Petualangan Rifan Kalbuadi Jelajah Industri Musik Indonesia
CNN Indonesia
Rabu, 13 Jan 2021 17:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Menjalani karier sebagai musisi indie sejak awal pada 2016 membuat Rifan Kalbuadi terbiasa mengurus semuanya sendiri. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menjalani karier sebagai musisi independen sejak awal pada 2016 membuat Rifan Kalbuaditerbiasa mengurus semuanya sendiri, mulai dari membuat musik hingga terlibat dalam promosi albumnya.
Sejak menceburkan diri dalam industri musik pada 2015 dan merilis single debut pada 2016 bertajuk Pilihan Terindah, kemudian single Sendiri, dan album EP bertajuk Statis pada 2017.
Rifan kemudian memutuskan untuk berdiri sendiri mengurus musiknya dan melanjutkan petualangan dengan eksplorasi musik juga karakternya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, ia menelurkan karya baru, yaitu single Temporary Hours pada Maret 2020 dan 5207 pada Desember 2020. Semuanya, mulai dari menulis musik hingga produksi, ia lakukan sendiri.
"Capek? Enggak sih, seru-seru saja," kata Rifan kala berbincang dengan CNNIndonesia.com, jelang penghujung Desember 2020.
"Kadang overwhelmed, tapi alhamdulillah saya dikelilingi orang-orang yang punya latar keahlian masing-masing dan jadi tim yang kohesif dalam menciptakan produk yang setidaknya bisa bersaing di industri musik," lanjutnya.
"Pusing sih enggak, lelah iya. Tapi sepadan daripada enggak bisa menentukan sendiri. Bisa menavigasi diri kita sendiri itu memuaskan banget," kata musisi 25 tahun itu.
Keleluasaan dalam menentukan arah bermusik itu terlihat dari perubahan musik Rifan Kalbuadi sejak era single debut hingga 5207. Musik Rifan yang tadinya seperti pasar kebanyakan kini lebih eksploratif, niche, dan dengan kreasi lirik yang lebih sentimental.
Bukan hanya itu, Rifan juga memutuskan untuk lebih memperdalam penulisan lirik dalam bahasa Inggris atas nama kreativitas.
Tapi toh keputusan itu membuahkan hasil yang cukup manis. Lagu Temporary Hours yang dirilis pada Maret 2020 lalu mampu mengalahkan popularitas single utamanya dari album sebelumnya yang bertajuk Daraku.
Buka yang Baru
Di Spotify, Temporary Hours didengar lebih dari 276 ribu kali dan mengungguli lagu Daraku yang didengar 244 ribu kali. Ia juga tercatat memiliki 13 ribu pendengar setia rata-rata setiap bulannya, di samping 21 ribu penggemar yang mengikutinya di Instagram per Januari 2021.
Dengan modal puluhan ribu penggemar tersebut, Rifan sejauh ini masih percaya ia mampu "menavigasi" bisnis musiknya. Selain itu, pasar musik indie pun ia anggap terus berkembang.
"Pasar [musik] indie di Indonesia walaupun niche, tapi mereka juga punya sektor masing-masing dan semua orang memerankan perannya di sana. Tujuan saya adalah membuka sektor baru dana per-indie-an ini," katanya sembari tertawa.
"Indie juga ada yang hip-hop, ada yang folk, ada yang rock, mereka semua ada pos-posnya dan semua itu menciptakan ekosistem yang amat segar di Indonesia," lanjutnya.
"Menurut saya juga pasar musik independen di Indonesia mulai menaklukkan industri, tergantung cara pandangnya," kata Rifan.
"Semuanya soal perspektif dan itu cantiknya musik, kau bisa memilih jenis pasar dari pilihan yang luas banget, dari koplo hingga folk, dangdut hingga metal, banyak banget di Indonesia begitu pula di dunia,"
Rifan Kalbuadi punya pandangan tersendiri terkait kondisi industri musik Indonesia di halaman selanjutnya...
Apalagi, sebagai musisi yang juga berangkat dari media sosial macam YouTube seperti kebanyakan bintang era generasi kekinian, Rifan Kalbuadi percaya bahwa pasar musik yang semakin ramai dan beragam menjadi tantangan tersendiri baginya.
Hal itu pun ia sadari dengan baik. Rifan menyebut tiap hari dirinya menemukan musisi lahir dengan karya yang "wow, layak didengar dan sangat kompetitif dan tak cuma di domestik".
"Enggak ada pasar yang enggak kompetitif. Itu konsekuensi yang mesti diambil, ini soal seberapa berani saya ada di industri ini," katanya. "Tapi bukan berarti bisa santai juga," tambahnya lalu tertawa.
"Setiap hari harus berpikir bagaimana menjadi yang terbaik bagi masyarakat, bekerja keras mencari strategi terbaik untuk memaksimalkan apa yang dipunya, bagaimana menaruh musiknya di mana, cara meningkatkan pendengar, dan memberikan pesan dalam musik bagaimana caranya," katanya.
"Itu banyak banget pekerjaannya dan cukup strategis dan melelahkan. Tapi ya itu konsekuensinya," kata Rifan.
Namun ia bersyukur punya penggemar yang ia sebut amat dekat dengan dirinya karena ternyata, Rifan ikut nimbrung dalam grup media sosial bersama penggemarnya.
"Alhamdulillah masih ada penggemar," katanya sambil tertawa. "Mereka sangat antusias bikin komunitas untuk saling berbagi,"
"Saya suka tak ada jarak dengan mereka. Karena mereka juga yang membuat saya di sini sampai detik ini, memberikan semangat untuk bertahan di musik. Mereka berperan besar," lanjutnya.
Terlepas dari modal penggemar yang telah dimiliki serta niat yang masih tangguh mengarungi industri musik Indonesia dengan segala dinamisasi di dalamnya, Rifan mengakui juga mengharapkan kestabilan dalam perjalanan industri musik.
Rifan menilai, hal yang paling dibutuhkan dalam industri musik adalah "sistem yang kohesif dan pendidikan dasar hukum musik" yang dianggap perlu diketahui oleh seluruh musisi bahwasanya mereka memiliki sejumlah hak, seperti hak cipta, hak ekonomi hingga performing rights.
"Itu mesti diimplementasikan sebagai fondasi dan dasar, ketika kami bermusik, harus punya petunjuk dan etika. Saya rasa sistem yang rigid dan kohesif dengan orang yang kompeten dan bekerja sama dengan pemerintah melalui undang-undang yang memadai, bisa membantu kami," kata Rifan.
"Ya mudah-mudahan membantu, bukan membatasi. Karena ini penting dan amat dipandang sebelah mata, soal publishing, performing rights, production, crew rights, dan sebagainya. Ini perlu banget diperhatikan," lanjutnya.
"Saat ini belum ada perhatian [dari pemerintah]. Tapi sudah banyak figur yang bersuara dan entah kapan itu, kami berharap itu segera bisa diimplementasikan karena industri musik meningkat dan memainkan peran dalam ekonomi kreatif," kata Rifan Kalbuadi.
"Dan mestinya secara ekonomi kreatif musisi mesti diperhatikan dan patut untuk diperhatikan, karena musisi [Indonesia] punya produk yang sebenarnya bisa banget bersaing." tutupnya.
Menjalani karier sebagai musisi independen sejak awal pada 2016 membuat Rifan Kalbuaditerbiasa mengurus semuanya sendiri, mulai dari membuat musik hingga terlibat dalam promosi albumnya.
Sejak menceburkan diri dalam industri musik pada 2015 dan merilis single debut pada 2016 bertajuk Pilihan Terindah, kemudian single Sendiri, dan album EP bertajuk Statis pada 2017.
Rifan kemudian memutuskan untuk berdiri sendiri mengurus musiknya dan melanjutkan petualangan dengan eksplorasi musik juga karakternya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, ia menelurkan karya baru, yaitu single Temporary Hours pada Maret 2020 dan 5207 pada Desember 2020. Semuanya, mulai dari menulis musik hingga produksi, ia lakukan sendiri.
"Capek? Enggak sih, seru-seru saja," kata Rifan kala berbincang dengan CNNIndonesia.com, jelang penghujung Desember 2020.
"Kadang overwhelmed, tapi alhamdulillah saya dikelilingi orang-orang yang punya latar keahlian masing-masing dan jadi tim yang kohesif dalam menciptakan produk yang setidaknya bisa bersaing di industri musik," lanjutnya.
"Pusing sih enggak, lelah iya. Tapi sepadan daripada enggak bisa menentukan sendiri. Bisa menavigasi diri kita sendiri itu memuaskan banget," kata musisi 25 tahun itu.
Keleluasaan dalam menentukan arah bermusik itu terlihat dari perubahan musik Rifan Kalbuadi sejak era single debut hingga 5207. Musik Rifan yang tadinya seperti pasar kebanyakan kini lebih eksploratif, niche, dan dengan kreasi lirik yang lebih sentimental.
Bukan hanya itu, Rifan juga memutuskan untuk lebih memperdalam penulisan lirik dalam bahasa Inggris atas nama kreativitas.
Tapi toh keputusan itu membuahkan hasil yang cukup manis. Lagu Temporary Hours yang dirilis pada Maret 2020 lalu mampu mengalahkan popularitas single utamanya dari album sebelumnya yang bertajuk Daraku.
Buka yang Baru
Di Spotify, Temporary Hours didengar lebih dari 276 ribu kali dan mengungguli lagu Daraku yang didengar 244 ribu kali. Ia juga tercatat memiliki 13 ribu pendengar setia rata-rata setiap bulannya, di samping 21 ribu penggemar yang mengikutinya di Instagram per Januari 2021.
Dengan modal puluhan ribu penggemar tersebut, Rifan sejauh ini masih percaya ia mampu "menavigasi" bisnis musiknya. Selain itu, pasar musik indie pun ia anggap terus berkembang.
"Pasar [musik] indie di Indonesia walaupun niche, tapi mereka juga punya sektor masing-masing dan semua orang memerankan perannya di sana. Tujuan saya adalah membuka sektor baru dana per-indie-an ini," katanya sembari tertawa.
"Indie juga ada yang hip-hop, ada yang folk, ada yang rock, mereka semua ada pos-posnya dan semua itu menciptakan ekosistem yang amat segar di Indonesia," lanjutnya.
"Menurut saya juga pasar musik independen di Indonesia mulai menaklukkan industri, tergantung cara pandangnya," kata Rifan.
"Semuanya soal perspektif dan itu cantiknya musik, kau bisa memilih jenis pasar dari pilihan yang luas banget, dari koplo hingga folk, dangdut hingga metal, banyak banget di Indonesia begitu pula di dunia,"
Rifan Kalbuadi punya pandangan tersendiri terkait kondisi industri musik Indonesia di halaman selanjutnya...
Petualangan Rifan Kalbuadi Jelajah Industri Musik Indonesia - 2
Rifan Kalbuadi percaya bahwa pasar musik yang semakin ramai dan beragam menjadi tantangan tersendiri baginya. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Apalagi, sebagai musisi yang juga berangkat dari media sosial macam YouTube seperti kebanyakan bintang era generasi kekinian, Rifan Kalbuadi percaya bahwa pasar musik yang semakin ramai dan beragam menjadi tantangan tersendiri baginya.
Hal itu pun ia sadari dengan baik. Rifan menyebut tiap hari dirinya menemukan musisi lahir dengan karya yang "wow, layak didengar dan sangat kompetitif dan tak cuma di domestik".
"Enggak ada pasar yang enggak kompetitif. Itu konsekuensi yang mesti diambil, ini soal seberapa berani saya ada di industri ini," katanya. "Tapi bukan berarti bisa santai juga," tambahnya lalu tertawa.
"Setiap hari harus berpikir bagaimana menjadi yang terbaik bagi masyarakat, bekerja keras mencari strategi terbaik untuk memaksimalkan apa yang dipunya, bagaimana menaruh musiknya di mana, cara meningkatkan pendengar, dan memberikan pesan dalam musik bagaimana caranya," katanya.
"Itu banyak banget pekerjaannya dan cukup strategis dan melelahkan. Tapi ya itu konsekuensinya," kata Rifan.
Namun ia bersyukur punya penggemar yang ia sebut amat dekat dengan dirinya karena ternyata, Rifan ikut nimbrung dalam grup media sosial bersama penggemarnya.
"Alhamdulillah masih ada penggemar," katanya sambil tertawa. "Mereka sangat antusias bikin komunitas untuk saling berbagi,"
"Saya suka tak ada jarak dengan mereka. Karena mereka juga yang membuat saya di sini sampai detik ini, memberikan semangat untuk bertahan di musik. Mereka berperan besar," lanjutnya.
Terlepas dari modal penggemar yang telah dimiliki serta niat yang masih tangguh mengarungi industri musik Indonesia dengan segala dinamisasi di dalamnya, Rifan mengakui juga mengharapkan kestabilan dalam perjalanan industri musik.
Rifan menilai, hal yang paling dibutuhkan dalam industri musik adalah "sistem yang kohesif dan pendidikan dasar hukum musik" yang dianggap perlu diketahui oleh seluruh musisi bahwasanya mereka memiliki sejumlah hak, seperti hak cipta, hak ekonomi hingga performing rights.
"Itu mesti diimplementasikan sebagai fondasi dan dasar, ketika kami bermusik, harus punya petunjuk dan etika. Saya rasa sistem yang rigid dan kohesif dengan orang yang kompeten dan bekerja sama dengan pemerintah melalui undang-undang yang memadai, bisa membantu kami," kata Rifan.
"Ya mudah-mudahan membantu, bukan membatasi. Karena ini penting dan amat dipandang sebelah mata, soal publishing, performing rights, production, crew rights, dan sebagainya. Ini perlu banget diperhatikan," lanjutnya.
"Saat ini belum ada perhatian [dari pemerintah]. Tapi sudah banyak figur yang bersuara dan entah kapan itu, kami berharap itu segera bisa diimplementasikan karena industri musik meningkat dan memainkan peran dalam ekonomi kreatif," kata Rifan Kalbuadi.
"Dan mestinya secara ekonomi kreatif musisi mesti diperhatikan dan patut untuk diperhatikan, karena musisi [Indonesia] punya produk yang sebenarnya bisa banget bersaing." tutupnya.