Sejumlah Artis dan Atlet Korea Diduga Langganan Nth Room

CNN Indonesia | Kamis, 26/03/2020 12:04 WIB
Sejumlah Artis dan Atlet Korea Diduga Langganan Nth Room Ilustrasi pelecehan seksual. (Istockphoto/KatarzynaBialasiewicz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah artis laki-laki serta atlet Korea Selatan dilaporkan menjadi bagian pelanggan berbayar forum Nth Room di jejaring sosial Telegram.

Nth Room merupakan grup yang menyebarluaskan video pelecehan seksual anak di bawah umur. Para anggota grup menggunakan mata uang kripto seperti bitcoin untuk membayar video tersebut.

Hal tersebut pertama kali diberitakan Insight via Pitch One yang menyatakan grup Nth Room memiliki anggota dari kelas terpandang.


"Banyak profesor, artis terkenal, atlet terkenal, serta orang-orang yang sangat terkenal masuk daftar anggota Nth Room," tulis Pitch One.

Penggunaan mata uang kripto selama ini dikenal sulit untuk ditelusuri. Namun, sistem pertukaran di Korea Selatan menggunakan seluruh informasi pribadi pengguna.

Sehingga, kini polisi diyakini hanya tinggal menunggu waktu untuk melacak serta membongkar seluruh anggota.

Cho Joo-bim, pelaku pelecehan seksual yang menyiapkan konten untuk Nth Room juga menggunakan sistem pertukaran menggunakan mata uang kripto demi mencegah identitasnya terungkap. Namun, ia menjadi orang yang pertama ditemukan polisi.

Dalam laporan yang sama, Nth Room diperkirakan memiliki 10 ribu pelanggan berbayar. Polisi saat ini telah menangkap 128 tersangka terkait Nth Room dan 18 di antaranya telah dijebloskan ke penjara.

Penyelidikan ini merupakan lanjutan setelah Departemen Keamanan Siber Badan Kepolisian Metropolitan Seoul menangkap salah satu pelaku utama Nth Room, Cho, atau yang dikenal sebagai Dokter dalam forum tersebut pada 20 Maret.

Cho bersama tersangka lainnya diduga memikat perempuan, kebanyakan anak di bawah umur, dengan tawaran kerja paruh waktu dan hadiah sertifikat. Setelah terpikat, para perempuan akan dipaksa untuk menjadi pemain video porno. Pelaku juga mengirimkan video porno kepada perempuan itu.

Para tersangka juga saling membagikan bahkan menjual video tersebut dalam ruang obrolan di layanan pesan Telegram dengan imbalan bayaran mata uang kripto.

(chri/end)