Charlie Kaufman, Dalang Film-film Membingungkan

CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 19:40 WIB
Setelah sekian lama, Charlie Kaufman kembali muncul setelah menyutradarai I'm Thinking of Ending Things, film yang lagi-lagi menyuguhkan plot membingungkan. Setelah sekian lama, Charlie Kaufman kembali muncul setelah menyutradarai I'm Thinking of Ending Things, film yang lagi-lagi menyuguhkan plot membingungkan. (Dok. Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah sekian lama, nama Charlie Kaufman kembali muncul ke permukaan setelah menyutradarai film Netflix bertajuk I'm Thinking of Ending Things.

Nama Kaufman memang sangat jarang terlihat dalam film-film Hollywood sebagai penulis naskah atau sutradara. Kala muncul di layar lebar, karya-karyanya kerap kali sulit dipahami.

Ambil contoh Eternal Sunshine of the Spotless Mind yang ditulis Kaufman dan akhirnya dirilis pada 2004 silam.


Film arahan sutradara Michel Gondry itu mengisahkan seorang bernama Joel Barish (Jim Carrey) yang patah hati usai putus hubungan dengan kekasihnya, Clementine Kruczynski (Kate Winslet).

Clementine seperti tidak memiliki alasan yang jelas ketika memutuskan Joel. Yang pasti, ia menghapus semua ingatan tentang Joel setelah berpacaran selama dua tahun.

Suatu ketika, Joel bertemu dengan Clementine tanpa di sengaja. Mereka bercakap, tetapi Clementine sama sekali tidak mengenali Joel. Kejadian itu membuat Joel semakin galau.

Sama seperti Clementine, Joel akhirnya memilih untuk menghapus semua ingatan tentang mantan pacarnya. Sayangnya, proses ini lebih sulit dari yang Joel kira. Ke mana pun berlalu, ia akan selalu menemukan Clementine.

Bila diperhatikan, kisah di atas sebenarnya cerita cinta sederhana. Namun, Kaufman memiliki cara sendiri untuk mengemas cerita cinta yang sederhana menjadi lebih rumit.

Meski membingungkan, Eternal Sunshine of the Spotless Mind berhasil memenangkan kategori Best Original Screenplay dalam Academy Awards 2005 dan Best Original Screenplay dalam Bafta Awards 2004.

Eternal Sunshine and the Spotless Mind. Kredit: Dok. Focus Features via IMDb.Eternal Sunshine and the Spotless Mind. (Dok. Focus Features)

Untuk mencapai kesuksesan tersebut, Kaufman melalui perjuangan panjang.

Menengok ke belakang, Kaufman sudah ingin menjadi penulis naskah sejak usia sekolah menengah atas. Kala itu, ia sempat tampil dalam sejumlah drama. Setelah setelah lulus, ia mempelajari film di Universitas New York. 

Saat kuliah, ia bertemu dengan Paul Proch yang kemudian menjadi sahabatnya. Saat itu, mereka kerap berkolaborasi menulis naskah film dan drama yang tidak diproduksi. Mereka hanya membuat tanpa tujuan pasti. 

Kuliah di bidang film tidak menjamin Kaufman langsung menjadi sineas setelah lulus kuliah. Ia sempat bekerja sebagai penulis artikel komedi untuk majalah bernama National Lampoon demi menyambung hidup.

Sembari bekerja sebagai penulis, ia dan Proch terus berusaha agar naskah yang mereka tulis bisa diproduksi.

Setelah mengirimkan naskah bertajuk Purely Coincidental ke berbagai produser dan rumah produksi, ia hanya mendapat balasan surat dari sineas Alan Arkin. Surat itu hanya berisikan dukungan.

Ternyata surat itu cukup menyulut semangat Kaufman untuk terus berkarya agar bisa menjadi penulis naskah dalam industri film. Ia pun mulai menulis naskah spekulasi untuk serial televisi, seperti Married... with Children dan The Simpsons.

Naskah spekulasi merupakan skrip yang dibuat penulis untuk sebuah acara tanpa diminta oleh produser atau rumah produksi. Kaufman sengaja melakukan ini dengan harapan dilirik dan direkrut oleh agensi talenta.

Sembari berkarya untuk mengejar mimpinya, Kaufman juga bekerja sebagai customer service demi menyambung hidup bersama istrinya, Denise.

Upaya Kaufman akhirnya membuahkan hasil pada 1991, saat naskah spekulasi yang ia tulis menarik perhatian agensi talenta. Agensi itu menyarankan Kaufman pindah ke Los Angeles agar lebih mudah mendapat pekerjaan yang berpotensi.

Kaufman akhirnya pindah seorang diri ke Los Angeles selama dua bulan. Ia menjalani sejumlah wawancara kerja sebagai penulis serial televisi. Kaufman pertama kali mendapat pekerjaan sebagai penulis naskah profesional untuk menulis sitkom bertajuk Get a Life.

Sejak saat itu, Kaufman menggarap beberapa naskah untuk acara televisi. Di saat bersamaan, ia juga menulis naskah film, tapi tidak ada yang mau memproduksi cerita tersebut.

Keadaan mulai berubah pada 1994, setelah Kaufman menulis naskah spekulasi bertajuk Being John Malkovich dan mengirimkannya ke berbagai rumah produksi. Naskah itu akhirnya sampai ke tangan Francis Ford Coppola, sineas kawakan yang menggarap trilogi The Godfather.

Coppola memberikan naskah itu kepada menantunya, Jonze, yang sepakat menjadi sutradara, sementara Kaufman menjadi penulis naskah dan produser eksekutif.

Film inilah yang menjadi titik balik karier Kaufman. Hanya dengan satu film, ia langsung dikenal, bahkan masuk nominasi Academy Awards 1999 dan memenangkan kategori Best Original Screenplay dalam BAFTA Awards 1999.

Being John Malkovich. Kredit: AstralwerkBeing John Malkovich. (Astralwerk)

Kini, Kaufman kembali dengan film bertajuk I'm Thinking of Ending Things yang ditayangkan layanan streaming Netflix. Film ini bisa menjadi salah satu pilihan bagi pencinta psychological thriller.

Seperti kebanyakan karya Kaufman, film ini dijamin bikin bingung, menimbulkan banyak pertanyaan di kepala.

Film hasil interpretasi dari novel karya Iain Reids ini menceritakan kehidupan perempuan muda (Jessie Buckley) yang memiliki banyak keraguan dan berencana mengakhiri enam pekan hubungan bersama pacarnya, Jake (Jesse Plemons).

Perempuan tersebut akhirnya bertemu orang tua Jake, Dean (David Thewlis) dan Suzie (Toni Collette). Pertemuan tersebut terasa begitu canggung. Ia mulai merasakan keganjilan ketika menghabiskan waktu bersama orang tua Jake.

[Gambas:Youtube]

Salah satu pemeran I'm Thinking of Ending Thinks, Jesse Plemons, mengaku sempat pusing memahami plot film itu ketika memperhatikan adegan demi adegan.

Dalam sebuah wawancara, Kaufman sendiri mengaku lebih suka penonton merasakan dan mengartikan sendiri film yang ditonton.

"Saya membiarkan orang menjalani pengalamannya sendiri, sehingga saya tak memiliki ekspektasi tentang yang orang pikirkan. Saya mendukung setiap interpretasi orang-orang untuk film ini," tuturnya seperti dilansir IndieWire.

(adp/has)