Review Album: Justin Bieber - Changes

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 04/04/2020 09:41 WIB
Pangeran Pop kembali dengan album baru. Changes menjadi karya yang sayangnya, tidak lebih dari deklarasi cinta kepada sang istri. Justin Bieber dalam video musik Yummy. (Foto: dok. YouTube/Justin Bieber).
Jakarta, CNN Indonesia -- Justin Bieber membutuhkan waktu lima tahun sebelum merilis Changes sejak era Purpose (2015). Jeda paling lama dari diskografi yang dimulai sejak My World 2.0 (2010), namun JB ternyata tidak memberikan kesegaran seperti yang diharapkan.

JB memutuskan menghilang setelah Purpose. Ia memilih fokus pada kehidupan pribadi dan kesehatan mental. Sebagai seorang bocah yang meraih sukses luar biasa sebelum 17 tahun, JB memang telah mengalami banyak hal. Mata dunia mengawasi setiap gerak-geriknya, mulai putus-sambungnya dengan Selena Gomez, sampai berbagai ulah yang dinilai tak pantas oleh publik. Segala hal tentang JB adalah berita.

Tahun lalu, ia tiba-tiba mengumumkan telah menikah dengan Hailey Baldwin yang disebut sebagai teman lama. JB lantas mendedikasikan album Changes untuk sang istri, dan merilis Yummy sebagai single pertama.


Keputusan ini tak mudah dipahami. Changes memiliki 16 lagu, mengapa Yummy menjadi yang pertama? Pemilihan itu seolah menunjukkan rasa tidak aman JB. Yummy tipikal yang bakal langsung populer di TikTok, maka kemungkinan memang itu pasar yang dibidik lagu ini. Sebagai salah satu aplikasi terlaris dunia, wajar jika JB ingin 'dikenal' di TikTok. Strategi itu terbukti berhasil.

Yummy meninggalkan rasa sedikit tak nyaman, terlebih setelah mendengar keseluruhan materi album. JB jelas sedang berbahagia. Setelah segala yang dialami, ia hendak merayakan cinta dan kehidupannya. Tentu saja, tak ada yang salah dengan hal itu.

Masalahnya, Changes terasa berlalu begitu saja. Seperti hanya melintas di permukaan, tidak menimbulkan rasa ingin tahu untuk memutar ulang. Bukan berarti materi album itu jelek. Tidak. JB banyak mengutarakan cinta dan kekaguman terhadap Hailey, seperti dalam Forever ketika ia bertanya, "Could you be here with me forever?".

Atau saat ia mengungkapkan kegelisahan menunggu kekasih hatinya sampai di rumah dalam E.T.A dengan mendesak, "Be honest, what's your E.T.A? I was born ready for you, skin sweeter than cinnamon, eyes deeper than the ocean, love me hard like where you been, love me like you don't want it to end."

[Gambas:Youtube]

JB masih jago merayu, di Changes ia adalah pria yang sedang tergila-gila. Lirik-liriknya masih akan membuat gadis tersipu. Namun setelah itu, selesai. Tidak ada apa-apa lagi. Rasanya seperti kebetulan bertemu seseorang yang menarik di tempat umum, dan hanya saling melontarkan rayu tanpa bertukar nomor selama beberapa jam, lalu pulang ke rumah masing-masing tanpa ada keinginan lebih.

Perasaan berbeda ditimbulkan JB di album-album lamanya. Ambil contoh, Heartbreaker atau Bad Day dalam Journals (2014), bahkan party anthem Beauty and A Beat bersama Nicki Minaj di Believe (2012). Dua album itu lebih menyenangkan daripada Changes, di mana JB tampak berani mengambil resiko yang akhirnya mengukuhkan dirinya di posisi idola pop.

Changes barangkali diharapkan menandai perubahan Justin Bieber dari seorang pemuda yang suka bikin masalah menjadi seorang pria yang lebih kalem. Sayang, album ini tidak memberi lebih selain deklarasi cinta JB.

[Gambas:Video CNN] (rea)