Pentas Teater Saksi Proklamasi di HUT ke-210 Bandung

CNN Indonesia | Sabtu, 26/09/2020 00:41 WIB
Lokra menggelar pementasan seni sekaligus penghormatan kepada Alexius Impurung Mendur di HUT ke-210 Bandung. Lokra gelar pentas teater saksi Proklamasi di HUT ke-210 Kota Bandung. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ada kegiatan yang berbeda pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-210 Kota Bandung, Jumat (25/9). Komunitas pegiat sejarah dan kebudayaan yang bernama Kelompok Anak Rakyat (Lokra), menggelar pementasan seni sekaligus penghormatan kepada Alexius Impurung Mendur.

Alex, bersama adiknya Frans Mendur atau yang dikenal dengan Mendur Bersaudara merupakan fotografer Indonesia yang mendokumentasikan momen sejarah dalam perjuangan. Termasuk yang paling fenomenal foto bersejarah detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945.

Lokasi digelarnya pementasan seni bertajuk Mendur: Pewarta Yang Terlupa ini digelar di makam Alex Mendur yang berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pandu. Kegiatan ini berlangsung sederhana namun tetap khidmat.


Acara diawali dengan renungan yang diiringi musik tradisi oleh Sanggar Seni Reak Tibelat. Kemudian dilanjutkan dengan doa yang dilanjutkan kepada almarhum Alex Mendur.

Setelah ziarah dilakukan, sejumlah pengisi acara mulai menampilkan berbagai kegiatan seni. Dimulai dari pembacaan puisi hingga penampilan seni tari.

Tak luput seniman pantomim Wanggi Hoed tampil pada pementasan seni sebagai bentuk penghormatan serta mengenang jasa fotografer Alex Mendur.

Selama acara berlangsung, para pengisi acara menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak dan menggunakan masker untuk mencegah penularan virus corona.

Berawal dari Keprihatinan

Koordinator Lokra Gatot Gunawan mengatakan, acara pementasan seni sekaligus penghormatan kepada Alex Mendur berawal dari keprihatian atas kondisi makam lelaki kelahiran Manado, 7 November 1907 tersebut. Gatot menemukan sebagian badan makam dijadikan tempat menumpuk sampah.

Tak hanya itu, papan pajak di dekat makam menginformasikan bahwa terakhir kali pembayaran dilakukan pada tahun 1997.

"Semua berawal dari buku-buku yang saya baca. Selama satu tahun pencarian makam beliau lewat buku termasuk buku tentang pers. Ketika kami mengetahui bahwa makam Pak Alex di Pandu, kami mencari dengan bantuan warga sekitar TPU Pandu. Baru pada 6 September kemarin bisa ditemukan," ujar Gatot.

Sejak menemukan makam, Gatot dan kawan-kawannya berinisiatif menggalang dana untuk merenovasi makam. Penggalangan dana pun dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan media sosial dan jejaring.

"Dari situ Lokra berinisiatif menggalang dana perbaikan makam beliau karena dirasa makam beliau masih jauh dari layak sebagai tokoh, pejuang, dan saksi sejarah," ungkapnya.

Alex Mendur lahir di desa Talikuran, Kawangkoan, Sulawesi Utara. Dia dibaptis pada usia tiga bulan di Gereja Protestan Kawangkoan yang didirikan Belanda. Dari sanalah nama Alexius Impurung Mendur berasal.

Semenjak dikumandangkannya proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Alex dan Frans adiknya dengan penuh semangat telah bertekad untuk ikut berjuang menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan bersenjatakan kamera foto. Mendur Bersaudara pun ikut mendirikan kantor berita foto bernama Indonesia Press Photo Service (IPPHOS).

Salah satu momen terpenting dalam hidup Alex dan Frans adalah kerja mereka mengabadikan detik-detik proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, Jakarta. Keduanya berhasil menghasilkan beberapa jepretan. Namun, semua foto Alex musnah setelah dirampas tentara Jepang. Sedangkan hasil jepretan Frans selamat dan menjadi salah satu dokumen paling penting yang dimiliki Republik Indonesia hingga saat ini.

Alex Mendur wafat pada pukul 4.30 pagi, pada 30 Desember 1984 di Rumah Sakit Advent Bandung. Jenazahnya lalu dikebumikan di TPU Pandu pada keesokan harinya. Alex meninggal dalam usia 77 tahun, dengan upacara sederhana dan penuh kekhidmatan.

Atas jasa-jasa dan pengabdiannya yang luar biasa kepada bangsa dan negara, Alex Mendur dianugerahi Bintang Mahaputera Nararya (2010) dan Bintang Jasa Utama (2009) oleh Presiden Republik Indonesia.

Dari penggalangan dana yang dilakukan Lokra, terhimpun dana Rp2,5 juta. Dana tersebut dipakai untuk merenovasi makam Alex Mendur. Adapun renovasi berlangsung selama empat hari sejak 20 September.

Gatot berharap, acara peringatan hari jadi Kota Bandung ke-210 menjadi momen untuk mengenang jasa pahlawan termasuk pejuang perekam sejarah seperti yang dilakukan Alex Mendur.

"Ini murni dilakukan sebagai warga Bandung yang peduli terhadap Pak Alex Mendur. Karena kalau tanpa karya beliau dan adiknya Frans, mungkin suasana proklamasi itu tidak bisa kita rasaka. Tetapi melalui jasa beliaulah bukti sejarah itu bisa dilihat," ujarnya.

(hyg/bac)

[Gambas:Video CNN]