Review Serial: Emily in Paris

CNN Indonesia | Jumat, 16/10/2020 19:22 WIB
Mengulik stereotip orang-orang Prancis melalui film serial Emily in Paris yang dibintangi Lilly Collin sebagai karakter utama. Foto ilustrasi. Cuplikan film Emily in Paris. (Dok. Netflix via imdb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seperti gaya Hollywood menyasar ke film festival Cannes. Begitu kesan saya menonton serial Emily in Paris soal pengalaman menggelitik gadis Amerika Serikat yang mencoba bekerja di Paris, Prancis.

Karakter Emily yang bersemangat, banyak ide, dan penuh 'warna-warni' sangat luwes dimainkan Lilly Collins.

Sekadar peringatan bagi para pembaca, review Emily in Paris mengandung sejumlah spoiler.


Film Emily in Paris bercerita tentang pengalaman unik Emily, gadis asal Chicago, yang menjalani karier di Paris. Emily in Paris bisa disebut versi sejenis dengan film the Devil Wears Prada.

Emily mendapat tugas bekerja di perusahaan marketing Paris menggantikan atasannya yang cuti hamil. Perusahaan di Chicago tempat Emily bekerja berencana melakukan akuisisi, Savoir, perusahaan di Paris.

'Benturan' nilai-nilai jadi bumbu-bumbu film komedi romansa itu ketika Emily mendapat tugas 'meremajakan' perusahaan di Paris.

Emily datang ke kantor sehari sebelum jadwal yang sudah ditentukan. Gaya wanita berusia 20-an tahun itu yang terlalu percaya diri pun acap kali dianggap tidak sopan.

Belum lagi gaya berpakaiannya yang penuh warna-warni, membuatnya mendapat julukan Si Norak.

"La Plouc, Ringarde!" demikian ucapan yang terlontar dari orang-orang Prancis di sana untuk menjuluki karakter Emily yang norak dan 'biasa-biasa' saja pada awal-awal pengalamannya bekerja di Paris.

Cuplikan adegan dalam serial 'Emily in Paris' yang tayang di Netflix. (Dok. Netflix/IMDB)Cuplikan adegan dalam serial 'Emily in Paris' yang tayang di Netflix. (Dok. Netflix/IMDB)

Namun, satu hal yang membuatnya tak disukai rekan-rekan sekantor dan orang-orang di Paris adalah ketidakmampuan Emily berbahasa Prancis.

Dalam episode awal, salah satu rekan kerjanya bahkan menyebut Emily arogan karena datang ke Paris dari AS tanpa modal bisa bahasa Prancis.

Adalah atasan Emily, sosok yang paling membencinya di kantor tersebut.

Stereotip yang Berlebihan

Serial karya sutradara Darren Star itu bagi saya berlebihan dalam menonjolkan sisi-sisi benturan budaya antara gaya Amerika dengan orang-orang Prancis. Terlebih soal ketidaksukaan orang-orang Prancis terhadap bahasa Inggris.

Ketersinggungan orang Prancis terhadap Emily yang notabene hanya menggunakan bahasa Inggris, tampaknya tak terasa realistis untuk kehidupan di Paris.

Demikian pula pengakuan dari teman kantor saya, Hamka Winovan, menilai ketersinggungan orang Prancis terhadap warga AS yang tak bisa berbahasa Prancis cukup berlebihan. Hamka pernah tinggal dan bekerja di Paris selama enam tahun.

"Sebenarnya biasa saja sih respons orang Prancis kalau ada orang AS atau Inggris tidak bisa bahasa Prancis. Mereka melihat sebagai warga yang setara, sama-sama dari negara besar," ujar Hamka.

Beda halnya jika ada orang-orang dari Asia misalnya. Hamka berkisah sejumlah orang Prancis kulit putih kerap enggan berbicara dengan mereka.

Hamka bercerita pengalaman awal-awal tinggal di Paris sebagai orang Asia, ia kerap mendapatkan interaksi yang 'dingin' dengan warga kulit putih di Paris.

Cuplikan adegan dalam serial 'Emily in Paris' yang tayang di Netflix. (Dok. Netflix/IMDB)Cuplikan adegan dalam serial 'Emily in Paris' yang tayang di Netflix. (Dok. Netflix/IMDB)

Hal lain yang mengandung stereotip soal orang-orang Paris adalah etos kerja mereka. Penggambaran tentang orang Prancis yang terkesan terlalu santai dan biasa kesiangan masuk kantor di film Emily pun dirasa berlebihan.

"Saya waktu kerja di sana [Paris] tetap harus on-time, tetap waktu sejak pagi kok. Kebanyakan juga mereka sudah giat kerja dari pagi," ungkap Hamka.

Namun memang, Hamka menyebut tak sedikit orang-orang Prancis yang sangat menghargai kualitas hidup, selain hanya sekadar bekerja.

Soal hubungan percintaan, Hamka tak menampik soal kehidupan orang-orang di Paris yang cenderung promiskuitas di film Emily in Paris.

Kehidupan berkencan dengan lebih satu pasangan atau kisah perselingkuhan yang normal di Paris digambarkan dalam sejumlah adegan di Emily in Paris.

Salah satunya dialog ketika sales sewa apartemen merayu Emily untuk berkencan dengannya. Padahal, Emily sudah menegaskan dia telah memiliki kekasih di Chicago.

"Tapi di Paris tidak punya pacar kan?" demikian ujar pria tersebut.

Ada pula cerita perselingkuhan atasan Emily dengan suami temannya sendiri di film tersebut yang menggambarkan kelaziman promiskuitas di sana.

Cerita lain ketika Gabriel yang notabene gebetan Emily kerap menunjukkan perasaan cemburu ketika Emily dekat dengan sejumlah pria. Padahal, Gabriel merupakan kekasih dari teman dekat Emily. Petualangan cinta dan perselingkuhan pun tampak jadi hal biasa yang kerap ditampilkan di film itu.

Tetap Layak Ditonton

Meski berlebihan menggambarkan kehidupan di Paris, Emily in Paris tetap menjadi salah satu rekomendasi serial romansa komedi di Netflix yang layak ditonton.

Salah satu sisi kocak adalah cerita tentang Mindy seorang putri konglomerat perusahaan pembuat resleting di China. Mindy sahabat yang pertama kali dikenal Emily di Paris.

Mindy kabur dari China ke Prancis lantaran dia malu bikin blunder saat acara audisi terbesar di negara itu. Dia malu karena merasa satu miliar penonton di China pasti menyaksikan blunder Mindy karena saking groginya.

Putri konglomerat China itu pun memilih tinggal di Paris bekerja sebagai pengasuh bayi keluarga menengah atas di sana.

Ada pula kisah kocak ketika Emily bercinta dengan orang yang ia sangka bakal dijodohkan sahabat dekatnya untuk berkencan.

Pemuda tersebut rupanya adik dari pria yang ingin dikenalkan sahabatnya kepada Emily. Apa lacur, Emily telanjur bercinta dengan adiknya yang baru 17 tahun.

Banyak pula cerita dalam adegan-adegan absurd, romantis, dan kocak dalam film tersebut. Akting Gabriel, sang gebetan Emily, di serial itu juga dijamin bikin para wanita 'meleleh.'

Emily in Paris saat ini baru Season 1 dengan 10 episode.

(bac/bac)

[Gambas:Video CNN]