Webtun Jadi Film: Gurih di Drama Korea, 'Garing' di Indonesia

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 04/10/2020 15:08 WIB
Sejumlah film di drama Korea sukses memfilmkan sejumlah kisah di komik webtun, namun belum menarik di film Indonesia. Foto ilustrasi. Cuplikan film Cheese in the Trap. (Screen Shot via Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jagat maya heboh ketika aktor Korea Selatan, Park Seo-joon, memamerkan fotonya dengan tampilan baru. Rambutnya dipapas hingga kepalanya tampak seperti chestnut, mirip salah satu karakter utama dalam webtoon Itaewon Class, Park Sae-ro-yi.

Webtun itu begitu populer hingga ketika melihat Park Seo-joon berpenampilan seperti Park Sae-ro-yi, warganet langsung mengaitkannya dengan Itaewon Class.

Memang benar, Park Seo-joon memangkas rambutnya untuk proyek drama Korea berdasarkan webtoon tersebut. Ketenaran webtun ini tak dimungkiri membuat drama Korea itu juga sukses, hingga sempat menjadi tontonan nomor satu di Netflix.


Formula adaptasi ini memang sudah terbukti sukses. Lihat saja drama-drama favorit lainnya yang berdasarkan webtun, mulai dari Misaeng: Incomplete Life hingga Cheese in the Trap.

Komik Cheese in the Trap sendiri pertama kali dirilis melalui Naver WEBTOON pada 2010. Komik langsung populer dalam waktu cepat hingga diterbitkan versi fisik pada Maret 2012.

Bukan hanya di Korea Selatan, komik dengan 300 episode lebih ini juga terkenal di negara lain, salah satunya Indonesia. Sampai saat ini, Cheese in the Trap disukai sebanyak 5,9 juta kali dan mendapat nilai 9,76 dari 10.

Ketenaran Cheese in the Trap berlanjut ketika diadaptasi menjadi serial televisi yang mengudara selama dua bulan sampai Maret 2016. Selanjutnya, pada 2018 komik diadaptasi menjadi film dengan tajuk yang sama.

Mengekor webtun dan serialnya, film Cheese in the Trap juga sukses. Berdasarkan data Korean Film Council, film ini berhasil menempati peringkat tiga box office Korea Selatan pada penayangan perdana dengan 32.805 penonton.

Pada pekan penayangan pertama, film ini ditonton 106,196 penonton dan menempati peringkat lima box office Korea Selatan. Sampai akhir penayangan, film ini berhasil meraup pendapatan US$1,8 juta atau setara Rp24,4 miliar.

Pengamat komik dari Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta, Bambang Tri Rahadian, tak heran dengan kesuksesan film adaptasi webtun yang sudah populer.

"Banyak faktor adaptasi komik digital menjadi film. Namun, saya kira faktor popularitas komik lebih menentukan," kata pria yang karib disapa Beng ini kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

Di Indonesia, sejumlah webtun juga diadaptasi menjadi film, di antaranya Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir (2017) dan Eggnoid: Cinta & Portal Waktu (2019). Kedua film ini juga digarap setelah melihat kesuksesan webtunnya.

Juki pertama kali muncul dalam komik digital DKV 4 (2010), kemudian berlanjut ke bentuk fisik pada 2012 dan masuk LINE WEBTOON sejak 2015.

Sampai saat ini, terdapat lima judul komik Si Juki di LINE WEBTOON, yaitu Si Juki: Kisah Kusut Dunia Dongeng (2015), Nostalgia Ramadhan Si Juki Kecil (2015), Nostalgia Ramadhan Si Juki Kecil 2 (2016), dan Kisah Usil Si Juki Kecil (2017).

"Sejak 2015, banyak rumah produksi yang kontak saya untuk adaptasi film Si Juki, kebanyakan menawarkan film live-action. Sementara, saya punya visi ini harus film animasi karena yang saya perjuangkan industri komik dan animasi," kata Faza.

Pria kelahiran 1991 ini akhirnya sepakat bekerja sama dengan rumah produksi Falcon Pictures. Pada penayangan perdana, film ini menarik sekitar 72 ribu penonton. Sampai akhir penayangan, film ini menggiring 630 ribu penonton.

Dalam box offiice Indonesia, pencapaian itu bisa disebut biasa. Namun, pencapaian ini menjadi luar biasa bila dilihat sebagai film animasi.

"Penjualan [tiket film ini] juga melampaui, biasanya film animasi Indonesia dapat 100 ribu penonton susah banget. Si Juki bisa tembus lebih dari 600 ribu penonton. Ini membuktikan film animasi kita bisa diterima masyarakat," kata Faza.

"Film ini memperkenalkan karakter Si Juki ke pasar yang lebih luas lagi. Film ini juga legitimasi bahwa cerita dari komik bisa ke berbagai medium, bahkan medium dengan investasi yang besar seperti film," ia melanjutkan.

Lain cerita dengan film Eggnoid: Cinta & Portal Waktu yang merupakan adaptasi dari webtun karya Archie The RedCat.

Pertama kali terbit pada 13 Desember 2015, kini Eggnoid sudah 234 episode yang terbagi dalam empat musim. Webtun ini telah disukai 22,5 juta kali dan mendapat penilaian 9,74 dari 10.

Namun, film adaptasi yang diproduksi Visinema Pictures hanya mendapat sekitar 49 ribu penonton. Jumlah ini terbilang sedikit bila dibanding Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir, atau Terlalu Tampan (2019) yang juga diadaptasi dari webtun.

Secara tidak langsung, jumlah penonton Eggnoid dianggap sebagai bukti bahwa tak selamanya film adaptasi komik populer akan menjaring banyak penonton. Tak selamanya pula adaptasi film akan membuat komik semakin tenar.

"Sama dengan konsep followers suatu komik di Instagram yang belum tentu sebanding dengan pembeli komik," kata Beng.

Meski demikian, Archie mengklaim banyak pembaca webtun Eggnoid yang memberikan respons positif terhadap film adaptasinya. Film tersebut bahkan diklaim mampu menarik pembaca baru webtun Eggnoid.

"Alhamdulillah, banyak pembaca Eggnoid yang merespons film dengan positif. Bila melihat pesan-pesan yang saya terima, banyak yang bilang baru mulai membaca karena menonton film," kata Archie kepada CNNIndonesia.com.

Secara keseluruhan, Beng menganggap adaptasi film tidak memberikan dampak langsung yang berarti terhadap industri komik. Komik selalu menjadi bagian yang terpinggirkan dalam industri hiburan secara keseluruhan, apalagi bila dilihat dari segi bisnis.

"Komik itu seperti inti [dari intellectual property atau IP], tetapi bukan inti bisnis. Misalnya Si Juki, dia karakter yang dikenalkan dari komik, tetapi bisa dibilang bisnis yang besar adalah IP Si Juki. Dari IP itu baru ada produk turunan," kata Beng.

"Ini bukan tidak baik ya. Memang sudah caranya begitu saya kira. Begitu pun di negara lain meski saya belum benar-benar riset. Tapi kalau negara dengan budaya literatur yang kuat, cerita itu penting buat mereka. Di kita (Indonesia) lebih relate dengan visual (ketimbang literatur)."

(has/bac)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK