CERITA DI BALIK LAYAR

Cerita Irwan, Desainer Indonesia Pembuat Huruf Space Sweepers

CNN Indonesia | Selasa, 09/02/2021 19:40 WIB
Nama Irwan Cahya Kusuma melambung usai Space Sweepers tayang. Bukan karena jadi bintang, tapi Irwan membuat huruf untuk poster film Song Joong-ki itu. Ilustrasi. (Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama Irwan Cahya Kusuma melambung usai penayangan Space Sweepers di layanan streaming Netflix mulai 5 Februari lalu. Bukan karena jadi bintang, melainkan ia membuat huruf untuk poster film itu.

Kepada CNNIndonesia.com, Irwan menceritakan awal mula ia dapat terlibat dalam proyek film Korea yang dibintangi Song Joong-ki itu.

Sejatinya, Irwan bukan desainer font profesional. Ia bekerja sebagai desainer stiker untuk barang-barang otomotif dan mendirikan vendor jasa desain bernama Black Sheep Sticker.


Pemasukan Irwan menurun sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada Maret 2020. Pesanan sedikit menurun sehingga ia harus mencari pemasukan dari sumber lain untuk bertahan hidup.

"Karena pesanan menurun, saya jadi banyak waktu luang. Adik saya menyarankan untuk membuat font, kemudian diunggah ke berbagai marketplace untuk dijual," kata Irwan kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (9/2).

Tanpa pikir panjang, Irwan mulai berlatih membuat huruf. Ia juga bergabung dengan komunitas Belfont (belajar bikin font) agar mengenal banyak orang dan belajar cara menjual font lewat berbagai pasar, salah satunya Creative Market.

Pada April, ia berhasil membuat font pertama yang dinamai Swipe Race. Inspirasi desain ini datang dari berbagai hal yang berkaitan dengan otomotif.

"Dari bentuknya memang terbilang kaku, kemudian ada beberapa bagian yang tajam. Itu memang disengaja supaya terasa gaya otomotif dan racing, tapi di sisi lain ada sedikit kesan futuristik," kata Irwan.

Di bulan yang sama, font Swipe Race dibeli oleh sebuah perusahaan dari Amerika Serikat. Irwan sendiri sudah menuliskan daftar harga lisensi font yang disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah.

"Saat itu, mereka membeli lisensi broadcast dengan harga di atas Rp10 juta, tapi enggak sampai Rp20 juta. Kami juga enggak tahu secara spesifik untuk broadcast seperti apa," kata Irwan.

Beberapa lama berselang,Irwan sedang mencari film di kolom konten yang akan datang. Pria yang tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur, ini kaget ketika melihat font Swipe Race digunakan untuk poster film Space Sweepers.

Gif Rekomendasi Drama Korea (Drakor)

Irwan langsung menanyakan penggunaan font tersebut kepada perusahaan asal AS yang sempat membeli lisensi Swipe Race. Perusahaan itu mengonfirmasi bahwa lisensi Swipe Race mereka beli untuk film Space Sweepers.

"Saya enggak tahu ternyata untuk film besar. Saya yakin kalau kasih harga Rp30 juta untuk lisensi broadcast mereka tetap akan bayar. Biaya produksi film itu kan pasti besar sekali," kata Irwan sembari tertawa.

[Gambas:Youtube]

Selain Swipe Race, Irwan juga membuat tiga desain font lain untuk menambah pemasukan. Ia bersyukur huruf yang ia buat laku dan bisa menghasilkan meski tidak selalu banyak. Lisensi paling standar dijual seharga Rp200 ribu sampai Rp2 juta.

Lebih lanjut, ia menilai profesi desainer huruf bisa menjadi pekerjaan utama bila dilakukan dengan serius. Ia sendiri sudah merasakan pendapatan yang cukup dari penjualan huruf di pasar digital.

"Lumayan untuk memenuhi kebutuhan bulanan, seperti listrik dan internet. Saya juga berencana bikin font baru, tetapi sekarang kerjaan masih padat. Ada pesanan desain stiker untuk motocross," kata Irwan.

(adp/has/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK