Kebakaran di California Ancam Industri Piringan Hitam

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 13/02/2020 00:15 WIB
Kebakaran di California Ancam Industri Piringan Hitam Ilustrasi piringan hitam. Para pelaku industri disebut waswas karena kebakaran yang melanda salah satu pabrik penghasil vinyl di California. (Foto: Mink Mingle/StockSnap)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebangkitan popularitas vinyl atau yang juga dikenal sebagai piringan hitam terancam. Industri percetakan vinyl merasa waswas akibat kebakaran yang disebut menghancurkan pemasok utama di California.

Dalam beberapa tahun belakangan, vinyl kembali populer dan jadi buruan kolektor. Namun dilaporkan AFP, salah satu produsen utama pernis yang memproduksi vinyl, Apollo Masters mengalami kerusakan parah akibat kebakaran hebat yang melanda pabrik dan gudang penyimpanannya di California. Penyebab kebakaran saat ini belum diketahui.

Pada 2018, angka penjualan vinyl mencapai puncak tertinggi sejak tahun 1998, dengan total US$419 juta. Berdasarkan Recording Industry Association of America (RIAA), angka itu mengalami kenaikan sebesar 8 persen dari tahun sebelumnya.


Kini, para pelaku industri takut apabila kebakaran pabrik pernis ini akan mengganggu produksi dan penjualan vinyl.

"Ini terlalu dini untuk memprediksi bencana tetapi kita semua bisa sepakat bahwa ini adalah waktu yang sangat menakutkan bagi kita semua di industri ini," ujar Gil Tamazyan, bos percetakan vinyl asal Los Angeles, Capsule Labs.

Tamazyan juga mengaku mengkhawatirkan bahwa akan ada penundaan produksi vinyl sebelum solusi dari masalah ini ditemukan.

Menurut Tamazyan, kehancuran pabrik Apollo Masters membuat perusahaan vinyl asal Jepang, MDC menjadi satu-satunya pemasok pernis di dunia, yang sebelumnya hanya menyediakan sekitar 20 persen stok di seluruh dunia.

"Bencana untuk industri percetakan vinyl," cuit Duplication, perusahaan vinyl asal Kanada di Twitter.



Walaupun kebakaran ini seperti sebuah pukulan telak, koordinator vinyl Duplication David Read menilai peristiwa ini tidak akan menjadi akhir dari industri.

"Industri ini akan bangkit lagi seperti sebelumnya," ujar Read.
Ilustrasi vinyl yang kembali jadi buruan kolektor dalam beberapa tahun terakhir. (AFP PHOTO / GUILLAUME SOUVANT)
"Ingatlah, bahwa vinyl dianggap 'mati' 20 tahun yang lalu, kecuali untuk mereka yang masih menyimpannya sampai sekarang,"

Read menambahkan, kerugian ini bisa berdampak pada penumpukan dan kenaikan harga vinyl, tetapi juga bisa memacu pertumbuhan dan keterlibatan inovator baru.

Piringan hitam dibuat dengan cara memotong alur di permukaan vinyl untuk membuat rekaman induk, kemudian cetakannya dapat disalin. Metode lainnya dengan menggunakan Direct Metal Mastering (DMM) di mana vinyl dibentuk langsung dengan plat tembaga.

Sampai saat ini, belum ada pabrik DMM yang tersedia di Amerika, sementara di Eropa hanya ada delapan pabrik. Read berharap agar label mau mengulur waktu lebih lama untuk proyek-proyek yang sudah disepakati, supaya semuanya bisa berjalan semulus mungkin.

"Vinyl tidak akan ke mana-kemana, percayalah!" kata Read.

[Gambas:Video CNN] (gld/rea)