Review Single: Pearl Jam - Dance Of The Clairvoyants

tim, CNN Indonesia | Kamis, 23/01/2020 17:09 WIB
Review Single: Pearl Jam - Dance Of The Clairvoyants Pearl Jam merilis lagu terbaru bertajuk Dance Of The Clairvoyants setelah tujuh tahun. (KENA BETANCUR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pearl Jam tak main-main ketika mengatakan bersemangat melakukan eksperimen di album terbaru, Gigaton. Lagu pertama dari album kesebelas itu bertajuk Dance Of The Clairvoyants, dirilis pada Rabu (22/1).

Dance Of The Clairvoyants memperdengarkan intro tak terduga yang untuk ukuran Pearl Jam, terbilang 'funky', mengutip Rolling Stone. Semakin ke tengah lagu, karakter utama band Seattle ini makin muncul, terutama dengan petikan bass tebal dan tentu, vokal Eddie Vedder yang bagai instrumen keenam.

Didengar sekilas, lagu ini mengingatkan pada gaya Red Hot Chili Peppers, mungkin juga The Strokes. Apapun itu, Pearl Jam rasanya akan tetap mengejutkan penggemar yang telah menunggu tujuh tahun untuk karya terbaru itu. Pertama kali mendengar Dance Of The Clairvoyants, buang jauh-jauh impian seperti dalam Pendulum, apalagi Jeremy.
Bukan berarti lagu ini tak layak, justru sebaliknya. Namun penggemar yang mengharapkan gaya lama Pearl Jam tampaknya bakal butuh waktu untuk mendengarkan Dance Of The Clairvoyants, setidaknya dua-tiga kali putar.


Pearl Jam masih mengusung semangat yang sama, meski sound yang diperdengarkan sedikit berbeda, terutama pada gitar. Gitaris Mike McCready mengatakan pada NME, menyelesaikan album Gigaton membutuhkan ekstra usaha dan kesabaran.

"Membuat album ini adalah sebuah perjalanan panjang. Banyak emosi gelap dan kebingungan, tetapi juga semangat dan eksperimen musik," katanya.
Review Single: Pearl Jam - Dance Of The ClairvoyantsVokal Eddie Vedder bak instrumen keenam Pearl Jam, mengokohkan karakter dalam Dance Of The Clairvoyants. (Rob Loud/Getty Images/AFP)
Kesan yang paling kuat dari Dance Of The Clairvoyants, adalah gaya drum elektronik. Tidak sampai seperti Nine Inch Nails, tetapi tetap saja mengejutkan. Vokalis Eddie Vedder sebelumnya pernah berkata dirinya tertarik pada musik techno.

Vedder juga mengungkapkan, ia pernah mempelajari musik techno lewat 'bantuan' pil ekstasi. Upaya itu, katanya, gagal.

"Saya mendengarkannya [musik techno] dengan ekstasi. Saya bertanya-tanya, 'apakah mereka menulis lagu di bawah pengaruh ekstasi?'. Saya putuskan cara paling murni untuk melakukannya adalah menelan ekstasi, lalu menulis musik ekstasi," katanya.

Vedder menambahkan, "Hal itu tidak bekerja sebagaimana yang saya harapkan. Tapi saya menikmati pengaruh ekstasi."

Mungkin Vedder sudah menemukan rahasia di balik apapun 'musik ekstasi' yang ia maksud, mungkin juga mereka masih belum selesai bereksperimen dengan beragam formula. Untuk mengetahuinya, harus terlebih dahulu mendengarkan seluruh materi Giganto, yang baru bisa disimak mulai 27 Maret mendatang.

Sembari menunggu album terbaru dirilis, izinkan diri sendiri menari bersama Dance Of The Clairvoyants, salah satu lagu paling pop dalam koleksi. Pelopor musik grunge, yang hanya sedikit sekali yang tersisa dan bertahan, Pearl Jam pasti akan kembali.

[Gambas:Youtube]


(rea)