Pentas Musikal Beta Maluku Tayang Streaming Akhir Pekan Ini

CNN Indonesia | Sabtu, 16/05/2020 07:00 WIB
Pentas Musikal Beta Maluku
dok Bakti Budaya Djarum Foundation Pentas musikal Beta Maluku, Nyanyian Damai untuk Indonesia bakal diputar secara streaming pada akhir pekan ini. (Dok Bakti Budaya Djarum Foundation)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pentas musikal Beta Maluku, Nyanyian Damai untuk Indonesia bakal diputar secara streaming pada akhir pekan ini.

Rekaman pentas besutan tim kreatif Indonesia Kita yang terdiri dari Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan almarhum Djaduk Ferianto ini akan ditayangkan pada Sabtu (16/5) dan Minggu (17/5) pukul 14.00 WIB.

Pertunjukan ini juga menggandeng almarhum Glenn Fredly sebagai sutradara sekaligus tim kreatif untuk menampilkan gambaran sejarah yang tumbuh di masyarakat Maluku melalui pengolahan musik.


Renitasari Adrian selaku Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation mengatakan bahwa salah pihaknya menayangkan kembali pementasan itu karena antusiasme yang tinggi atas lakon tersebut.

"Pentas Indonesia Kita menampilkan kesenian dan kebudayaan yang menjadi jalan bagi terbangunnya semangat saling menghargai keberagaman," ujar Renitasari dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com.

"Pertunjukan yang ditayangkan kembali ini semoga dapat menjadi salah satu pengobat rindu bagi pencinta almarhum Glenn Fredly dan refleksi cinta warga Maluku kepada Indonesia melalui nyanyian-nyanyian serta kebudayaan yang tumbuh di masyarakat Maluku."

Pertunjukan musikal Beta Maluku, Nyanyian Damai untuk Indonesia ini tidak sekadar bicara tentang Maluku, tapi juga Indonesia.

Melalui lagu-lagu dari khasanah Maluku, mulai dari lagu-lagu tradisional yang menggambarkan sejarah awal manusia Maluku hingga tembang populer dan kontemporer, pentas musikal ini memunculkan semangat untuk terus mengupayakan perdamaian.

Beta Maluku, Nyanyian Damai untuk Indonesia ini menampilkan para seniman Maluku, seperti Bing Leiwakabessy, Zeth Lekatompessy, Bob Tutupoli, Barry Likumahuwa, dan komedian yang populer di Maluku, Julius Bernhard Makatita alias Om Koko.

Selain itu, ada juga kelompok Haunesa Etnika dan Rence Alfons, Maluku Hiphop Community, Mariony Saherlawan, Muhammad Irfan dan Bengkel Sastra Maluku, Paduan Suara Effata, dan puluhan penari.

Pementasan ini bercerita tentang perbincangan Om Koko, Om Zeth, dan lainnya di warung kopi. Obrolan tidak sekadar lawakan, tapi lebih sarat akan filosofi-filosofi Maluku yang patut direnungkan.

[Gambas:Video CNN]

Sebut saja ucapan Om Koko, "Jang lain kuku lain, tapi lain keku lain."

Ungkapan ini bermakna "jangan saling menjatuhkan, tapi saling membantu satu sama lain."

Glenn Fredly pun turut menyemarakkan parodi kedua. Ia berperan sebagai unsur generasi muda yang meminta hak waris dari esensi budaya bernama Pela Gandong.

Salah satu anggota tim kreatif Indonesia Kita, Butet Kertaredjasa, mengatakan bahwa mereka ingin mengedepankan semangat untuk saling memahami rasa dan selera yang akhirnya bisa menjadi pintu masuk dialog kebudayaan.

"Melalui kesenian dan kebudayaan itulah, gagasan dan ide-ide tentang Indonesia sebagai 'rumah bersama' yang terus diupayakan dan didialogkan agar Indonesia menjadi rumah yang toleran dan penuh semangat kebersamaan, saling menghormati dan menghargai," tutur Butet.

Ia kemudian berkata, "Saya harap #NontonTeaterDiRumahAja dapat menjadi alternatif hiburan bagi masyarakat Indonesia yang dapat meningkatkan kecintaan kepada budaya dan keanekaragaman." (agn/has)