Review Film: Phantom Thread

Hamka Winovan, CNN Indonesia | Senin, 13/07/2020 19:15 WIB
Phantom Thread Review Phantom Thread menilai bahwa film sutradara Paul Thomas Anderson itu masih mengisahkan kemampuan seseorang mengubah jalan hidup orang lain. (dok. Focus Features/Annapurna Pictures via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Acap kali, seseorang bisa hadir dalam kehidupan kita dan memberikan arti penting, bahkan bisa mengubah cara pandang dan jalan kehidupan kita. Sutradara Paul Thomas Anderson (PTA) masih mengangkat tema itu dalam film Phantom Thread (2017).

Tema dan kisah yang mirip juga pernah muncul dalam film PTA yang lain, seperti The Master (2012), Boogie Night (1997), Punch-Drunk Love (2002), dan Inherent Vice (2014).

Phantom Thread mengisahkan kehidupan Reynold Woodcock (Daniel Day-Lewis) pada era dekade '50-an. Ia bersama adiknya, Cyril (Lesley Manville), merupakan perancang busana untuk bintang film, sosialita, hingga bangsawan di rumah mode mereka, The House of Woodcock.


Sebagai pria bujang yang sekaligus penata busana, Reynold amat perfeksionis dengan karya yang ia buat. Bukan hanya dalam urusan profesional, sifatnya itu juga muncul dalam kehidupan sehari-hari yang amat terkendali dan membuat kehidupan cintanya menjadi terabaikan.

Hingga suatu kali, Reynold bertemu dengan Alma (Vicky Krieps), seorang pelayan di sebuah restoran di pinggir London. Reynold jatuh cinta pada pandangan pertama. Alma secara perlahan masuk dalam kehidupan Reynold yang terkendali sebagai inspirasi dan kekasih.

Hidup Reynold yang semula serba terkendali dan terencana, goyah.

Dari segi alur cerita, Phantom Thread memang tidak terlalu menarik atau bahkan terdengar seperti cerita drama romantis biasa.

Namun, ada beberapa aspek menarik yang saya temukan dari film kolaborasi kedua PTA dan Day-Lewis ini.

Sebagai aktor peraih Oscar, kerja Day-Lewis amat cemerlang dalam film ini. Ia berhasil menginterpretasi karakter Reynold sebagai sosok dengan kepribadian teliti, obsesif, perfeksionis, dan control freak.

Bahkan, sebagai aktor metode, Day-Lewis belajar cara membuat gaun klasik Balenciaga dari nol untuk memperdalam perannya di film ini.

Phantom ThreadDay-Lewis belajar cara membuat gaun klasik Balenciaga dari nol untuk memperdalam perannya di film Phantom Thread. (dok. Focus Features/Annapurna Pictures via IMDb)

Abusive

Sementara itu, Vicky Krieps dengan piawai memerankan seorang wanita dengan karakter kuat dan tidak bisa dikendalikan oleh Reynold. Karakter Reynold yang ingin semuanya terkendali berhasil diluluhkan Alma.

Peran Alma menjadikan film ini bukan sekedar kisah cinta belaka. Alma adalah magnet dari alur cerita Phantom Thread.

Pada pertemuan pertama mereka di restoran, Reynold jatuh hati pada Alma bukan karena kecantikannya, melainkan kecerobohan yang ia buat. Reynold melihat sisi kemanusiaan di dalam Alma dan menerima kekurangan perempuan itu.

Ketidaksempurnaan Alma lah yang membuatnya tertarik. Karakter Alma yang menerima kekurangannya itu amat berbeda ketika kebanyakan orang berusaha setengah mati berusaha terlihat sempurna di hadapan orang lain.

Alma pun melihat banyak hal baik dari Reynold. Alma tahu kelemahan pria itu dan mengetahui bahwasanya perancang itu butuh seseorang, namun tak bisa mengungkapkannya.

Ketika Reynold memboyong Alma ke London, ia kembali ke kehidupannya yang serba teratur. Ia tahu ia butuh seseorang untuk menghentikan hal itu, dan Alma adalah harapannya.

Phantom ThreadLewat kisah Reynold-Alma, PTA berusaha mewujudkan cerita cinta yang dikendalikan oleh hubungan yang abusive dan buruk, namun menghasilkan sesuatu hal yang positif.: (dok. Focus Features/Annapurna Pictures via IMDb)

Harapan Reynolds setidaknya terkabul. Alma pun punya cara khusus -bahkan terbilang berbahaya- untuk membuat Reynold menjauh dari dunianya dan membuatnya memiliki kendali atas perancang busana itu.

Reynold bukan hanya lepas dari kebiasaannya yang lama, ia bahkan menjadi ketergantungan akan Alma.

Lewat kisah Reynold-Alma, PTA berusaha mewujudkan cerita cinta yang dikendalikan oleh hubungan yang abusive dan buruk, namun menghasilkan sesuatu hal yang positif.

Namun hal ini mengundang tanda tanya, apakah benar melakukan sesuatu yang buruk dalam jangka panjang dapat menghasilkan hasil yang baik?

Terngiang

Phantom Thread merupakan film dengan visual yang memanjakan mata. Film ini pula menjadi debut Paul Thomas Anderson sebagai director of photography.

Meski baru debut sebagai sinematografer, PTA membuktikan diri sanggup menyuguhkan visual klasik nan berkesan.

Film ini sepenuhnya direkam menggunakan kamera film tradisional Panavision 35 mm dan 70 mm dengan aspek rasio 1.85:1. PTA selalu mengandalkan format ini dari awal karier, yang mana sebagian besar para sineas sudah beralih ke format digital.

Dalam segi penyutradaan, PTA berhasil mengeksekusi film ini dengan ciamik.

Alur cerita yang dieksekusi secara slowburn itu berhasil menyuguhkan drama percintaan dengan baik juga tersirat, baik dalam hubungan kedua protagonis-antagonis antara Reynold-Alma, maupun dalam segi sinematografi itu sendiri.

Sementara itu, gitaris band Radiohead, Jonny Greenwood kembali dipercaya oleh PTA untuk mengisi score musik dalam Thread Phantom.

Thread Phantom menjadi film PTA yang ke-empat yang merekrut Greenwood sebagai penata musik, sebelumnya ada There Will be Blood (2007), The Master (2012), dan Inherit Vice (2014).

Untuk film ini, Greenwood membuat score dengan iringan piano solo dan orkestra. Hasilnya, ia mampu menghasilkan score yang lembut, sederhana, menenangkan, earworming, bahkan agak bikin ngantuk.

Meski begitu, tata musik ini pas untuk mendukung visual film. Bahkan ketika selesai menonton film ini, ada beberapa part score musik yang masih terngiang di kepala saya.

[Gambas:Youtube]



Secara keseluruhan, Thread Phantom merupakan film yang sangat ciamik, mulai dari akting, sinematografi, juga musik. Namun menurut saya film ini bukan ditujukan untuk penonton umum, karena mungkin bakal membosankan dan bisa membuat tertidur.

Paul Thomas Anderson tampaknya membuat film ini untuk para maniak film alias cinephile dan para pembuat film yang ingin belajar lebih dalam tentang sinematografi dan penyutradaraan.

Film ini juga menandakan akhir karir Daniel Day-Lewis di dunia akting. Bahkan sebelum Phantom Tread diproduksi, Day-Lewis dalam interview dengan W Magazine menyatakan akan pensiun setelah film ini selesai dibuat.

Daniel Day-Lewis adalah peraih penghargaan Oscar terbanyak dalam sejarah untuk kategori Best Actor. Tiga penghargaan itu diraihnya berkat peran di film My Left Foot (1989), There Will be Blood (2007), dan Lincoln (2012).

Phantom Thread bisa disaksikan di Netflix.

[Gambas:Youtube]



(end)