Review Film: I Care a Lot

Naely Himami, CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 18:45 WIB
Film I Care a Lot menyajikan kekejaman di dunia bisnis panti jompo yang pragmatis, penuh tipu daya di dalamnya. Review film I Care a Lot. (dok. Netflix via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Orang-orang mungkin akan berpikir positif membaca judul film I Care a Lot. Namun, cerita yang disajikan bertolak belakang dari judul.

Ini bukan film keluarga. Tak ada kasih sayang di sana, apalagi percintaan.

Sebaliknya, film ini menyajikan kekejaman di dunia bisnis yang pragmatis. I Care a Lot menggambarkan tipu daya penggelapan dana hingga penipuan berkedok layanan jaminan hari tua dengan korban para lanjut usia (lansia) kaya raya.


Cerita 'brutal' ini mengusik hati saya. Sebagai orang timur, saya memiliki pola pikir bahwa orang tua harus dijaga dan disayang bukan untuk ditelantarkan di panti jompo. Jangan sampai di sisa waktunya mereka malah tersiksa bersama orang tak dikenal.

Gambaran kekhawatiran ini mungkin yang dirasakan oleh Feldstrom (Macon Blair) saat mengetahui ibunya menjadi penghuni panti jompo tanpa seizinnya. Tak hanya itu, harta orang tuanya juga dikuras habis oleh Marla Grayson (Rosamund Pike), pemilik perusahaan Grayson Guardianship yang mengaku sebagai wali sah ibunya.

Betul sekali. Alih-alih membantu kliennya untuk mendapatkan kehidupan yang layak di hari tua, Marla dan rekannya, Fran (Eiza González) malah menggunakan uang kliennya untuk kepentingan pribadi dengan alasan "tugas menjaga". Mereka bahkan tak sungkan menjual aset dan barang berharga tanpa persetujuan kliennya.

Bagi yang memiliki orang tua, terlebih yang sudah memasuki fase lansia, tentu sangat tidak nyaman melihat Rosamund Pike beraksi bak pencuri berkedok "malaikat".

Sang sutradara J Blakeson bahkan tak tanggung-tanggung mempertontonkan banyak scene dimana Rosamund Pike bersikap seolah-olah bersimpati terhadap kliennya. Seperti ketika ia datang berkunjung, menanyakan kabar mereka hingga menjanjikan kenyamanan

"Mereka punya semua rekam medis dan semua resep obatmu. Jangan cemas. Semua akan diurus. Jika kau membutuhkanku kapan saja, siang atau malam, hubungi aku," kata Marla kepada Jennifer Peterson (Dianne West) yakni klien barunya yang kaya raya.

Meski begitu, sikap sok baik hati tersebut hanya kebongongan. Tak ubahnya omongan agen pelindung yang penuh dengan janji manis tapi aslinya hanya bualan semata.

I Care A LotReview film I Care a Lot. (dok. Netflix via IMDb)

Cerita tentang perampokan berkedok malaikat ini rupanya bukan fiksi semata. Dalam sebuah wawancara bersama Harpers Bazaar pada Maret lalu, J Blakeson mengatakan cerita orang-orang seperti Marla Grayson ada di dunia nyata.

"Konsep film berawal ketika saya melihat berita tentang kehidupan nyata seorang predator berkedok agen pelindung yang mempermainkan sistem dan mengeksploitasi lingkungan mereka," ujar Blakeson dikutip dari Harpersbazaar.

Semakin ditelusuri, semakin banyak fakta mengerikan yang ia temukan. Sebut saja praktek agen pelindung yang memiliki izin kerja legal, tapi justru digunakan untuk menipu aset klien mereka demi keuntungan sendiri.

"Saya menelusuri berita ini di Google sambil membaca banyak berita dan saya merasa ngeri tentang hal-hal buruk yang dilakukan oleh begitu banyak dari mereka, terutama mengingat sebagian besar tindakan mereka berada dalam celah hukum," ujarnya.

Karakter Marla Grayson merupakan perwujudan dari ide tentang American Dream, yakni tentang ambisi seseorang untuk bertahan hidup. Meski demikian, ia menjadikan orang-orang jompo sebagai sasarannya.

Lebih lanjut Blakeson mengatakan bahwa karakter ini terinspirasi dari seorang warga bernama April Parks yang ditunjuk sebagai wali sah sejumlah lansia. Ia dijatuhi hukuman penjara 16 hingga 40 tahun pada 2019 karena terbukti bersalah atas penyalahgunaan aset kliennya selama bertahun-tahun.

Sebagai sebuah film, J Blakeson mengemas cerita tersebut dengan tambahan beberapa adegan pertarungan hingga tembak-tembakan.

Marla yang gelap mata untuk menguasai aset bernilai miliaran dolar Amerika Serikat bahkan rela berbuat nekat untuk menghabisi nyawa ahli waris sang klien yang bernama Roman Lunyov (Peter Dinklage).

Meski hanya dijadikan selipan menjelang sepertiga film berjalan cara ini cukup ampuh membuat saya betah untuk menyaksikan film ini hingga akhir.

Salah satu bagian yang berhasil membuat saya takjub dengan totalitas akting Rosamund Pike yakni saat ia berusaha menyelamatkan diri saat terjebak dalam mobil yang hampir tenggelam.

Sayangnya, cara penyelesaian konflik yang ditampilkan dalam film I Care A Lot terbilang cukup standar dan mudah ditebak.

Sang sutradara J Blakeson memutuskan untuk mengubah citra sang tokoh utama dari sosok penjahat tak berhati nurani dan tidak memiliki rasa empati sedikitpun, menjadi seorang CEO perusahaan agen perlindungan lansia yang sukses.

Namun, secara keseluruhan film ini menginspirasi saya memahami tentang realita kelam yang bakal dihadapi oleh para lansia. Mereka rupanya sangat berpotensi menjadi korban eksploitasi keuangan dan penipuan.

Kepiawaian Rosamund Pike berperan sebagai "malaikat gadungan" bernama Marla Grayson dalam film ini juga patut diacungi jempol. Tak heran jika ia berhasil membawa pulang piala Golden Globe tahun ini untuk kategori Aktris Terbaik kategori Musikal atau Komedi lewat peran tersebut.

Film I Care A Lot masih dapat disaksikan di Netflix.

(bac)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK