Review Serial: The Falcon and the Winter Soldier

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Rabu, 05/05/2021 19:35 WIB
Di samping perpanjangan cerita Marvel Cinematic Universe, serial The Falcon and the Winter Soldier menyuguhkan sajian perlawanan pada rasisme. Di samping perpanjangan cerita Marvel Cinematic Universe, serial The Falcon and the Winter Soldier menyuguhkan sajian perlawanan pada rasisme. (Foto: Tangkapan Layar Youtube @marvelentertainment)
Jakarta, CNN Indonesia --

Artikel ini mengandung beberan/spoiler

Bisa saya katakan dengan yakin bahwa serial The Falcon and the Winter Soldier adalah tayangan yang sangat berbeda dari tayangan Marvel Cinematic Universe (MCU) lain. Bukan dari segi cerita, melainkan dari isu yang diangkat dan narasi yang dibangun.

Bila diperhatikan, cerita The Falcon and the Winter Soldier masih sangat mengekor pada seri film Captain America, mengisahkan penyalahgunaan serum super soldier oleh suatu kelompok bernama Flag Smashers yang dipimpin Karli Morgenthau.


Sam Wilson alias Falcon dan Bucky Barnes alias Winter Soldier kaget ketika mengetahui masalah itu. Mengingat, serum yang digunakan Steve Rogers hingga menjadi Captain America dan Bucky hingga menjadi Winter Soldier itu sudah lenyap.

Mereka berdua akhirnya bekerja sama untuk mencari tahu dan menghentikan aksi-aksi Flag Smashers. Kerja sama mereka tidak berjalan dengan baik karena Bucky geram dengan keputusan Sam menyerahkan tameng pemberian Steve ke pemerintah.

Cerita tersebut terasa biasa saja dan sangat bergantung dengan film seri Captain America. Malcolm Spellman yang berperan sebagai kreator serial ini seakan tidak bisa membuat cerita yang lebih baik dan tidak bergantung dengan Captain America.

Serial The Falcon and the Winter SoldierSerial The Falcon and the Winter Soldier (Foto: Marvel Studios)

Bahkan, episode-episode awal serial ini sangat membosankan karena alur cerita dan adegan yang bertele-tele, salah satunya ketika Sam menjalankan misi bersama Angkatan Udara Amerika Serikat (AS).

Sejumlah adegan pada misi tersebut terasa kurang penting, salah satunya saat Sam dua kali mengintip ke kokpit pesawat yang dia intai.

Kekurangan juga terasa pada eksplorasi karakter Bucky yang 'nanggung' dan terkesan seadanya. Perkembangan karakter Bucky yang kembali menjadi manusia dengan pikiran yang sehat sangat sedikit.

Namun, kekurangan serial ini terselamatkan dengan isu rasial yang diangkat dan berhasil dikemas dengan baik. Secara perlahan isu yang cukup berat menjadi inti cerita setelah Sam memberikan tameng Captain America ke pemerintah.

Sepanjang serial diperlihatkan bahwa Sam menyadari keputusannya tidak tepat, bahkan ia sendiri mengaku di depan Bucky. Namun di sisi lain, ia merasa tidak bisa melakukan banyak hal sebagai orang AS berkulit hitam.

Terlebih, bila ia harus menjadi pengganti Steve sebagai Captain America yang menjadi simbol dan representasi negara sembari membawa tameng dengan warna dan desain serupa bendera AS.

Captain America dalam The Falcon and The Winter SoldierCaptain America dalam The Falcon and The Winter Soldier (Foto: Marvel Studios via Imdb)

Selain menjadi inti cerita, pembahasan isu rasial juga menjadi kritik terhadap berbagai kasus rasial belakangan ini, terutama di AS, di mana orang kulit hitam dipandang sebelah mata dan diperlakukan seenaknya, berbeda dengan orang kulit putih.

Kritik semakin keras ketika muncul karakter bernama Isaiah Baradley, tentara kulit hitam yang menerima serum Super Soldier. Alih-alih menjadi simbol dan representasi negara seperti Captain America, ia justru dipenjara selama tiga dekade untuk menjadi sampel percobaan.

Apa yang dialami Isaiah benar-benar terjadi meski tidak sama. Setidaknya kisah kelam anggota militer AS dijelaskan dalam buku We Were There: Voices of African American Veterans, from World War II to the War in Iraq karya Yvonne Latty.

Bersamaan dengan cerita yang terus berjalan, serial ini membangun narasi bahwa rasisme masih terjadi sampai sekarang dan orang kulit hitam yang diperlakukan dengan rasis tidak seharusnya diam. Mereka harus bertindak dengan bijak dan tepat.

Seperti yang dilakukan Sam ketika bertekad bulat dan percaya diri untuk menjadi Captain America selanjutnya. Adegan itu menutup serial dengan isu yang berat ini dengan bahagia, seakan ingin menunjukkan bahwa warga negara AS berkulit hitam juga bisa menjadi simbol negara.

Setelah menonton The Falcon and The Winter Soldier sampai habis, saya menangkap bahwa titik berat serial ini bukan pada cerita, melainkan pada isu rasial dan narasi keragaman serta inklusi.

(adp/fjr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK