia yang sangat jarang dan hampir punah. (dok. Fourcolours Films)

Bukan hanya menarik, pengamat film Hikmat Darmawan menjelaskan bahwa cerita Kucumbu Tubuh Indahku sangat kuat. Penilain itu sudah bisa menjadi salah satu alasan mengapa dewan juri Piala Citra 2019 memilih film ini sebagai pemenang.

"Relevansi sosial itu penting dalam sebuah film. Film Kucumbu Tubuh Indahku mengandung relevansi sosial dan kultural Indonesia yang sangat tinggi," kata Hikmat kepada CNNIndonesia.com, Senin (9/12).

Bila membandingkan dengan nominasi lain, Hikmat menilai film yang memiliki relevansi sosial tinggi selain Kucumbu Tubuh Indahku adalah 27 Steps of May dan Dua Garis Biru. Tapi Kucumbu Tubuh Indahku ia anggap memiliki karakter yang lebih lengkap.

Kucumbu Tubuh Indahku mengisahkan bagaimana transaksi politik terjadi demi kekuasaan lewat kehidupan Juno, sedangkan masyarakat kerap dirugikan.

Hal itu dianggap sangat sesuai dengan kenyataan di Indonesia, baik pada zaman dahulu atau sekarang.

Kucumbu juga menggambarkan berbagai kekerasan yang dialami Juno secara langsung dan tidak langsung. Begitu pula dengan kenyataan di Indonesia, banyak tindak kekerasan dalam menangani sesuatu sehingga merugikan pihak lain.

"Film ini mengangkat aspek filosofi hidup dan filosofi tarian tradisional yang kebetulan berada di Jawa. Menggambarkan bagaimana masyarakat tradisional yang bergelut dengan perubahan sosial," kata Hikmat.

Selain cerita, Hikmat menilai aspek penyutradaraan Garin sangat luar biasa dan menjadi nilai tambah.

Pembangunan serta pengembangan karakter Juno sangat baik, dan aktor Muhammad Khan memerankan karakter itu dengan sangat baik. Terutama ekspresinya ketika tertarik dengan sesama jenis.

[Gambas:Video CNN]

"Dalam film ini Garin memadukan pesan yang jelas dan pesan metafora. Kalau melihat film-film Garin, pesan yang jelas itu seperti di film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, sementara pesan metafora seperti film Surat untuk Bidadari," kata Hikmat.

Aspek selanjutnya yang dianggap sebagai keunggulan dari Kucumbu Tubuh Indahku adalah pergerakan kamera dan sinematografi. Hikmat membandingkan pergerakan kamera dan sinematografi Kucumbu Tubuh Indahku dengan 27 Steps of May dan Dua Garis Biru.

Menurut Hikmat, film Dua Garis Biru memiliki komposisi gambar yang bagus dan seimbang selayaknya "proper film making". Film 27 Steps of May memiliki komposisi gambar yang puitis. Sementara itu, Kucumbu Tubuh Indahku memiliki keduanya.

"Kalau membandingkan dengan film-film Garin yang lain, Kucumbu Tubuh Indahku adalah capaian tersendiri baginya. Film ini memang khas Garin, bagus sekali dan memang layak menang," kata Hikmat.

"Garin berani eksperimen dalam film ini, seperti beberapa kali adegan monolog yang berfungsi sebagai narasi. Penonton ahli dan penonton awam tetap bisa menikmati dan menerima film ini." lanjutnya.

Aspek terakhir yang membuat Kucumbu Tubuh Indahku dianggap layak sebagai Film Terbaik FFI 2019 adalah tata musik yang digarap oleh Ramondo Gascaro. Musik-musik garapan Mondo dalam sangat 'kawin' dengan berbagai adegan dalam film. (adp/end)