Mencari Pembuat Relief Sarinah, dari Yogyakarta hingga Soviet

Naely Himami, CNN Indonesia | Minggu, 31/01/2021 12:32 WIB
Ditemukan di 2020, relief di Sarinah masih meninggalkan misteri terkait pembuatnya. Para ahli memprediksi pemahat relief yang diduga dibuat di era Sukarno ini. Ditemukan di 2020, relief di Sarinah masih meninggalkan misteri terkait pembuatnya. Para ahli memprediksi pemahat relief yang diduga dibuat di era Sukarno ini. (Courtesy Kemendikbud)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekelompok pekerja proyek terperanjat saat melihat sebongkah batu dengan tonjolan berbentuk sosok lelaki, perempuan, serta hewan ketika sedang merenovasi Gedung Sarinah, Jakarta.

Seorang anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jakarta, Candiran Attahiyyat, lantas langsung bertolak ke Sarinah untuk melihat sendiri relief yang diduga dibuat di era Presiden Sukarno itu.

"Kondisinya secara visual masih bagus ya, cuma terimpit dengan mesin-mesin mekanik elektrik. Sebagian relief juga terlalu dekat menempel dinding. Renggangnya hanya setengah meter," ujar Candrian kepada CNNIndonesia.com.


Dalam paparan Candrian, relief di lantai paling bawah Sarinah itu dalam kondisi kurang diapresiasi. Artinya, pemilik gedung Sarinah tidak memiliki pemahaman yang mumpuni untuk mengurus relief tersebut.

"Nah, itu juga yang masih menjadi misteri. Memang ketika saya dan teman-teman ke sana melihat patung ini punya nilai yang tinggi, tetapi perlu dilacak siapa perupanya, dan kapan itu dibangun, dan kami mengajukan seorang ahli seni patung bernama Pak Asikin," ujar Candrian.

Belum tuntas mengurus proses pembersihan mesin-mesin di sekitar relief, Candrian menjumpai masalah baru. Ia dan tim kesulitan melacak pembuat relief tersebut. Hal itu dapat dilihat dari kondisinya yang berada di ruang mesin, dipisahkan dengan tembok penyekat. Ia bahkan terang-terangan menyebut relief itu menjadi korban vandalisme.

Asikin Hasan akhirnya datang meninjau ke Sarinah. Namun, ia juga tidak menemukan tanda apa pun di sekitar relief yang merujuk sosok si perupa. Namun, Asikin bisa mengantongi sejumlah petunjuk.

"Saya bilang relief itu sama dengan buatan seniman-seniman di Yogya, karena di masa-masa itu yang membuat patung atau relief seperti itu bermula dari Yogya," kata Asikin kepada CNNIndonesia.com.

Asikin sempat mengira relief itu merupakan karya pematung kepercayaan Sukarno, Edhi Sunarso. Ia lantas menghubungi kerabat Edhi dan beberapa keluarga seniman lain di Yogyakarta.

"Mereka berguru dari orang yang sama namanya Hendra Gunawan. Pak Edhi bagian dari mereka juga. Mereka itu menamakan dirinya sanggar pelukis rakyat. Tradisi mematung itu memang mereka yang mulai di Yogya," tutur Asikin.

Menteri BUMN Erick Thohir meninjau lokasi penemuan relief di gedung Sarinah, Jakarta, Kamis (14/1/2021). Relief tersebut akan direstorasi dan dipamerkan kepada publik saat pemugaran gedung Sarinah rampung. ANTARA FOTO/Dhemas ReviyantoTemuan relief di Sarinah. (Antara Foto/Dhemas Reviyanto)

Namun, Asikin kembali dibuat ragu. Pasalnya, relief itu tidak memiliki ciri yang sama dengan ukiran kelompok seniman tersebut.

Sebut saja relief karya mereka di Kemayoran yang tidak terlalu menonjolkan sosok-sosok di dalamnya. Relief di Sarinah sendiri justru memiliki pahatan yang sangat jelas dan berukuran lebih besar ketimbang relief di Kemayoran.

Askin tidak menyerah. Berbekal pengalamannya membantu pameran karya-karya koleksi Bung karno pada 2017, Asikin kembali membuka arsip-arsip lama yang tersimpan di tiga Istana Negara, yaitu Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.

Namun, pencarian itu masih belum membuahkan hasil. Begitu pula dengan pelacakan ke keluarga seniman di Yogyakarta, termasuk kerabat Haryadi S, Trubus, Rustamadji, dan Dullah.

"Semua sudah meninggal. Yang ada kan anak-anak mereka, dan keluarga ini tidak ada satupun yang yakin memastikan bapaknya ikut dalam pembuatan relief itu, karena mereka memang tidak punya buktinya. Tidak ada bukti tertulis," ujar Asikin.

"Biasanya kan relief ada nama pembuat di dekatnya gitu. Atau prasasti seperti yang di Kemayoran kita temukan juga. Kalau yang ini kita belum ada. Kita tidak boleh ngarang-ngarang juga kan dari mana," kata Asikin.

Relief Gedung SarinahMenteri BUMN, Erick Thohir, memantau temuan relief di Sarinah. (Humas BUMN)

Seorang arkeolog dari Institut Konservasi, Saiful Bakhri, sempat menduga relief itu dibuat oleh pematung Monumen Patung Pahlawan, yaitu seniman asal Rusia bernama Matvey Manizer dan Ossip Manizer, karena kemiripan bentuk petani.

Namun Asikin berpendapat, bentuk petani sangat umum, apalagi di masa pembangunan Sarinah, profesi itu memang dominan di kalangan masyarakat.

Sukarno dianggap ingin memberikan apresiasi kepada para petani, sesuai dengan tujuan awal pembangunan Sarinah.

Menurut Asikin, yang penting sekarang bukan menebak pembuat relief itu, tapi upaya pemaknaan dan pembukaan situs itu untuk umum agar dapat diapresiasi secara luas.

"Yang utama itu bagaimana kita memaknainya, melihat pematung di masa itu yang memiliki keterampilan yang cukup baik membuat patung. Itu yang lebih penting. Kalau soal nama itu nanti lambat laun lah kita masih bisa terus lacak. Yang penting itu maknanya buat publik dan dia menyemangati. Itu yang kita gali," kata Asikin.

(has/bac)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK