Mulan Dihujat terkait Uighur, Petinggi Disney Buka Suara

CNN Indonesia | Selasa, 15/09/2020 16:27 WIB
Petinggi Disney akhirnya buka suara setelah film Mulan dikritik habis-habisan, terutama karena syuting di Provinsi Xinjiang. Petinggi Disney akhirnya buka suara setelah film Mulan dikritik habis-habisan, terutama karena kedapatan syuting di Provinsi Xinjiang, pusat konflik HAM Uighur. (Jasin Boland/Disney via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Petinggi Disney akhirnya buka suara setelah film Mulan dikritik habis-habisan, terutama karena kedapatan syuting di Provinsi Xinjiang, di mana etnis minoritas Muslim Uighur dilaporkan menjadi korban diskriminasi.

Kepala urusan Finansial Disney, Christine McCarthy,  menjelaskan bahwa hampir semua proses syuting Mulan dilakukan di Selandia Baru.

"Untuk menggambarkan secara akurat lanskap dan geografi unik China untuk drama ini, kami melakukan syuting pemandangan di 20 lokasi berbeda di China," ujar McCarthy seperti dikutip AceShowbizSenin (14/9)


Agar dapat mendapatkan izin syuting di sederet lokasi tersebut, tim produski harus mendapatkan izin dari pemerintah setempat.

"Jadi, dalam kredit film kami, dicantumkan lokasi-lokasi di China dan Selandia Baru. Saya hanya akan mengatakan itu, tapi ini saja sudah menimbulkan banyak masalah bagi kami," katanya.

Mulan memang sempat dihujat setelah Disney mengucapkan terima kasih kepada pemerintah di Xinjiang, tempat dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Uighur terjadi dalam skala besar. Ucapan tersebut terdapat dalam kredit di akhir film.

Mereka juga mengucapkan terima kasih kepada lembaga pemerintahan yang selama ini disinyalir terlibat dalam dugaan pelanggaran HAM tersebut.

Setidaknya ada delapan entitas pemerintah Xinjiang yang masuk dalam daftar 'Terima Kasih Khusus', salah satunya biro keamanan publik Kota Turpan, lokasi di mana banyak Uighur ditahan dalam kamp-kamp konsentrasi.

Dalam kredit itu, tim produksi juga berterima kasih kepada Departemen Publisitas Komite Daerah Otonomi Uighur Xinjiang yang merupakan Badan Partai Komunis China sekaligus penanggung jawab upaya propaganda negara di wilayah tersebut.

Selain di China, sejumlah aktivis pro-demokrasi di Hong Kong juga menyerukan boikot Mulan setelah dirilis pada 4 September.

Pasalnya, pemeran Mulan, Liu Yifei, pernah menyatakan dukungan kepada Kepolisian Hong Kong yang menggunakan kekerasan dalam meredam aksi pendemo.

[Gambas:Video CNN]

Di tengah kontroversi ini, penjualan tiket Mulan pada pekan pertama di China melempem. Film live action tersebut hanya mendapatkan US$23 juta atau sekitar Rp344,2 miliar, jauh di bawah yang ditargetkan.

Namun berdasarkan data Maoyan, layanan penjualan tiket film secara daring di China, angka hasil penjualan tiket Mulan masih yang tertinggi pada akhir pekan di box office China.

Hasil penjualan tiket film tersebut hanya terpaut tipis dari penjualan tiket The Eight Hundred, yakni US$21,7 juta atau setara Rp324,8 miliar.

(adp)