Over the Moon, Bukan Cuma Soal Legenda dari China

CNN Indonesia | Sabtu, 24/10/2020 17:45 WIB
Meski diangkat dari legenda masyarakat Tionghoa, para pemain menilai Over the Moon bukan hanya soal kisah folklor. Meski diangkat dari legenda masyarakat Tionghoa, para pemain menilai Over the Moon bukan hanya soal kisah folklor. (dok. Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Over The Moon menjadi salah satu film animasi yang dinanti pada tahun ini. Film yang diproduksi rumah produksi Pearl Studio dan layanan streaming Netflix ini dibuat berdasarkan legenda China yang mengisahkan Dewi Bulan bernama Chang'e.

Legenda ini bisa dibilang sebagai salah satu legenda yang paling dikenal di China. Pasalnya, setiap tahun China merayakan Festival Pertengahan Musim Gugur atau Festival Bulan yang berkaitan dengan legenda Dewi Bulan Chang'e.

Festival ini biasanya digelar pada hari ke-15 bulan ke-8 kalender Tionghoa ketika bulan benar-benar bulat dan sangat terang. Pun kue bulan selalu menjadi hidangan yang melengkapi festival tahunan ini, terlebih bila kumpul bersama keluarga besar.


Dalam Over The Moon legenda ini diceritakan dengan sederhana, di mana ada karakter bernama Fei Fei sangat percaya dengan legenda Dewi Bulan. Ia sangat ingin bertemu dengan Chang'e untuk membuktikan bahwa legenda ini nyata.

Aktris Phillipa Soo yang mengisi suara Chang'e menilai bahwa Over The Moon bukan hanya sekadar mengadaptasi legenda China, melainkan menandai representasi Asia dalam industri film animasi dunia secara khusus dan industri film dunia secara umum.

"Film ini lahir karena cerita dari Asia, cerita dari China. Diperankan semua aktor asal Asia, dan dikerjakan oleh tim kreatif serta animator asal Asia. Ini seperti surat cinta untuk kebudayaan dan negara (Asia)," kata Soo saat wawancara virtual eksklusif dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan lewat film ini penonton berkesempatan untuk melihat budaya dan legenda yang belum diketahui sebelumnya. Bagi perempuan berdarah China-Eropa-Amerika ini, Over The Moon seperti selebrasi kebudayaan China.

"Sangat penting untuk melihat cerita dimana kita bisa melihat diri kita sendiri. Di depan atau belakang kamera, di atas atau belakang panggung, semakin sering kita mengisahkan cerita ini, akan semakin diketahui dan semakin terhubung dengan seluruh dunia," kata Soo.

Setali tiga uang, aktris Cathy Ang yang mengisi suara Fei Fei memberikan penjelasan serupa. Sebagai perempuan berdarah China-Filipina, ia merasa bangga bisa berbagi mengenai kebudayaan dan berharap diterima banyak orang.

"Kalian tidak bisa menonton film ini tanpa jatuh cinta dengan apa yang kalian lihat dan siapa karakter ini. Itu membuat dunia menjadi tempat yang lebih menarik untuk melihat cerita ini dikisahkan dengan cara yang autentik," kata Ang.

Ia melanjutkan, "Bagi mereka (penonton) untuk melihat seluruh pemeran Asia dan melihat cerita yang mungkin tentang budaya mereka, itu luar biasa. Terutama dalam komunitas Asia, yang mana saya rasa terkadang sulit untuk mengikuti jalan ini."

Fei Fei dalam berbagai adegan di film Over The Moon.Meski diangkat dari legenda masyarakat Tionghoa, para pemain menilai Over the Moon bukan hanya soal kisah folklor. (Dok. Netflix)

Selain penting, sutradara Glen Keane merasa ada hal menarik dari cerita yang berasal dari negara-negara Asia dan gaya orang Asia bercerita. Ia merasakan hal itu setelah menggarap Over The Moon bersama orang-orang Asia

"Saya rasa ada sesuatu yang sangat luar biasa tentang orang Asia mengisahkan cerita, bukan hanya keindahan musik dan lirik penuh perasaan, itu seperti mimpi. Saya ingin animasi terlihat seperti puisi visual," kata Keane.

Ia juga menegaskan bahwa Over The Moon bukanlah film dari Amerika untuk ditonton seluruh dunia. Melainkan film dari China yang banyak dikerjakan oleh orang-orang China. Ia yakin di masa mendatang dunia animasi bisa mengisahkan lebih banyak cerita dari Asia.

Pernyataan tersebut sangat layak didukung dan sebenarnya sudah bisa dilihat dari sekarang. Rumah produksi besar seperti Disney, tempat Keane bekerja selama 1974-2012 pun kini melirik cerita dari Asia, yang terbaru adalah Raya and the Last Dragon.

[Gambas:Youtube]



Film animasi yang dijadwalkan rilis Maret 2021 tersebut terinspirasi dari berbagai mitos negara-negara Asia Tenggara. Tim kreatif Raya and the Last Dragon mengambil latar Indonesia, Thailand, dan Vietnam dalam melakukan riset.

"Saya merasa animasi adalah alat, karakter animasi, di mana kalian menghidupkan karakter, menggerakkan mereka dari dalam dan mengisahkan cerita. Ini adalah cara menyampaikan cerita baru yang perlu diketahui dunia dari budaya yang belum kita ketahui. Membantu mereka mengisahkan cerita mereka kembali kepada kami," tutup Keane.

(adp/end)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK