Nth Room, Kasus Video Pelecehan Seksual via Medsos di Korsel

CNN Indonesia | Jumat, 27/03/2020 14:34 WIB
Kasus Nth Room membuat geger warga Korea Selatan, bahkan para seleb juga ikut dalam petisi meminta kasus ini dibongkar dan diungkap ke publik. Kasus Nth Room membuat geger warga Korea Selatan, bahkan para seleb juga ikut dalam petisi meminta kasus ini dibongkar dan diungkap ke publik. (Istockphoto/Favor_of_God)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah wabah virus corona, masyarakat Korea Selatan kini juga dihadapkan dengan permasalahan baru yakni penyebaran kekerasan serta pelecehan seksual dalam grup Telegram atau yang dikenal sebagai Nth Room.

Nth merepresentasikan banyak ruang percakapan yang dibuka oleh pelaku untuk mendistribusikan video-video pelecehan serta kekerasan seksual yang dialami 74 perempuan, 16 orang di antaranya anak di bawah umur.

Pelaku menargetkan rata-rata perempuan di bawah umur dengan tawaran kerja paruh waktu dan hadiah sertifikat. Setelah terpikat, korban akan dipaksa untuk menjadi pemain video porno.


Tak hanya itu, para korban juga kerap mengalami kekerasan seksual bahkan diperlakukan layaknya budak.

Apabila hendak kabur dan berhenti, korban diancam dengan penyebaran identitas diri dalam video tersebut. Foto-foto telanjang juga dikirimkan langsung kepada korban.

Sementara itu, Nth Room memiliki lebih dari 260 ribu anggota yang masuk dalam grup yang memiliki tarif berbeda-beda.

Beberapa grup memiliki hampir 10 ribu anggota yang berlangganan konten video kekerasan seksual tersebut. Mereka bahkan membayar video tersebut dengan mata uang kripto yang setara 1,5 juta won atau Rp19,8 juta (1 won=Rp13,23) per video.

Media lokal, Insight via Pitch One mengungkapkan banyak orang-orang ternama mulai dari profesor, atlet, hingga artis yang masuk dalam 10 ribu pelanggan berbayar tersebut.

Kronologi Kasus

Kasus ini bermula pada 20 Maret ketika Kantor Kepolisian Metropolitan Seoul menangkap Baksa, pembuat serta admin grup penyebaran video kekerasan seksual yang sebagian besar korbannya adalah anak di bawah umur.

Kala itu, polisi belum membuka identitas Baksa. Hal tersebut membuat warga Korea Selatan emosi dan membuat petisi supaya pemerintah membongkar identitas predator serta para anggotanya. Lebih dari 2 juta orang menandatangani petisi tersebut pada 23 Maret.

Pada hari yang sama, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menginstruksikan Kantor Kepolisian Metropolitan Seoul untuk benar-benar menyelidiki kasus tersebut hingga tuntas seperti seluruh anggota grup, termasuk yang bukan admin dan yang telah menyebarluaskan.

"Polisi harus menangani kasus kejahatan serius ini dan benar-benar menyelidikinya," ucap Presiden Moon Jae-in lewat Juru Bicara Kepresidenan, Kang Min-seok.

Presiden Moon Jae-in bahkan ingin Kepolisian membentuk tim investigasi khusus apabila dibutuhkan supaya permasalahan tersebut segera selesai. Moon Jae-in juga meminta aparat penegak hukum melihat hal tersebut dari kejahatan digital terhadap anak-anak serta remaja.

Pada 24 Maret, tujuh anggota komite Kantor Polisi Metropolitan Seoul menggelar rapat untuk memutuskan akan membuka atau tidak identitas pembuat dan admin Nth Room.

Mereka sepakat mengungkapkan identitas Baksa alias Dokter. Baksa merupakan panggilan untuk Cho Joo-bin, pria berusia 25 tahun yang menjadi distributor video pelecehan serta kekerasan seksual dalam Nth Room.

Nth Room, Kasus Video Pelecehan Seksual via Medsos di KorselPresiden Korea Selatan Moon Jae-in menginstruksikan Kantor Kepolisian Metropolitan Seoul untuk benar-benar menyelidiki kasus Nth Room hingga tuntas. (Stephanie Keith/Getty Images/AFP)

Pada 25 Maret, Cho Joo-bin untuk pertama kalinya dipertontonkan kepada masyarakat dan dipindahkan ke Kantor Kejaksaan Distrik Pusat Seoul untuk penyelidikan lebih lanjut. Kasus ini ditangani 21 penyidik khusus yang dibentuk Kejaksaan.

"Saya meminta maaf kepada semua orang yang dirugikan karena hal ini, termasuk Presiden Sohn Suk-hee, Wali Kota Yoon Jang-hyeon dan Jurnalis Kim Woong," kata Cho Joo-bin seperti dilansir Yonhap.

Polisi memastikan ketiga orang yang disebut itu tidak terlibat kasus kejahatan seksual tersebut. Polisi sedang menyelidiki kemungkinan mereka menjadi korban kasus penipuan lain yang dilakukan Cho.

"Saya berterima kasih karena telah menghentikan kehidupan iblis yang tidak bisa disetop ini," tutur Cho Joo-bin. Ia tak menanggapi pertanyaan tentang mengakui kesalahan atau menyesal telah melakukan hal tersebut.

Anggota Bunuh Diri

Pada 26 Maret, Kantor Polisi Metropolitan Seoul mengatakan sedang menelusuri seluruh anggota Nth Room lewat tiga pertukaran mata uang kripto. "Kami menganalisis data dari pertukaran mata uang tersebut dan agen yang menjual," kata perwakilan resmi Kepolisian.

Hingga Jumat (27/3), polisi telah memeriksa 126 orang terkait Nth Room dan menjebloskan 19 orang, termasuk Cho Joo-bin, ke dalam penjara.

Namun, salah satu anggota Nth Room dilaporkan meninggal dunia akibat bunuh diri di Jembatan Yeongdong. Jumat (27/3), Kantor Polisi Gangnam mengidentifikasi pelaku, seorang pria berusia 40 tahun meninggal pukul 2:47 pagi waktu Korea.

Ia diduga ketakutan setelah mengetahui polisi akan menelusuri seluruh anggota Nth Room. Dugaan muncul karena polisi menemukan surat yang ditinggalkan laki-laki tersebut.

"Saya telah memberikan uang kepada Doctor (Cho Joo-bin) di Nth Room. Saya tidak tahu situasi ini menjadi sangat besar," tulisnya dalam surat tersebut. (chri/end)