Film Everyday Is A Lullaby Tayang di Busan Film Festival 2020

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 14:41 WIB
Film garapan sutradara Putrama Tuta berjudul Everyday Is A Lullaby akan tayang perdana di Busan Film Festival 2020. Ilustrasi film festival Everyday Is A Lullaby. (Youtube/The United Team of Art)
Jakarta, CNN Indonesia --

Film garapan sutradara Putrama Tuta yang bertajuk Everyday Is A Lullaby akan tayang perdana di Busan International Film Festival 2020. Tuta mengatakan sejak awal film ini dibuat sebagai film festival.

"Film ini kami desain sebagai materi pencapaian estetika. Dari naskah sendiri sudah menantang dan saat menggarap kami sudah tahu arahnya kemana," kata Tuta saat jumpa media virtual, Kamis (17/9).

Dalam kesempatan yang sama, produser John Badalu memberikan penjelasan serupa. Ia sendiri dikenal sebagai produser film-film idealis yang ditujukan tayang di festival.


Menurut John, Busan Film Festival 2020 dipilih untuk menayangkan Everyday Is A Lullaby karena akan digelar dalam waktu dekat, 21-30 Oktober. Festival tersebut juga sudah biasa menyeleksi film dari kawasan Asia.

"Tetapi kuota pemutaran film tahun ini berkurang setengah, jadi kompetisi semakin ketat. Kami khawatir enggan terseleksi karena baru mengajukan di hari akhir jelang penutupan pendaftaran," kata John.

Ia juga mengatakan bahwa film ini tidak akan tayang di bioskop karena ia tidak melihat film dari sisi ekonomi dan komersial. Selain itu pendistribusian film ke bioskop membutuhkan biaya besar.

"Ada film yang mementingkan idealisme dan estetika, pasarnya kecil. Kadang film itu lebih bagus distribusi alternatif, ini kan juga film indie yang biayanya tidak besar," kata John.

[Gambas:Youtube]

Naskah Everyday Is A Lullaby ditulis oleh Ilya Sigma yang sebelumnya menulis film Catatan Harian Si Boy (2011). Film ini mengisahkan penulis naskah film yang sedang sekarat dan hidup dalam cerita yang ia buat.

Ia mengaku inspirasi cerita ini datang dari pengalaman pribadi. Sebagai sineas ia pernah merasa gundah dan resah lantaran mendapat tawaran yang berakhir begitu saja.

"Akhirnya saya coba membuat dunia untuk film ini, kemudian ngobrol sama Tuta dan bang John. Sehingga kegelisahan itu tidak menjadi depresi sendiri," kata Ilya.

Dalam Everyday Is A Lullaby, penulis naskah tersebut merupakan seorang lelaki bernama Rektra yang diperankan Anjasmara Prasetya. Rektra kenal dengan dua perempuan, Marisa (Fahrani Pawaka) dan Syakuntala (Raihaanun).

Ketika ditanya mengenai seperti apa karakter yang diperankan, Anjas tidak bisa menjelaskan. Ia merasa bahwa karakter yang diperankan adalah pribadi yang rumit.

"Kayaknya gue dicuci otak sama Tuta, hampir sebulan kami mendalami karakter. Terus saat syuting gua lakukan yang disuruh, setelah itu apa yang terjadi saat syuting gue lupa," kata Anjas.

Fahrani menambahkan, "Marisa ini cinta sama Rektra, tapi cinta searah karena Rektra enggak mencintai dia, karena Rektra melewati berbagai hal dalam pikirannya."

Sementara, kata Raihaanun, Syakuntala merupakan alter ego dari Rektra. Ia tidak bisa menjelaskan lebih jauh karena akan membocorkan cerita Everyday Is A Lullaby.

(adp/bac)

[Gambas:Video CNN]