Marie Fredriksson, dari Roxette Hingga Berjuang Lawan Kanker

CNN Indonesia | Rabu, 11/12/2019 13:47 WIB
Marie Fredriksson, dari Roxette Hingga Berjuang Lawan Kanker Tumbuh tanpa banyak pengawasan dan perhatian orang tua, Marie Fredriksson menemukan kecintaan pada musik dari teman-teman dan gereja. (Patrik STOLLARZ / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Vokalis band Roxette Marie Fredriksson meninggal dunia di usia 61 tahun, pada Senin pagi (9/12) waktu setempat setelah berjuang melawan kanker otak selama 17 tahun.

Penyanyi bernama lengkap Gun-Marie Fredriksson ini lahir pada 30 Mei 1958 di Swedia. Kala itu, orang tua Marie bekerja sebagai tukang pos dan buruh pabrik.

Hal itu membuat Marie bersama saudara-saudaranya tumbuh tanpa banyak pengawasan dan perhatian orang tua.


Pengalaman tersebut yang membuat Marie, dengan bantuan teman-teman, belajar bernyanyi, membaca not balok dan bermain alat musik. Marie juga menilai pendeta menjadi salah satu yang mendorong kecintaannya bermusik.

"Tiap sekolah minggu, saya dan Tina (saudara perempuan Marie) memiliki pendeta yang luar biasa di Östra Ljungby. Saya memiliki kenangan yang indah di sana. Saya menyukai semua lagunya. Itu menjadi sumber kebebasan bagi saya," kata Marie kala diwawancara Majalah Vi pda 2015.

Berangkat dari hal itu, kecintaan Marie terhadap musik makin bertambah ketika mengenal musisi-musisi legendaris seperti The Beatles, Joni Mitchell, Jimi Hendrix dan Deep Purple.

Ketika berusia 17 tahun, Marie Fredriksson memutuskan masuk sekolah musik di Svalöv Municipality. Ia berteman dengan murid-murid teater yang kemudian membuatnya menjadi salah satu anggota grup musikal.

Marie Fredriksson sempat tergabung dalam grup indie punk Strul bersama kekasihnya, Stefan Dernbrandt, kala itu. Strul beranggotakan banyak musisi seperti grup Gyllene Tider yakni Per Gessle dan Mats Persson.

Mereka membuat festival musik independen Strulfestivalen pada 1979 dan berlangsung tiga tahun berturut-turut hingga 1981.

Namun, Dernbrandt memilih keluar dari Strul setelah hubungannya bersama Marie Fredriksson berakhir. Marie mempertahankan Strul bersama gitaris Martin Sternhufvud.

Pertemanan dalam Strul membuat Marie Fredriksson mengikuti audisi produser Gyllene Tider. Hal itu disarankan Gessle karena meyakini Marie Fredriksson terlalu bertalenta jika hanya menjadi kibordis.

Keyakinan tersebut terbukti. Marie Fredriksson lulus audisi dan dikontrak menjadi solois oleh label rekaman EMI Sweden. Ia debut menjadi solois lewat album Hot Wind dan mulai melakukan tur.

Marie Fredriksson, dari Roxette Hingga Berjuang Lawan KankerTumbuh tanpa banyak pengawasan dan perhatian orang tua, Marie Fredriksson menemukan kecintaan pada musik dari teman-teman dan gereja. (AFP PHOTO / PATRIK STOLLARZ)
Pada 1986, Marie Fredriksson memenangkan Best Swedish Female dalam penghargaan Rockbjörnen. Penghargaan itu juga menandai tur keduanya sebagai solois.

Di tengah kesuksesan Marie, Gessle harus berjuang sebab album keduanya, Scener, hanya laku kurang dari 20 ribu keping. EMI Sweden kemudian menyarankan Gessle bekerja sama dengan Marie Fredriksson.

Saran tersebut berujung dengan 'kelahiran' Roxette dan lagu Neverending Love. Lagu itu menjadi salah satu lagu terpopuler di radio Swedia tahun itu.

Lagu-lagu mereka mulai makin mendunia ketika berkesempatan mengisi soundtrack orisinal film Pretty Woman lewat It Must Have Been Love. Bersama Roxette, Marie Fredriksson banyak meraih penghargaan internasional, salah satunya adalah MTV Video Award.

Namun, Marie Fredriksson mulai merasa kurang sehat usai jogging pada 2002. Ia merasa pusing dan pingsan di kamar mandi. Setelah menjalani pemeriksaan, ia ternyata memiliki tumor otak. Beberapa pekan kemudian, ia menjalani operasi pengangkatan tumor.

[Gambas:Youtube]

Setelah itu, Marie Fredriksson menjalani kemoterapi dan pengobatan radiasi. Hal itu sempat membuat matanya buta sebelah, kesulitan mendengar serta bergerak, tak bisa membaca, menulis hingga berbicara.

Hingga akhirnya pada 2005, Marie Fredriksson melakukan wawancara pertamanya bersama koran Swedia, Aftonbladet. "Tiga tahun ini sangat berat. Tapi saya sekarang baik-baik saja dan tak menjalani perawatan lagi," tuturnya.

Ia bertahan dalam belasan tahun ini dengan mulai kembali tur dan reuni Roxette. Hingga pada Senin (9/12), Marie Fredriksson mengembuskan nafas terakhir. (chri/end)